The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]

The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]
Chapter.59 Pagi yang menyenangkan


__ADS_3

“Hai Rin! Kamu sedang apa?” Kak Amara datang dan menyapaku.


“Eh Kak Amara, ini aku sedang diusilin sama hantu yang ngeselin,” ujarku sambil melirik ke arah Tom, aku menunjuk Tom yang terus menerus menggangguku.


“Oh si Tom, hai setan!” ucap Kak Amara dengan usil sehingga membuat Tom tersulut emosi, Tom sangat tidak suka ketika dia dipanggil setan.


“Ini si jangkung datang-datang langsung ngeledek, kan gak asik!” ujar Tom dengan ekspresi marah, dia terlihat sangat kesal walau begitu dia masih terlihat tampan.


“Cuma bercanda Tom,” ucap Kak Amara sambil tertawa, namun bagaimanapun Tom sangat tersinggung dengan kata-kata Kak Amara yang memanggilnya setan.


“Yah Tom kabur,” ucapku setelah Tom tiba-tiba menghilang karena tidak mau menanggapi Kak Amara yang sudah memanggilnya setan.


Aku tahu bahwa ka Amara hanya bercanda tetapi begitulah Tom, dia tidak mau disamakan dengan setan maupun jin.


“Sini duduk Kak,” ucapku menawarkannya untuk duduk di sampingku. Kemudian dia pun datang menghampiriku dan duduk di sampingku.


“Hampir tiga hari kita tak berjumpa ya Kak,” ucapku kepada Kak Amara untuk membuka cerita.


“Iya benar, setelah kamu dan lainnya pergi ke alam gaib, bukan?” jawab Kak Amara kepadaku.


“Iya Kak,” jawabku dengan singkat, dan kemudian aku pun bertanya kepada Kak Amara tentang bagaimana keadaannya ketika kami bermain permainan mistis dan mengapa ketika kami mencarinya dia tidak ada di kamarnya, dia pun menceritakannya kepadaku.


“Pada saat selesai makan malam Kakak sudah curiga dengan gerak-gerik kalian yang sepertinya sedang merencanakan sesuatu. Perasaan Kakka tidak enak karena tiba-tiba saja kalian berkumpul dan berbisik-bisik di ruang tamu. Kakak sengaja tidak tidur untuk mengintai kalian. Dengan sangat hati-hati Kakak pun diam-diam mengikuti kalian ke aula, dan ketika Kakak mengintip kalian Kakak melihat si Keyla, temanmu itu sedang berdiri seolah sedang memberikan pengarahan, Kakak tidak tahu apa yang di ucapkan olehnya dan tak lama setelah itu kalian pun duduk bersama melihat ke arah jam dinding aula sampai akhirnya kalian pun tertidur…”


“… Kakak mengantuk tetapi Kakak menahannya karena Kakak tidak mau luput dari mengamati kalian. Dua jam kemudian, Keyla pun membangunkan kalian tepat di jam dua belas malam pas, dan pada saat kalian mau keluar dari aula Kakak pun langsung pergi untuk bersembunyi agar kalian tidak tahu kalau sebenarnya Kakak dari tadi mengamati kalian. Kakak pikir kalian akan pergi ke suatu tempat yang sama tetapi ternyata dugaan Kakak salah, Kakak melihat kalian berpencar pergi ke menuju kamar masing-masing…”


“… Kakak bingung siapakah salah satu dari kalian yang akan Kakak intai dan setelah Kakak pikir-pikir Kakak pun memilih untuk mengintai si Gita. Kakak menunggu kalian masuk ke dalam kamar kalian masing-masing dan setelah itu baru Kakak dengan diam-diam masuk ke dalam kamar Gita…”


Cuuur.


“… Gita tidak ada di kamarnya, ternyata dia masuk ke dalam kamar mandi dan menghidupkan keran air. Kemudian Kakak pun mendekati pintu kamar mandinya untuk melihat apa yang sedang dia lakukan. Kakak melihatnya dari pintu kamar mandi yang tidak di tutup dengan rapat. Dia duduk menghadap keran air dan membasahi kepalanya di bawah cucuran air keran di dalam bathtub sembari mengucapkan suatu kalimat yang terdengar tidak terlalu jelas…”


“… Tiba-tiba sosok setan menyeramkan keluar dari dalam air di belakang Gita disertai tawa seram… ‘Gita!’ seru Kakak dan kemudian Kakak pun langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk menyelamatkannya tetapi sosok itu terlanjur membawa Gita entah ke mana. Kakak panik dan mencari Gita di dalam bathtub tetapi tidak ketemu juga…”

