![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
“Nak Keyla, bukankah kamu tinggal tidak terlalu jauh dari rumah si Airin?” tanya Eyang Darmo kepada Key pada saat kami bersantai di sofa ruang tamu.
“Benar Eyang, saya tinggal tidak jauh dari rumah Airin,” jawab Keyla sambil tersenyum ramah.
“Kalau begitu nanti Eyang akan dampingi kamu pulang agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepadamu, apakah kamu bersedia?” ucap Eyang Darmo menawarkan dampingannya agar Keyla bisa selamat sampai rumahnya dan juga jauh dari sesuatu yang tidak diinginkan.
“Kapan Eyang akan pulang?” tanyaku memotong pembicaraan mereka.
“Eyang akan pulang setelah Eyang menyelesaikan beberapa urusan di sini, kira-kira tiga hari lagi,” jawab Eyang Darmo sambil berpikir.
“Berarti ada sisa waktu tiga hari lagi untuk aku habiskan bersama Keyla,” gumamku sambil tersenyum. “Gimana Key, kamu mau pulang bareng Eyang Darmo gak?” tanyaku kepada Keyla melanjutkan pertanyaan dari Eyang Darmo tadi.
“Sebelumnya saya minta maaf Eyang, tapi saya harus sudah harus pulang esok hari sesuai janji saya kepada orang tua saya Eyang,” jawaban Keyla membuat senyum di wajahku luntur, padahal aku berharap agar dia mau tinggal tiga hari lagi bersama ku di yayasan ini.
“Eyang akan tetap menemanimu sampai kamu tiba di rumahmu,” ujar Eyang Darmo yang bersikeras mau mendampingi Keyla.
“Baik Eyang, tetapi bagaimana dengan urusan Eyang di sini?” Keyla pun bersedia untuk di antar oleh Eyang Darmo dan kemudian dia pun kembali bertanya kepada Eyang Darmo tentang urusan yang harus di selesaikan oleh Eyang Darmo di sini.
“Itu bisa Eyang tunda Nak, sekarang yang lebih penting adalah keselamatanmu,” jawab Eyang Darmo kepada Keyla.
“Baiklah kalau begitu, saya akan mengemasi barang saya untuk esok Eyang,” ucap Keyla berpamitan kepada Eyang Darmo.
“Silahkan,” jawab Eyang Darmo dengan singkat dan kemudian Keyla pun mengajakku untuk pergi ke kamar, dia mengajakku untuk mengemasi barang-barangnya.
“Apa kamu gak bisa tinggal tiga hari lagi Key? Demi aku?” tanyaku kepadanya sambil berjalan menuju kamar.
“Tidak bisa Rin,” jawab Keyla dengan singkat disertai senyuman manisnya.
“Kenapa key?” aku kembali bertanya kepadanya.
“Aku sudah janji kepada Ayah dan Bundaku untuk pulang ketika malam tahun baru tiba,” Keyla kembali menjawabnya sambil tersenyum ramah.
“Baiklah kalau begitu, aku ikhlas deh,” ucapku dengan jutek sambil memasang ekspresi wajah yang masam.
“Hai Airin, kamu ngambek?” tanya Keyla dengan usil.
“Hem…” aku membuang muka seolah sedang tidak akur.
“Ngambek aja sana, aku mau beres-beres dulu ya, Babay!” Keyla pun tidak menghiraukanku dan dengan nada usil dia menggodaku.
__ADS_1
“Tunggu Key aku hanya bercanda,” ucapku mengejar Key yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu sehingga aku tidak bisa masuk.
DOR DOR DOR.
“Key ayo bukalah pintunya, aku hanya bercanda tadi,” aku mengetuk pintu kamar dan meminta Keyla untuk membuka pintu kamar karena tadi aku hanya bercanda saja.
Kreek.
Keyla pun membuka setengah pintu kamar dan mengintip.
“Apa? Kamu hanya bercanda?” tanya Keyla dengan ekspresi penuh candaan.
“He’e, iya,” jawabku dengan singkat dan memasang ekspresi wajah yang sok imut.
“Aku juga bercanda kok,” ucap Keyla kepadaku sambil menyeringai.
“Huh aku kira kamu baper,” ucapku sambil melepaskan napas lega.
“Ya nggak lah! Gila aja kali lu! Jadi masuk gak nih?” dia kembali bercanda dengan gaya yang cukup membuatku terhibur. Aku pun masuk ke dalam kamar dan kemudian aku pun membantu Key untuk membereskan barang-barang.
“Etdah, cuma beresin apa ini,” ujarku dengan usil setelah aku melihat barang yang akan Key bereskan ternyata hanya sepasang pakaian basah saja.
