The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]

The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]
Chapter.53 " Klara tidak ada di alam ini. "


__ADS_3

“Gita!” ujarku setelah melihatnya sudah sadarkan diri.


“Kak Airin,” saut Gita dan kemudian aku pun berjalan menghampirinya bersama dengan Friska dan Dara.


“Kalian baik baik saja, kan?” tanyaku kepada mereka setelah kami berkumpul bersama di dekat Gita yang masih berbaring di pangkuan Keyla.


“Syukurlah aku baik-baik saja Rin!” jawab Friska sambil tersenyum.


“Aku juga baik-baik saja Kak,” ucap Dara menyambung jawaban dari Friska.


“Bagaimana dengan dirimu Gita? Kamu terlihat sangat pucat dan tidak berdaya,” tanyaku kepada Gita yang tidak kunjung menjawab. Dia memang terlihat sangat lelah dan dia juga terlihat sangat pucat.


“Aku kurang baik Kak,” jawab Gita dengan tidak berdaya.


“Kalau begitu kamu di gendong sama Kakak Varel aja ya Dek!” ucap Varel menawarkan bantuannya kepada Gita.


“Baik Kak,” jawab Gita dengan singkat dan kemudian Varel pun memasukkan tangannya ke dalam saku celananya, aku tidak tahu apa yang akan dia ambil.


“Ini Mustika Merah Delimanya, lindungi kami dengan mustika itu,” ternyata Varel memberikanku Mustika Merah Delima untuk berjaga-jaga dan melindungi teman-teman.


“Pegangan yang kuat ya Gita!” ucap Keyla yang membantu Gita untuk naik ke punggung Varel.


“Mengapa kalian bisa sampai kerasukan? Apakah kalian mengingat sesuatu sebelumnya?” sambung Varel bertanya kepada Friska dan Dara.


“Aku tidak mengingat apa pun!” jawab Friska dengan sigap sambil memegang kepalanya yang mungkin saja terasa pusing.


“Aku juga,” sambung Dara menjawab pertanyaan dari Varel.


“Ya sudah, kalau begitu sekarang kita harus pergi untuk mencari yang lainnya,” ucapku mengajak mereka untuk pergi melanjutkan perjalanan untuk mencari teman-teman yang lainnya.


“Baik lah, ayo kita lanjutkan perjalanan kita,” sambung Varel yang kembali mengajak teman-teman, kemudian kami pun langsung melangkah untuk pergi mencari yang lainnya dengan arah tujuan yang belum jelas karena kami juga tidak tahu di mana yang lainnya berada.


“Tunggu, sepertinya ada yang kurang!” Varel menghentikan langkah kami yang sudah cukup jauh dari tempat tadi karena dia merasa seperti ada yang kurang.


“Apanya yang kurang Rel?” tanyaku kepadanya dengan bingung.


“Ke mana perginya Klara?” jawabannya dengan histeris.


“Kamu benar Rel!” ujarku dengan kaget setelah aku menyadari bahwa Klara tidak kelihatan sejak tadi.


“Ini kalian tunggu di sini! Aku akan kembali untuk menjemput Klara,” ucapku berpesan kepada mereka sebelum akhirnya aku pun pergi meninggalkan mereka untuk kembali ke tempat tarian tadi, aku harus mencari dan menjemput Klara di sana.


“Airin tunggu!” ucap Friska yang hendak menghentikanku tetapi aku tidak mendengarnya karena rasa kekhawatiranku terhadap Klara membuatku tidak mendengar apa pun.


“Klara! Klara! Kamu di mana?” weruku memanggil namanya setelah aku sampai di tempat para penari tadi.


“Klara!” aku memanggil namanya lagi berharap dia meresponku agar aku bisa dengan mudah menemukannya.


Ting tang ting tung.

__ADS_1


Tiba-tiba suara gamelan kembali terdengar dan setelah aku menoleh ke arah sumber suara tersebut, aku melihat seorang wanita yang sedang menari.


“Klara, apakah itu kamu!” tanyaku kepadanya. “Hai, apakah kamu Klara?” aku kembali bertanya kepada wanita itu karena dia tidak menjawabku dan tetap asyik menari seiring dengan suara alat musik tradisional yang bergerak sendiri.


“Lingsir wengi


Sliramu tumeking sirno


Ojo tangi nggonmu guling


Awas jo ngetoro


Aku lagi bang wingo wingo


Jin setan kang tak utusi


Dadyo sebarang


Wojo lelayu sebet…”


Wanita itu pun bernyanyi sampai membuatku pusing bahkan aku juga sampai mengeluarkan darah dari hidungku.


