The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]

The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]
Chapter.67 Bara api menjadi arang


__ADS_3


Ting tung.


Bel berbunyi dan kemudian Riana pun langsung pergi untuk membukakan pintu.


“Bu Sofia,” ujar Riana setelah membuka pintu.


“Bagaimana dengan Airin? Apakah dia sudah lebih baik?” suara Bu Sofia terdengar menanyakan keadaanku kepada Riana.


“Syukurlah dia baik-baik saja Bu, silahkan masuk,” ucap Riana menjawab pertanyaan dari Bu Sofia dan kemudian dia pun mempersilahkan Bu Sofia untuk masuk ke dalam kamar.


Bu Sofia tersenyum kepadaku dan kemudian dia pun duduk di sampingku. “Kamu adalah anak yang terpilih,” ucap Bu Sofia kepadaku sehingga membuatku bingung.


“Apa maksudnya Bu?” aku bertanya kepadanya dengan perasaan bingung. Kemudian Ibu Sofia pun menjelaskan apa maksud dari perkataannya tadi.


“Kamu adalah anak yang terpilih untuk berhadapan langsung dengan mereka, makhluk petaka yang mendiami wilayah Alas Sirno ini,”


Aku sedikit kaget mendengar penjelasan itu. “Kenapa harus aku Bu?” tanyaku dengan ragu dan kemudian Ibu Sofia pun tersenyum dan bilang kepadaku bahwa dia juga tidak tahu kenapa harus aku. Intinya adalah ini adalah suatu amanah yang mau tidak mau harus aku hadapi.


“Baiklah kalau begitu Bu, apa rencana ibu sekarang?” aku bertanya kepadanya setelah aku merasa cukup tenang dan sedikit berani untuk menerima apa yang akan kuhadapi.


“Mungkin kita harus menghentikan niat untuk bersenang-senang di villa merah ini sejenak, karena apa yang telah di alami oleh Airin tadi adalah pertanda dari mereka bahwa petaka akan segera datang menghampiri kita. Kita harus menyelesaikan petaka ini dengan segera!” jawab Bu Sofia dengan serius dan kemudian dia pun pergi meninggalkan kamar kami.


“Sebenarnya aku belum siap untuk kembali menghadapi makhluk dan bahkan alam gaib,” gumamku khawatir dengan keadaan yang menegangkan ini.

__ADS_1


“Rin kamu pasti bisa kok!” Friska menepuk pundakku untuk menyemangatiku. Kemudian Riana pun menyusul Friska untuk menyemangatiku.


Aku memberikan senyumku untuk menjawab dukungan yang telah mereka berikan.


Ting tung.


Suara bel pintu kamar kami pun berbunyi, kami langsung menghampiri pintu bersama-sama untuk melihat siapakah yang menekan bellnya.


“Ayo buruan turun! Kata Bu Sofia kita harus segera berkumpul di kolam renang!” seru Kak Amara dengan terburu-buru. Kemudian kami pun langsung saja keluar dari kamar dan langsung turun ke bawah, menuju kolam renang sesuai apa yang telah di perintahkan oleh Kak Amara tadi.


Untuk menuju ke lift, kami harus berlari di antara pintu-pintu kamar yang sebagian besar terdapat mangkuk emas berisi dupa yang di letakkan di depannya.


Sebelumnya dupa itu tidak ada di depan pintu, mungkin dupa itu baru saja diletakkan oleh salah satu dari para pengasuh perempuan untuk menolak bala.


Ketika kami sampai di lantai bawah, kami sempat terdiam sejenak melihat banyaknya roh jahat yang berkumpul di depan pintu masuk villa. Mereka terlihat berusaha untuk memasuki Villa Merah ini tetapi tidak bisa, karena di sisi lain kami juga melihat dinding gaib transparan yang mungkin akan melindungi seisi villa ini. Soalnya para roh jahat itu benar-benar tertahan oleh dinding gaib tersebut.


“Hei kalian! Kok malah diam di sini sih? Ayo cepat berkumpul di kolam renang!” seru Kak Amara yang baru saja keluar dari dalam lift dan kemudian dengan reflek kami pun langsung pergi mengikutinya menuju kolam renang.


