![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
Bus kami berhenti di depan gerbang sekolah, kami sampai di sekolah dengan kisaran waktu yang cukup lama. Perlahan dari yayasan ke sekolah ditempuh selama SATU JAM TIGA PULUH MENIT.
“Ayo turun adik-adik,” Kak Deni Aditya membuka pintu bus dan menyuruh kami untuk turun dari bus. Dia berdiri dan menunggu kami di depan pintu bus.
“Ayo Rin kita turun!” ajak Klara kepadaku.
Aku lalu berdiri dari tempat dudukku dan mengikuti Klara untuk turun dari mobil. Kemudian aku dan Klara menunggu teman-teman yang lainnya turun dari bus.
“Ayo hati hati,” kata Kak Deni Aditya kepada teman-teman yang sedang turun dari bus. Mereka berbaris dengan rapi pada saat turun dari mobil.
Setelah semuanya turun dari bus, Kak Aditya menyuruh kami berbaris di depan gerbang untuk berhitung dan memastikan tidak ada salah satu dari kami yang tertinggal.
“Oke, karena semuanya sudah lengkap, Kakak hanya berpesan kepada kalian untuk saling menjaga satu sama lain dan kalian juga jangan lupa untuk terus fokus dalam menuntut ilmu,”
Setelah dipastikan bahwa semuanya anak lengkap dan tidak ada yang tertinggal, Kak Aditya pun berpesan kepada kami untuk saling menjaga satu sama lain dan terus fokus dalam menuntut ilmu.
“Baik Kak!” jawab kami dengan kompak.
“Ya sudah, Kakak pamit untuk kembali ke yayasan. Good luck semuanya!” Kak Aditya berpamitan kepada kami dan kemudian dia kembali ke dalam bus dan pergi meninggalkan kami.
“Hi cewek! Kenalan yuk!” Bima kembali menggodaku setelah bus yayasan pergi meninggalkan kami.
“Apaan sih lu genit amat,” kata Klara kepadanya dengan jutek.
__ADS_1
“Mendingan gwe genit! Lah dari pada lu, GALAK!” Bima menjawabnya dengan usil lalu dia berlari meninggalkan kami.
“Awas aja lu Bim!!” Klara terlihat begitu kesal dengan tingkah laku yang ditunjukkan oleh Bima.
“Udah ah! Kita masuk ke dalam sekolah yuk!” ajak Bagas dengan santai.
Dia pun berbalik badan dan berjalan memasuki pintu gerbang dengan ketiga teman laki-lakinya.
“Dara Ayo!” ketiga anak laki-laki yang mengenakan seragam SMP mengajak Dara untuk masuk ke gerbang sekolah.
“Dara duluan ya Kak!” Dara berpamitan kepada kami dan kemudian dia pun pergi mengikuti ketiga temannya tadi, di tambah satu anak yang mengenakan seragam SD.
Dara juga membawa Gita bersamanya. Gita masih duduk di bangku sekolah dasar dan dari anak laki-laki juga ada satu yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
Kemudian kami pun mengikuti langkahnya memasuki pintu gerbang sekolah.
“Stop!” Klara menghentikan langkahnya.
“Ada apa Ra?” tanya Friska kepadanya.
“Kita harus ke kantor untuk mengurus Airin!” jawab Klara.
“Oh iya aku hampir lupa,” kata Friska sambil menepuk jidatnya.
__ADS_1
“Ya sudah, nunggu apa lagi ayo kita pergi ke kantor!” ajak Friska.
Kemudian kami pun berjalan menuju kantor untuk mengurusku karena aku adalah murid baru di sekolah ini.
“Permisi,” ucap Klara sebelum masuk kedalam kantor sekolah.
“Silahkan masuk!” jawab salah satu staf yang sedang bekerja di meja mereka masing masing. Kami berjalan masuk ke dalam kantor dan menuju ke suatu meja yang di tempati oleh wali kelas kami.
“Permisi Bu!” kata Klara kepada wali kelasnya.
“Iya Ra ada apa?” jawab Ibu wali kelas dengan singkat.
“Saya mau mendaftarkan teman baru saya Bu!” jawab Klara dengan lembut.
“Apakah yang bernama Airin Kanyasara?” tanya Ibu itu kepadanya.
“Benar Bu!” jawab Klara dengan singkat.
“Dia sudah terdaftar! Sekarang dia bisa ikut kalian di kelas X A, dia akan duduk bersama dengan Riana,” Ibu wali kelas itu menjelaskan kepada Klara bahwa aku telah terdaftar di sekolah ini.
“Kalau begitu kami izin untuk pergi ke kelas Bu!” Klara berpamitan lalu mengajak kami untuk pergi ke kelas X A.
Ibu wali kelas itu tidak terlihat ramah, dari pertama kali kami datang sampai Klara selesai berbicara dengannya tidak sedikitpun dia melihat ke arah kami. Bahkan dia juga tidak menanyakan namaku padahal aku berada tepat di depannya. Aku sebagai murid baru di sekolah ini merasa tidak nyaman.
__ADS_1
Bersambung