![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
“Aku suka permainan ini,” ucap si manusia iblis sambil melayang dan mencari tumbalnya dari satu tempat ke tempat yang lainnya.
“Hemmm. “
“Aku mencium aroma Kematian dua manusia yang akan menjadi tumbalku,” ucap si manusia iblis itu setelah dia berada dekat dengan mangsanya yang ke enam dan ke tujuan, suaranya dapat kami dengar dari alat perekam suara yang terletak di dekat CCTV, pengawas monitor yang memberitahu kami.
Si manusia iblis itu telah mengambil nyawa Eyang Darmo, nyawa dua anak sekolah dasar dari kalangan anak laki-laki dan dua anak sekolah menengah pertama yang berasal dari kalangan anak laki-laki yayasan Rumah Batin. Aku bersama Friska, Dara, dan para staf villa ini mengetahui itu dari monitor CCTV Villa Merah ini.
Burr...
Kami melihat tangan si manusia iblis itu membuat tembok yang sebuah ruangan hancur, dan di situ juga si manusia iblis itu mendapatkan kedua tumbalnya yang sudah dia prediksi sebelumnya. Manusia iblis itu menangkap Alex dan Bagas dengan tangannya yang bisa memanjang, si manusia iblis itu mencengkeram leher kedua temanku tersebut dan kemudian tangannya pun kembali seperti semula.
“Aaaa…”
Manusia iblis itu membuka mulutnya dan kemudian terlihat energi hitam keluar dari dalam mulut kedua temanku dan berpindah ke dalam mulut si manusia iblis itu. Energi itu terlihat seperti asap yang berwarna merah tua.
Setelah manusia iblis itu menghisap habis energi merah tua tersebut dari tubuh kedua temanku, dia pun menjatuhkan kedua temanku yang sudah tidak bernyawa dan kemudian dia pun tambah membesar dan tinggi bahkan tambah menjadi suatu sosok yang paling menyeramkan bagiku. Rupanya berubah menjadi semakin buruk.
Menyaksikan kejadian itu kami hanya bisa terdiam dan ketakutan. Aku, Friska, dan Dara sebagai teman dari korban-korban tumbal si manusia iblis itu pasti sangat merasa hancur ketika melihat melalui monitor CCTV. Kami merasa sangat hancur ketika melihat nyawa para korban tumbalnya di ambil oleh si manusia iblis itu sendiri.
Rasa kehilangan, rasa khawatir, rasa ketakutan dan rasa ingin marah. Itu lah yang ku rasakan ketika melihat kejadian menyeramkan ini melalui Monitor. Begitu juga dengan para staf villa ini, mereka juga histeris dan bahkan mereka tidak mau melihat ke arah monitor CCTV sedikit pun, mereka terlihat sangat depresi.
“Ha ha ha…”
Manusia iblis itu kembali tertawa dan kemudian dia pun kembali berkeliaran untuk mencari mangsa-mangsa selanjutnya untuk di jadikan tumbal agar dia bisa mati dan pergi dari muka bumi ini.
“Permisi,” ucapku kepada staf yang mengawasi monitor CCTV. Aku mengambil alih karena aku ingin mengetahui keberadaan teman-temanku yang lainnya dan juga para pengasuh yang lainnya.
__ADS_1
Aku harus menyelamatkan mereka, aku tidak mau ada korban jiwa lagi. Harus memikirkan cara untuk memusnahkan manusia berjiwa iblis itu tanpa tiga belas tumbal dan juga tanpa menerima tawaran atas warisan ilmu hitam yang ingin dia turunkan kepadaku.
“Aula pusat, Riana, dan Gita ada di sana!” seruku setelah beberapa saat aku memeriksa kebenaran yang lainnya melalui monitor CCTV, aku melihat Riana dan Gita bersembunyi di balik podium aula pusat Villa Merah ini. Mereka sangat merasa ketakutan.
“Aku harus menyelamatkan mereka,” ujarku dengan penuh ambisi dan kemudian aku pun langsung berdiri dan hendak berlari keluar dari basement ini tetapi para staf dan juga Dara menahan tindakanku.
“Tetaplah di sini Rin! Tidak ada yang bisa selamat darinya, Eyang Darmo pun dibuat lenyap olehnya. Eyang Darmo juga meminta kita untuk selamatkan diri masing-masing karena itu adalah satu satunya jalan untuk menyelamatkan hidup kita masing-masing,” ucap Friska menasihatiku.