Aku baru ingat, wajar memang tidak banyak barang Key yang harus dibereskan, karena pada saat dia pertama kali sampai ke yayasan ini, dia belum sempat membuka koper dan tasnya. Bahkan waktu itu dia juga belum mengganti bajunya, karena sesampainya di yayasan aku langsung mengajaknya untuk berkeliling ke sekitaran desa Damar dan sepulangnya kami dari jalan-jalan kami pun kembali ke yayasan pada saat sore hari, kami pun mendapat tumpangan bus milik yayasan yang baru saja pulang belanja.
Kemudian aku dan key pun membantu Kak Marlina mengangkat beberapa barang dan kemudian aku dan key pun pergi ke kamar untuk mandi dan melepaskan rasa gerah, lalu kami pun di panggil untuk makan malam dan kemudian setelah beberapa jam kemudian kami pun langsung mencoba permainan yang seharusnya tidak pernah kami mainkan.
Huh sudah lah, ngapain aku ingat-ingat hal yang gak terlalu penting,” gumamku dan kemudian aku pun membiarkan Key membereskan barang-barang sendiri karena tak terlalu banyak, dan aku rasa dia pun bisa membereskan sendirian.
Aku pergi sebentar ke ruang makan untuk mengambil dua gelas dan dua saset minuman instan dan kemudian aku pun kembali ke kamar.
“Airin kamu bawa apa?” di dalam perjalananku menuju kamar aku bertemu dengan Friska.
“Oh ini, aku bawa gelas sama minuman aku dan Keyla akan menghasilkan waktu bersama sebelum Keyla pulang besok,” jawabku kepadanya.
“Oh si Keyla mau pulang besok?” Friska kembali bertanya kepada ku.
“Iya Fris, apakah kamu mau ikut bersama kami untuk menghabiskan minuman hangat di sore hari yang indah ini?” aku kembali bertanya kepadanya.
“Oh tidak, terima kasih, aku akan pergi ke kamar Riana untuk menjenguknya apakah kamu dan Key sudah menjenguknya?”
__ADS_1
Friska menolak ajakanku untuk menghabiskan waktu bersama dengan secangkir minuman hangat, dan dia pun malah mengajakku untuk menjenguk Riana di kamarnya.
“Oh iya aku sampai lupa untuk melihat Riana, soalnya tadi kami baru saja beres beres barang Keyla untuk persiapan pulangnya besok,” jawabku dengan bingung.
“Ya udah aku jenguk Riana dulu Rin!” ucap Keyla ketika kami sudah sampai di depan pintu kamar Riana.
“Oh baiklah Friska, nanti aku dan Keyla akan segera menyusul,” ucapku menjawab Friska dan kemudian aku pun sampai di kamarku dan langsung masuk ke dalam kamar.
“Hei Rin! Kamu masih nyimpen novel-novel ini?” tanya Keyla kepadaku ketika aku masuk ke dalam kamar. Dia berbaring di atas kasurku sambil membaca novel lamaku yang tersimpan di lemari.
“Iya Key, aku akan selalu menyimpannya,” jawabku dan kemudian aku meletakkan dua gelas yang kubawa tadi ke atas meja belajarku, kemudian aku pun membuka tutup termos dan menumpahkannya ke dalam gelas.
“Apa yang sedang kamu buat Rin?” tanya Keyla kepadaku.
“Aku sedang buat minuman hangat, cocok buat nemenin sisa waktu kita,” jawabku kepadanya.
“Pas banget Rin! Aku punya cemilan,” seru Keyla dengan riang, kemudian aku pun membawa dua gelas minuman hangat dan meletakkannya di meja yang dekat dengan kasur.
“Terima kasih Rin!” ucap Keyla kepadaku.
“Sama-sama,” jawabku dengan singkat.
“Ngomong-ngomong, kalau minumannya sudah habis kita jenguk Riana yuk,”
Aku mengajak Keyla untuk menjenguk Riana setelah menghabiskan minuman hangat ini.
“Oh iya, kita lupa menjenguknya,” ucap Keyla sambil menepuk jidatnya.
Tok tok tok.
Aku bersama Keyla mengetuk pintu kamar Riana setelah kami selesai menghabiskan segelas minuman hangat di kamarku.
Kreek.
Dara pun membuka pintunya dan kemudian aku dan Keyla pun masuk ke dalam.
Semua pengasuh perempuan dan anak-anak perempuan ada di dalam ruangan ini, mereka juga ikut menjenguk Riana yang sampai sekarang masih belum sadarkan diri.
Bersambung
__ADS_1