__ADS_1


“… Kakak keluar dari dalam kamar Gita untuk meminta bantuan dari pengasuh yang lainnya. ‘Aaaa!’ Tiba-tiba suara jeritan terdengar dari segala arah dan Kaka yakin bahwa suara itu berasal dari kamar-kamar kalian yang juga bernasip sama seperti Gita…”


“… Kakak bingung harus berbuat apa dan kemudian Kakak pun melanjutkan berlari untuk meminta pertolongan kepada pengasuh yang lainnya. Tetapi ternyata ketika Kakak sudah turun ke bawah Kakak juga melihat banyak sosok setan berdiri di depan pintu kamar para pengasuh. ‘Siapa kalian!’ Seru Kakak menggertak mereka dan membuat mereka melihat ke arah Kakak sehingga kemudian mereka pun melangkah mendekati Kakak. ‘Pergi!!’ ucap mereka dengan kompak mengusir Kakak dengan suara bising dan menyeramkan…”


“… Karena mereka cukup banyak Kakak pun memutuskan untuk mengalah dan pergi ke luar dari yayasan dengan mengendarai motor Aditya. Kakak pergi keluar menuju kampung Damar untuk meminta pertolongan dan berdiam di sana. Namun ketika Kakak sampai di kampung tersebut aura hitam pun menyelimuti kampung itu….”


“… Karena Kakak tidak ingin terjebak di dalam kegelapan Kakak pun memutuskan untuk pergi meninggalkan kampung Damar dan mencari tempat yang lain. Kakak pun menemukan sebuah kampung yang aman dan kemudian Kakak berdiam sementara di sana. Kakak menghubungi Eyang Darmo untuk meminta pertolongannya. Beruntung Eyang Darmo tidak jauh dari kota dan Eyang Darmo pun segera menuju ke kediaman pada waktu itu agar kami bisa bersama sama pergi kembali ke yayasan…”


“… Butuh waktu sehari untuk menunggu Eyang Darmo datang ke kediaman di waktu itu dan kemudian kami pun langsung berpamitan dengan warga desa yang sudah mau menampung Kakak sejenak dan kemudian kami pun langsung berangkat menuju ke yayasan…”


“… Di dalam perjalanan aku pun memberi tahu Eyang Darmo kalau kampung Damar diselimuti oleh aura hitam dan kemudian Eyang Darmo, memutuskan untuk menghilangkan aura yang menyelimuti kampung Damar terlebih dahulu. Kemudian setelah menghilang aura hitam yang menyelimuti kampung Damar kami pun langsung melanjutkan perjalanan menuju yayasan. ‘Hi Hi Hi…’ suara tawa menyeramkan terdengar ketika kami melintasi jembatan, suara itu membuat Eyang Darmo penasaran dan memutuskan untuk memeriksanya. ‘Amara kemari lah!’ seru Eyang Darmo dengan kaget, dia memanggil Kakak dan dengan segera Kakak pun langsung menghampiri Eyang Darmo…”


“…Kaka sangat terkejut ketika melihat para pengasuh tidak sadarkan diri di dalam bathtub yang mengapung di atas genangan air sungai dan di atasnya juga ada para iblis perempuan yang mengawasi mereka. Tanpa berlama-lama Eyang Darmo pun mengambil tindakan untuk melawan sosok-sosok iblis tersebut dan menyelamatkan para pengasuh…”


“… Eyang Darmo sejenak pergi ke mobilnya untuk mengambil alat musik canang untuk, kemudian Eyang Darmo pun menyuruhku untuk memukulnya tiga kali untuk mengiringi mantera yang di bacakan untuk melawan para iblis. ‘Aaaa!’ para iblis pun berteriak meronta-ronta kesakitan ketika kami melawan mereka. Bersamaan dengan selesainya mantra, para iblis pun musnah tak tersisa dan para pengasuh pun hilang dari dalam sungai…”


“… Kakak bingung dan bertanya-tanya kepada Eyang Darmo ke mana hilangnya para pengasuh. Eyang Darmo pun menjawab pertanyaan Kakak, kata Eyang Darmo para pengasuh sudah kembali ke kamar mereka masing-masing. Setelah itu baru kami pun kembali melanjutkan perjalanan menuju yayasan tanpa hambatan apapun…”


“… Kemudian Eyang Darmo pun menjelaskan kepada mereka bahwa anak-anak sudah bermain dengan permainan mistis yang gagal. Kata Eyang Darmo kalian berniat memanggil hantu permainan tersebut tetap naas yang datang adalah para iblis dan setan yang berniat jahat. Setelah itu Eyang Darmo pun menyuruh kami untuk berkumpul di aula dan melakukan ritual Tarik Sukmo untuk menyelamatkan kalian dari alam gaib. Ritual itu kami lakukan pada jam dua belas malam pas dan baru berhasil menyelamatkan kalian ketika fajar mulai tiba.”