“Siapapun kau tolonglah hentikan nyanyianmu!” seruku sambil menutup telinga memintanya agar berhenti bernyanyi.


“Airin, Klara tidak ada di sini!” seru Friska yang tiba-tiba saja datang dan berkata kalau Klara tidak ada di alam ini.


“Aku sudah mengingatnya, sekarang kamu tetap di situ dan jangan kemu menghampiriku,” ucapku kepada Friska setelah aku menyadari ucapannya.


“Bang-bang wus rahina, bang-bang wus rahina,


Srengengene muncul, muncul, muncul, sunar sumamburat,


Bang-bang wus rahina, bang-bang wus rahina,


Srengengene muncul, muncul, muncul, sunar sumamburat.


Cit-cit cuwit-cuwit, cit-cit cuwit-cuwit,


Cit cuwit rame swara ceh-ocehan.


Krengket gerat-geret, krengket gerat-geret,


Nimba aneng sumur, adus gebyar-gebyur.


Segere kepati, segere kepati, kepati bingah,


Bagas kuwarasan.


Lingsir wengi tan kendat, beboyo memolo tan kinoyo ngopo.

__ADS_1


Bebendu pepeteng tan keno ati niro, bangbang wetan semburato…”


Aku menyanyikan lagu tolak bala itu untuk melenyapkan sekaligus menghentikan nyanyian wanita penari itu yang membuat kepalaku pusing.


“Aaaaa!” wanita itu teriak seolah seperti terbakar dan perlahan badannya pun terbang menjadi butiran debu, sedangkan alat musik tradisional yang tadi mengiringinya menari kini berterbangan tidak beraturan. Aku pun segera menghampiri Friska, dan kemudian aku dan Friska pun pergi meninggalkan tempat itu.


“Mari kita pergi!” ucapku kepada teman-teman yang lainnya setelah aku sampai di dekat mereka.


“Di mana Klara?” tanya Varel kepadaku.


“Dia tidak ada di alam ini Rel!” jawabku dengan singkat dan kemudian aku pun mengajak Varel dan teman-teman yang lainnya untuk kembali pergi berlari sejauh mungkin dari tempat penari tadi, karena kami takut hal buruk akan kembali menyusul untuk mengelabuhi kami dan bahkan mencelakakan kami.


“Berhenti!” capku ketika aku melihat ada ombak tinggi nan besar yang keluar dari balik gunung.


“Ada apa Rin!” tanya Friska kepadaku.


“Lihat itu,” jawabku dengan sangat sembari menunjuk ke arah ombak besar nan tinggi yang hendak mengarah menuju kami.


“Aaa!” Dara berteriak ketakutan setengah melihat ombak yang kutunjuk tadi.


“Jangan takut Dara, ada kami bersamamu,” ucap Keyla yang sembari memeluk Dara untuk membuat Dara sedikit tenang.


“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” aku bertanya kepada Varel dengan sangat panik.


“Sekarang hal utama yang harus kita lakukan adalah mencari danau dan masuk ke dalamnya,” jawab Varel dengan tetap berusaha untuk tenang.


“Kenapa seperti itu?” aku kembali bertanya.


“Karena itu adalah cara yang cukup aman,” jawab Varel dengan panik dan kemudian dia pun menarik tanganku dan mengajak teman-teman yang lainnya untuk berbalik arah dan berlari mencari danau yang ada di dekat sini.


“Ayo loncat!” ucap Varel ketika kami sudah sampai di tepi danau.


“Kak, aku takut,” Dara merengek sambil memeluk tangan kiriku.


“Tidak ada waktu untuk takut sekarang karena nyawa kita sedang terancam,” ucapku menanggapi rengekan Dara. “Sekarang kita harus saling berpegangan tangan dan bersama sama loncat ke dalam danau ini,” ucapku kembali meminta teman-teman untuk saling berpegangan tangan dan melompat bersama ke dalam danau.


Mereka setuju dan kemudian kami pun mempersilahkan Varel untuk lompat terlebih dahulu karena dia tidak ikut berpegangan tangan bersama kami, karena dia juga sedang menggendong Gita yang tidak berdaya.


Byur.


Varel dan Gita pun sudah masuk ke dalam danau.


“Ombaknya semakin dekat,” ucapku ketika aku menoleh sejenak untuk melihat jarak ombak untuk berjaga-jaga.


“Baiklah kalau begitu ayo kita lompat Kak!” seru Dara tidak sabaran.


Kemudian kami menghitung dari satu sampai tiga sebelum akhirnya kami meloncat ke dalam danau.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2