“Ayo cepat berkumpul bersama yang lainnya! Duduklah di samping kolam renang kecuali Airin!” ucap Bu Sofia ketika kami datang menghampiri kolam renang.


Teman-temanku pun langsung duduk mengelilingi kolam renang sesuai apa yang telah diperintahkan oleh Ibu Sofia tadi. Tak terkecuali Kak Amara, dia juga ikut duduk bersama yang lainnya. Seolah mengerti apa yang mereka lakukan, mereka pun langsung memejamkan mata dan saling berpegangan tangan satu sama lain, tak hanya itu mereka juga membaca mantra dengan inisiatif.


“Apakah mereka memang sudah sering melakukan ritual seperti ini?” gumamku pada saat melihat teman-temanku.


Aku berdiri terdiam di tempatku sambil melihat ke sekeliling ruangan kolam renang ini. Aku berpikir mengapa kolam renang penuh dengan bunga mawar merah yang mengambang dan mengapa banyak dupa di mana-mana. Bagaimana caranya mereka mempersiapkan ini dengan cepat.

__ADS_1


“Airin, peganglah mangkuk ini,” Ibu Sofia datang menghampiriku dan memberikan mangkuk emas yang berisi bara api yang hidup dan mengeluarkan asap. Aku meraihnya dan kemudian Ibu Sofia pun menyuruhku untuk berdiri mendekati tepi kolam renang yang sebelumnya Kak Amara bilang tepi itu sengaja dikosongkan oleh Ibu Sofia.


Dalam pikiranku tersirat rasa trauma ketika Ibu Sofia menyuruhku untuk pergi ke tepi kolam renang. Karena aku tahu kalau itu adalah ritual yang akan membawaku ke alam gaib untuk menyelesaikan petaka yang ada di villa ini. Kemudian aku pun mencoba untuk menghapus trauma itu dan langsung mengikuti arahan dari Bu Sofia.


“Airin!”


Ibu Sofia memanggilku pada saat aku sudah sampai di tepi kolam renang dan dengan reflek aku pun langsung berbalik badan untuk melihatnya.


“Aaaaaa!”


Byuur.


Aku berteriak kaget karena tiba-tiba saja ada yang menarikku ke dalam kolam renang dengan lincah, sehingga membuat air kolam keluar dan sedikit bergelombang.


Mangkuk emas berisi bara api yang kupegang tadi ikut jatuh ke kolam, dan pada saat bara api itu menyentuh air dia pun merubah menjadi arang hitam. Aku semakin terbawa ke dasar kolam sehingga dengan tidak sengaja aku pun menyadari bahwa alam pun mulai berubah bersamaan dengan berubahnya bara api menjadi arang.


Kemudian aku berusaha untuk melepaskan cengkraman sosok yang membawaku masuk kedalam kolam dengan perlahan untuk berenang kembali kepermukaan.


Aku berhasil melepaskan cengkamannya dengan mudah dan aku juga sempat berpikir untuk melihatnya. Namun pada saat aku memberanikan diri untuk melihatnya agar aku bisa mengenalinya, dia hanya terlihat seperti bayangan transparan. Aku hanya bisa melihat pola tubuhnya. Aku pun akhirnya berenang ke atas permukaan untuk mengambil napas segar dunia gaib.


“Em, bau darah!” ucap ketika aku sudah sampai di permukaan. Setelah itu aku langsung keluar dari kolam.


“Tempat ini lagi,” ucapku sambil menahan rasa takut. Aku kembali masuk ke alam yang di mana aku sempat di kejar oleh sosok bungkuk yang menyeramkan. Kini aku merasa bingung harus melakukan apa untuk menyelesaikan petaka ini.


“Apakah aku harus menemui si sosok bungkuk yang menyeramkan itu dan meminta agar aku bisa masuk ke masa silamnya untuk menyelesaikan semua masalah di Villa Merah dan Alas Sirno ini?” pikirku dalam keadaan bingung.

__ADS_1


“Kamu benar anak muda!” tiba-tiba suara menyeramkan menjawab pikiranku dengan perkataan dan setelah aku melihatnya dia pun tertawa dan berlari menghampiriku dengan secepat kilat. Dia masuk ke dalam tubuhku, seketika aku pun langsung masuk ke dalam alamnya di masa silam.


Bersambung


__ADS_2