![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
“Apakah dia sudah bangun?” suara lelaki terdengar samar-samar.
“Belum! Mungkin sebentar lagi,” suara wanita terdengar menjawab pertanyaan lelaki tadi. Aku pun membuka mata dan bangun dari tidurku. Aku bangun dari tidur tanpa mimpi.
“Airin kamu sudah bangun! Selamat pagi!” kata Kak Amara mengucapkan selamat pagi kepadaku, ternyata suara tadi adalah suara Kak Amara dan pengasuh pria yang seumurannya. Aku melihat mereka berdua sedang berbicara di pintu.
“Baiklah sekarang kamu mandi dan bersiap-siap. Kita akan pergi ke suatu tempat,” Kata Kak Amara dengan senyuman manisnya. Dia menyuruhku untuk mandi dan bersiap-siap.
“Baiklah Kak,” jawabku tanpa bertanya lagi kepadanya, ke mana kami akan pergi. Aku langsung bangun dari tempat tidurku dan berjalan menuju lemari.
Klek.
Aku membuka lemari untuk mengambil handuk.
“Kakak tunggu di bawah ya!” kata Kak Amara sambil berjalan keluar kamarku.
Dar.
Dia menutup pintu kamarku. Aku melanjutkan langkahku menuju kamar mandi dan langsung membersihkan badanku.
Curr.
Butiran-butiran air hangat yang keluar dari shower membasahiku, aku memejamkan mataku dan seketika itu aku mengingat mimpi buruk yang terjadi tadi malam.
Aku membayangkan mimpi itu dan langsung mengigit kembali bahwa sebenarnya kemarin aku pingsan karena mendengar kabar buruk dari Kak Amara. Katanya keluargaku mengalami kecelakaan pesawat.
Aku berpikir, Apakah mimpi buruk yang terjadi tadi malam adalah suatu pesan yang nyata dari Mama?
“Den, sepertinya Airin tidak ingat kalau keluarganya kecelakaan pesawat,” Kak Amara bercerita dengan pengasuh pria tadi di ruang tamu.
“Mungkin karena dia syok dan pingsan yang menyebabkan dia lupa dengan kabar duka yang di alami keluarganya,” jawab pria itu kepada Kak Amara.
“Malang sekali nasibnya,” kata Kak Amara sambil menundukkan pandangannya.
Setelah aku mengingat kabar duka itu, aku meneteskan mataku dan kembali merasa hatiku sangat rapuh.
Krek.
__ADS_1
Aku membuka pintu kamar mandi dan keluar dengan balutan handuk di badanku. Aku mengeringkan badanku dengan handuk dan kemudian aku membuka lemari, mengambil gaun berwarna hitam. Aku mengenakannya sebagai perantara dari rasa duka yang sedang kualami. Aku bercermin sambil menyisir rambutku sambil meneteskan air mata.
Krek.
Aku membuka pintu kamarku dan berjalan melewati koridor, Kemudian aku menuruni anak tangga dan akhirnya aku sampai di ruang tamu.
“Hei Amara,” pengasuh pria yang duduk berhadapan dengan Kak Amara di ruang tamu memberikan isyarat kepada Kak Amara yang terlihat sedang menangis.
Setelah mendengar isyarat dari pengasuh pria itu, dia pun mengangkat pandangannya dan mengusap air mata yang membasahi pipinya.
“Pergilah menuju ruang makan! Teman-temanmu menunggu di sana,” perintah pengasuh pria itu kepadaku.
“Baiklah Kak,” jawabku dengan singkat lalu berjalan menuju ruang makan mengikuti perintah darinya.
Tok tok tok.
Aku mengetuk pintu ruang makan yang sudah terbuka.
“Oh kamu Rin! Ayo masuk dan duduklah bersama teman-temanmu!” kata Kak Marlina dengan senyuman yang terselip ekspresi wajah turut berduka cita atas apa yang sedang menimpaku.
Aku berjalan menuju bangkuku dan duduk bersama teman-teman yang wajahnya terlihat murung. Sepertinya dia juga berduka atas tragedi yang menimpa keluargaku.