Kak Amara menceritakannya secara detail. “Kenapa Kakak tidak langsung melarang kami ketika Kakak merasakan sesuatu yang ganjil?” tanyaku kepadanya mengungkapkan sesuatu yang mengganjal ketika mendengar ceritanya.


“Karena Kakak masih tidak yakin dengan apa yang Kakak rasakan,” jawab Kak Amara sambil tersenyum. “Apakah Belia datang untuk membantumu di alam sana?” tanya Kak Amara kepadaku.


“Iya Kak, dia datang untuk membantu kami, bagaimana Kakak bisa tahu?” jawabku dan kembali bertanya.


“Aku yang memanggilnya dan memintanya agar dia bisa mendampingimu di alam sana,” jelas Kak Amara kepadaku.


“Hai Kak Amara, Hai Airin,” Friska datang bersama teman-teman yang lainnya, dia menyapa aku dan Kak Amara dengan ramah.


“Hai,” jawabku dan Kak Amara dengan bersamaan disertai dengan senyuman. Mereka pun duduk di atas rumput hijau dan mulai bercerita.


“Ngomong-ngomong, kok kamu gak ikutan makan pagi Rin?” tanya Friska kepadaku.

__ADS_1


“Sedang gak napsu makan aja,” jawabku dengan raut wajah yang kembali cemberut dan sedih.


“Hey Rin, kenapa kamu terlihat sedih ada apa sebenarnya? Padahal kamu tadi terlihat baik-baik saja, apakah kamu merindukan si Keyla?” tanya Kak Amara kepadaku.


“Iya Kak, aku merindukan Keyla,” jawabku sambil menundukkan pandanganku.


“Apakah Kak Airin tidak menganggap kami ada sehingga Kakak merasa sedih ketika Kak Keyla pergi?” tanya Dara kepadaku.


“Bukan seperti itu Dara,” jawabku sambil tersenyum.


“Iya Rin, kan kami juga temanmu,” smbung Friska sambil tersenyum.


“Iya aku tahu itu, tetapi kepergian Keyla bukanlah alasan dari kesedihanku saat ini,” jawabku yang mulai meneteskan air mata, entah kenapa tiba-tiba saja aku mengingat kembali saat aku berbicara dengan Papa dan Mama sebelum aku kembali ke alam nyata.


“Maaf Rin kalau aku melukai perasaanmu?” ucap Friska dengan wajah yang memelas.


“Ceritakan saja Rin karena setelah kamu cerita maka kamu akan merasa lebih nyaman dan lega,” ucap Kak Amara kepadaku, memintaku untuk menceritakan alasan dari jatuhnya air mataku ini. Aku pun mengangguk dan kemudian Kak Amara pun dengan sangat lembut meminta agar Dara membawa Gita untuk menjenguk Riana. Itu adalah upaya Kak Amara untuk menghindarkan mereka dari pembahasan remaja.


“Friska duduklah bersama kami,” ucap Kak Amara menyuruh Friska duduk bersama kami di atas kursi.


“Ayo ceritakan Rin kalau kamu sudah siap,” ucap Kak Amara kepadaku, aku pun menghirup napas sebelum aku menceritakan hal yang mengganjal di hatiku.


“Ketika ritual Tarik Sukmo berhasil dilakukan, aku tidak langsung kembali ke alam nyata, aku terbangun di atas kasur dan Mama membangunkanku. Aku sangat senang karena aku pikir aku baru saja bangun dari tidur panjang yang menakutkan. Aku bertanya kepada Mama di mana Papa berada dan Mama pun bilang kalau Papa ada di ruang tamu, aku sangat senang pada waktu itu tetapi setelah aku bilang aku tetap ingin bersama mereka, mereka bilang kepadaku kalau aku harus kembali ke dunia nyata karena sebenarnya pada waktu itu aku berada di alam gaib. Bagaimana pun aku ingin bersama kedua orang tuaku tetapi mereka bilang ‘tolong ikhlaskan kami dan kembalilah demi kedua kakakmu’ Aku pun luluh dan akhirnya aku mau untuk kembali ke alam nyata walaupun sebenarnya sangat berat rasanya,” aku menceritakan semua isi hatiku untuk dan melepaskan seluruh kesedihanku


Mereka memelukku dan berusaha membuatku tentang, mereka ikut menangis bersamaku seolah merasakan apa yang aku rasakan.


“Kami ada untukmu Rin,” ucap Kak Amara kepadaku sambil tetap memelukku dan membuatku tenang.


Pagi hari ini mungkin bisa kukatakan sebagai hari yang cukup menyenangkan karena pagi hari ini aku tidak di izinkan untuk bersedih.


Hari ini mungkin akan aku habiskan dengan bercerita bersama Kak Amara atau pun Friska.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2