“Benar Kak, Kakak harus tetap di sini!” sambung Dara untuk membuatku pasrah dan tetap diam di sini.
Namun mereka tidak bisa menahan diriku aku bersikeras ingin menyelamatkan yang lainnya. Mereka masih menahanku dan terus membujukku untuk tetap di sini, tetapi aku masih bersikeras ingin menyelamatkan yang lainnya.
“Tidak ada lagi tumbal baginya! Kita harus mencari jalan lain untuk memusnahkan Manusia berjiwa iblis itu! Kita pasti bisa!” ucapku dengan kesal dan kemudian para staf villa pun melepaskanku, karena mungkin mereka kewalahan menahanku yang terus memberontak.
“Maaf semuanya, aku harus pergi untuk menyelamatkan yang lainnya,” ucapku ketika para staf sudah melepaskanku.
“Kamu tidak boleh pergi sendiri! Aku berasal dari yayasan Rumah Batin juga, berarti aku juga harus menyelamatkan mereka," ucap Friska kepadaku sambil menahan sakit di badannya.
“Iya Kak! Kami akan pergi bersama Kakak untuk menyelamatkan yang lainnya,” sambung Dara dengan tegas.
“Maaf, kalian tidak bisa ikut,” jawabku dengan ketus dan kemudian aku kembali berbalik badan untuk melanjutkan langkah keluar dari basement ini. Namun, Dara kembali menahanku.
“Kenapa tidak bisa Kak?” tanya Dara kepadaku.
Lalu aku pun menjawab. “Ada yang kalian tidak ketahui tentang Manusia berjiwa iblis itu,” jawabku dengan tegas dan dia mundur karena aku membentaknya. “Baik, kalian berdua harus tetap di sini! Mbak, Mas, saya titip mereka,” ucapku sebelum aku pergi meninggalkan basement.
“Agar dapat sampai di aula dengan cepat, kamu bisa lewat tangga yang berwarna biru,” ucap salah satu staf dan aku pun berlari meninggalkan ruang monitor dan mencari tangga yang berwarna biru.
__ADS_1
Kemudian aku sudah sampai di tangga yang telah diucapkan oleh salah satu staf tadi. Akhirnya aku menemukan tangga biru dan letak tangga biru ini adalah enam meter dari tangga yang kami lewati tadi.
“Kak Airin!!”
Baru saja aku ingin keluar dari basement ini, tetapi si Dara kembali memanggilku dan kemudian dia pun berlari menghampiriku. Aku jadi merasa kesal dengannya dan aku berjanji akan memarahinya ketika dia sampai di dekatku. Dia terus berlari dengan cepat sehingga akhirnya dia pun sampai di dekatku. Aku sudah bersiap untuk memarahinya.
“Kak ini Handy Talkie, aku memintanya dan Kak Farhan, si pengawas monitor. Kami akan mengawasi Kakak dari kehadiran Manusia berjiwa iblis itu melalui monitor CCTV. Kakak akan mendengar arahan kami melalui Handy Talkie ini,” ucap Dara kepadaku dengan ngos-ngosan, sepertinya dia lelah mengejarku. Di dalam ucapannya itu dia seperti memberikan semangat kepadaku.
Tadinya aku berniat untuk memarahinya, karena kukira dia akan menghalangiku untuk menyelamatkan yang lainnya. Tak disangka, ternyata dia memberikanku alat komunikasi agar aku bisa menghindari si iblis itu lewat arahan mereka.
“Terima kasih Dara,” ucapku sambil menerimanya dan kemudian aku pun mengantongi Handy Talkie yang diberikannya. Aku memeluknya.
“Sama-sama Kak, Kakak hati-hati ya!” jwabnya sembari mengingatkanku untuk berhati-hati.
“Iya, Kakak pergi dulu ya,” ucapku melepaskan pelukan, dan kemudian aku pun bersiap untuk keluar dari zona nyaman dan menyelamatkan yang lainnya.
“Hati-hati Kak!” ucap Dara menyemangatiku.
“Iya Dara! Cepatlah kembali dan berkumpul bersama mereka!” jawabku sambil memanjat tangga biru menuju aula pusat Villa Merah.
Bersambung........
Apa itu Handy Talkie?
Handy Talkie adalah alat komunikasi yang biasa digunakan oleh polisi dan pihak pihak tertentu.
__ADS_1
kebanyakan dari kita sudah tau alat komunikasi ini tetapi banyak juga yang belum tau namanya.