“Terima kasih Kak,” jawabku sambil memberikan senyuman manis kepadanya. Dia hanya mengangguk dan tersenyum untuk meresponku.
“Kalian kok gak ikutan makan sih?” tanyaku kepada teman-teman yang duduk di antaraku.
“Makan aja Rin! Kami udah makan kok,” jawab Friska dengan singkat. Aku melihat wajah mereka semua, mereka memberikan senyuman manis kepadaku.
“Aku makan ya!” kataku meminta izin kepada mereka.
“Abisin makanannya ya Kak!” kata Gita kepadaku seolah membangkitkan semangatku yang sedang patah.
“Terima kasih Gita,” jawabku kepadanya. Aku mulai melahap makanan dengan perlahan. Aku menghabiskan setengah dari makanan itu.
“Ayo kita berkumpul di ruang tamu,” aku mengajak mereka untuk pergi ke ruang tamu.
“Loh! Kok gak dihabiskan makanannya?” tanya Kak Marlina kepadaku.
__ADS_1
“Aku sudah kenyang Kak,” jawabku sambil tersenyum.
“Ya sudah kalau begitu habiskan minumanmu!” Kak Marlina menyuruhku untuk menghabiskan segelas air minuman yang terletak di samping piringku.
“Baiklah,” jawabku dengan singkat lalu mendeguk minuman itu dan langsung pergi meninggalkan ruang makan.
“Airin tunggu,” Klara memanggilku dan menyuruhku untuk menunggunya tetapi aku tetap berjalan dan tidak menghiraukan panggilan darinya.
“Ayo teman-teman, kita ke ruang tamu,” ajak Klara setelah aku menghiraukannya.
“Kak Amara! Ayo kita berangkat!” aku menghampiri Kak Amara yang sedang duduk di ruang tamu.
“Apakah kamu sudah sarapan pagi?” tanyanya kepadaku.
“Sudah Kak!” jawabku singkat lalu meninggalkannya.
“Airin kamu mau ke mana?” tanya Kak Amara kepadaku setelah aku keluar meninggalkannya.
Aku merasa pertanyaan mereka menghambatku untuk pergi menuju ke tempat tenggelamnya pesawat yang di kendarai oleh keluargaku. Maka dari itu aku terus berjalan ketika mereka bertanya kepadaku. Aku tidak sabar untuk segera berada di TKP.
“Airin berhenti!” teriak Kak Amara, dia menghentikan langkahku yang hampir saja keluar dari palang yayasan yang bertuliskan nama yayasan ini.
Tak tak tak.
Suara hentakan sepatu. Kak Amara berlari menghampiri-ku dan membalikkan badanku. Dia menatap mataku dengan tajam.
“Kenapa kalian ikutan sedih? Kaliankan baru saja mengenalku! Kenapa kalian ikut berduka seolah kalian sudah mengenalku lama?” aku meneteskan air mata dan bertanya kepada Ka Amara.
Kak Amara memelukku dengan erat setelah mendengar pertanyaan dariku. “Kamu salah Rin! Semua orang yang tinggal di yayasan ini berduka karena mereka memiliki batin yang terbuka sehingga mereka juga bisa merasakan kerapuhan yang kamu rasakan,” kata Kak Amara sambil menangis.
Dia memelukku erat dan aku pun mulai mengerti kalau kemampuan breathing in two realms bukan hanya sekedar untuk melihat dunia lain, tetapi kemampuan itu juga di gunakan untuk melihat dan merasakan perasaan orang yang ada di sekitarku.
Tin tin tin.
Suara klakson mobil terdengar. Aku mengangkat pandanganku yang tadinya melihat ke lantai. Mobil yayasan sudah berada di hadapanku.
Kak Amara melepaskan pelukannya dan mengajakku untuk berpamitan dengan pengasuh yang tinggal di yayasan. Kemudian aku dan Kak Amara masuk ke dalam mobil yayasan yang sudah di isi dengan teman-teman perempuanku.
__ADS_1
Mobil pun mulai berjalan keluar dari lingkungan Rumah Batin. Kami pergi menuju ke tempat TKP.
Bersambung