![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
CREET!! CREET!!
Aku bangun dari tidurku karena mendengar suara salah satu lampu ruangan ini yang tampaknya mengalami korsleting.
Aku turun dari ranjang untuk menghampiri lampu-lampu yang berkedap-kedip, aku berusaha untuk mencari sumber masalah pada lampu itu agar aku bisa menghentikan suara bising yang dikeluarkan oleh lampu itu. Aku naik ke ranjang atas agar aku bisa lebih mudah untuk menjangkau lampu itu.
“Rin, ada apa?” Riana pun ikut terbangun dari tidurnya.
“Aku sedang berusaha menghentikan suara bising dari lampu ini Riana,” jawabku sambil menatap tajam ke arah lampu.
“Huh! Ini kan alam gaib Rin, apa pun yang terjadi di sini semuanya hanyalah ilusi kita tidak bisa membuat seolah alam ini seperti alam nyata yang kita tempati,” ujar Riana dengan suara lemas, dia mengantuk.
“Aku hanya ingin menghentikan suara bising dari lampu ini Riana!” jawabku sambil mengotak-atik lampu.
CREET!! Door!!
Aku tersetrum lampu itu dan kemudian lampu itu pun meledak sehingga membuatku terjatuh dari ranjang atas.
“Ha ha ha, makanya jangan keras kepala!” ucap Riana dengan usil dan kemudian dia pun terdengar turun dari ranjangnya, mungkin dia akan menghampiriku. Sedangkan aku terbaring lemah di atas lantai, aku merasa sangat terkejut ketika aku tersetrum tadi.
“Ayo aku bantu kamu bangkit!” ucap Riana sambil mengulurkan tangan kanannya.
__ADS_1
Aku meraih tangan kanannya dan setelah aku menggenggam tangan kanannya, aku pun mulai mencoba untuk bangkit dengan perlahan.
“Huh!” aku menghembuskan napas lega ketika aku berhasil bangkit dan berdiri dengan tegak.
Aku merasa sedikit pusing, aku pun menatap ke lantai. Kemudian setelah aku merasa sudah tidak pusing lagi, aku melihat ke arah Riana yang menatapku dengan bingung.
“Apa yang kamu lihat Riana? Ada apa dengan diriku? Mengapa kamu menatapku seperti itu?” tanyaku kepadanya.
“Mengapa kamu tidak gosong? Dan mengapa rambutmu tidak berantakan? Kan kamu baru tersetrum!” Riana menjawab, bertanya mengapa aku tidak gosong dan mengapa rambutku tidak berantakan, padahal aku baru saja tersetrum.
“Ha ha ha ha…” aku pun tertawa lepas.
“Apa yang kalian ketawa, kan?” Varel pun bangun dari tidurnya karena dia mendengar suara tawa kami yang cukup berisik. Aku dan Riana terdiam dan menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan Varel.
CREET!
Tiba-tiba lampu yang lainnya mati dengan sendirinya.
“Aaaa!” aku dan Riana teriak karena suara korslet yang di keluarkan oleh lampu itu membuat kami terkejut.
“Aaaa!” Riana kembali teriak dan kali ini rasanya dia seperti menjauh dariku dengan cepat.
__ADS_1
“Riana!” aku memanggilnya dengan perasaan panik.
CREET!
Lampu pun kembali hidup dan menerangi ruangan ini.
“Hi Hi Hi..” suara tawa menyeramkan terdengar dari segala arah dan membuatku melihat ke sekeliling.
“Airin!” seru Varel dengan kaget ketika dia melihat sekelilingnya ada iblis-iblis yang dari ujung kepalanya hingga ujung kakinya ditutupi oleh kain putih.
Mereka duduk di mengisi seluruh ranjang yang ada di ruangan ini. Varel pun menghampiriku dan memelukku dengan maksud melindungiku.
“Hi Hi Hi…” suara tawa menyeramkan kembali terdengar, kali ini suara itu berasal dari langit-langit. Dengan spontan suara itu membuat kami melihat ke arah sumber suara itu.
“Aaaaa…” aku hanya bisa teriak pada saat aku melihat ke langit-langit.
Aku melihat Riana menempel di langit-langit dan di belakangnya ada sosok wanita memakai baju putih dan rambut putih yang sangat panjang.
Kedua telapak tangan sosok itu menutupi mata Riana dan aku juga melihat kuku sosok itu mulai merambat menutup kepala Riana. Kukunya merambat seperti taman menjalar yang hendak menutup suatu benda.
Bersambung
__ADS_1