The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]

The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]
Chapter.22 i love you Tom


__ADS_3

Mungkin seharian sudah aku tidur dan berdiam diri di alam mimpi. Aku bangun di pukul 09:30 pagi, temanku yang lainnya sudah berangkat ke sekolah dan kini aku hanya sendiri di kamar.


Aku mondar-mandir mencari kegiatan agar aku tidak merasa bosan sendiri di kamar.


Krek.


Aku membuka pintu lemari pakaian dan mengambil beberapa novel koleksiku dan membawanya ke atas kasur. Aku memilih-milih buku yang akan kubaca hingga akhirnya aku menemukan buku harian yang masih di kemas dalam kemasan plastik bening.


“Ini buku apa ya?” aku mencoba mengingat buku ini.


“Oh iya ini kan buku harian yang dibelikan Kak Adit untukku,” aku pun mengingat buku ini, ini adalah buku harian yang di belikan Kak Adit untukku pada saat kami berada di bandara.


Srek…


Aku menyobek bungkus buku itu dan kemudian aku berpikir untuk menuliskan keluh kesah harianku di dalam buku harian ini.


Bur...


Tiba-tiba suara hujan turun dengan derasnya mengalihkan pikiranku yang tadinya hendak menuliskan keluh kesahku di dalam buku harian.


Aku turun dari kasur dan berjalan mendekati jendela kaca, melihat tetesan hujan yang mengalir di kaca bening jendela.


“Hai Airin!” suara wanita terdengar tidak terlalu asing dari balik badanku.


“Belia!” aku tersenyum dan berlari mendekatinya, dia ternyata adalah Belia. Belia adalah sosok hantu yang baik ketiga kutemui.


“Ke mana saja kamu selama ini?” tanyaku sambil melepaskan rindu dengan cara memeluknya.


“Eyang Darmo melarang kami untuk bertemu denganmu sebelum mata batinmu dapat kamu kendalikan,” jawab Belia.


“Di mana Tom? Apakah dia juga ikut bersamamu?” tanyaku kepadanya, karena aku sangat merindukan sosok Tom yang usil dan humoris.


Kreek.

__ADS_1


Tiba-tiba pintu lemari pakaianku terbuka dengan sendirinya.


“Tom!” aku berlari menghampirinya. Dia muncul di dalam lemari pakaianku. Dia muncul di antara baju-baju yang kugantung.


“I Miss you Tom,” aku menariknya keluar dari dalam lemari pakaian dan kemudian aku memeluknya dengan erat, bahkan mungkin karena aku sangat merindukannya, aku menangis di pelukannya.


“Saya juga,” jawab Tom sambil tersenyum.


“Mari kita duduk bersama,” aku mengajak Tom untuk duduk bersama di atas kasur.


“Ada apa gerangan kalian bertemu denganku?” tanyaku sambil memasang raut wajah yang penasaran.


“Gerangan kami datang ke sini hanya ingin melepaskan rindu padamu Rin,” jawab Belia sambil tersenyum.


Krek.


Pintu kamarku terbuka, kini Kak Amara lah yang datang, dia terkejut melihat Belia dan Tom.


“Kak Amara jangan salah paham dulu Kak!” kataku sambil berjalan menghadang Kak Amara.


“Minggir Rin! Mereka itu bukan manusia! Mereka adalah setan!” kata Kak Amara meyakinkanku.


“Eh kalau ngomong di jaga dong! Gwe bukan setan loh!” Tom berdiri menghampiri Kak Amara sambil marah-marah.


“Emangnya kalau bukan setan kamu itu apa?” tanya Kak Amara lagi dengan jutek. “Jin? Iblis?” lanjut Kak Amara bertanya kepada Tom.


“Gwe hantu!!!” jawab Tom dengan kesal. Ekspresi wajahnya yang membuat kami tertawa. Seperti yang kuketahui, Tom tidak suka di panggil setan, jin atau pun iblis.


“Udah deh gwe males berdebat sama lu!” kata Kak Amara lalu meninggalkan Tom dan menghampiri Belia. Kak Amara tersenyum ramah kepada Belia.


“Apakah kalian hantu pendamping Airin?” tanya Kak Amara kepada Belia.


“Bukan, kami hanya hantu yang meminta pertolongan kepada Airin atas salah pahamnya keluarga kami tentang kematian kami, sehingga membuat kami terbelenggu di bumi dan tidak bisa pergi menuju fase kehidupan yang selanjutnya,” jawab Belia dengan detail.

__ADS_1


“Cuekin aja gwe,” Tom masih ngambek dan menyekat pembicaraan ka Amara dengan Belia.


“Idih siapa lu!” jawab Kak Amara dengan jutek.


“Udah-udah jangan ngambek lagi, kamu ikut aku yuk! Biarkan Kak Amara berdua dengan Belia,” kataku lalu membawanya pergi dan membiarkan Kak Amara dan Belia bercerita empat mata.


Aku berjalan mengajak Tom keluar dari kamar dan membawanya ke teras lantai atas yang berada di koridor kamar kami.


Sesampainya di teras, aku duduk di kursi panjang dan menutup wajahku dengan kedua tangan.


“Kamu kenapa Rin?” tanya Tom dengan prihatin dan dia juga duduk di samping kananku.


“Aku... Aku..” aku tidak sanggup mengungkapkan isi hatiku.


“Ayo Rin ceritakan saja! Aku akan selalu untukmu ceritakan saja lah!” kata Tom sambil mengarahkan tatapanku ke wajahnya dengan kedua tangannya. Aku menatapnya sejenak dan kemudian aku pun melepaskan tangannya dari pipiku.


“Jangan kau ucapkan lagi kata-kata itu,” aku berdiri dan menjauh darinya.


“Kata-kata apa?” diapun berdiri dan bertanya dengan heran.


“Aku akan selalu ada untukmu! Kata-kata itu!” jawabku.


“Apa yang sebenarnya terjadi padamu?” tanya Tom dengan geram.


“Aku kehilangan kedua orang tuaku, aku diculik makhluk gaib dan pada saat itu aku memanggilmu, mencarimu Tom! Tetapi di mana kamu pada saat itu!” jelasku sambil teriak dan menangis. Tom pun kemudian memelukku dan berusaha untuk menenangkan diriku.


“Sebenarnya aku dan Belia datang menemuimu karena kami mengetahui kabar duka yang menimpa keluargamu,” Tom berbisik di telingaku.


“Aku mohon maaf karena aku tidak bisa hadir pada saat musibah menimpamu! Sekali lagi aku mohon maaf,” Tom kembali berbisik di telingaku.


Aku sangat merasa tenang pada saat aku berada di dalam pelukan Tom. Aku mencintaimu Tom. Aku mencintaimu sebagai Kakakku.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2