![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
“Ini nih rumah sakit yang kita cari,” kata pengasuh laki-laki yang sedang menyetir mobil. Dia menghentikan mobil di parkiran yang berada di luar pagar rumah sakit.
“Ya udah! Ayo pada turun,” ajak Kak Amara.
“Ra! Gwe tunggu di mobil aja ya!” pengasuh laki-laki itu tetap duduk di kursinya dan mengatakan kepada Kak Amara, dia akan menunggu di mobil saja.
“Ya udah kalau gitu kamu jaga Gita ya Den! Soalnya dia sedang tidur, sayang kalau dibangunkan,” jawab Kak Amara dan menitipkan si kecil Gita yang sedang tertidur pulas.
“Sip.. Gwe bakalan jagain si Gita kok,” jawab pengasuh itu dengan singkat.
Kak Amara tersenyum mendengar jawabannya. Aku merasa ada sesuatu di antara mereka.
“Yuk kita masuk!”
Kami dituntun Kak Amara untuk masuk ke dalam rumah sakit. Kemudian setelah kami berada di dalam rumah sakit Kak Amara menyuruh kami untuk duduk di bangku dekat loket. Sedangkan Kak Amara pergi ke loket untuk menanyakan posisi kedua Kakakku yang menjadi korban.
“Mbak saya mencari pasien yang bernama Azka Praditta Julian dan Haura fivacalista Kalista! Mereka ada di ruangan mana ya?” Kak Amara bertanya kepada suster yang bertugas di loket.
“Baik, sebentar ya Mbak,” jawab salah satu suster sambil melihat buku yang di dalamnya terdapat berisi data-data para pasien rumah sakit ini.
“Oh, mereka korban pesawat ya?” tanya suster itu setelah mendapatkan data dari kedua pasien yang kami cari, yaitu kedua Kakakku.
“Ya benar!” seru Kak Amara menjawab pertanyaan dari suster tadi.
“Mereka berdua di ruangan mawar di kamar nomor 4,” suster itu memberitahukan di mana lokasi kedua Kakakku berada.
“Terima kasih atas informasinya Sus!” Kak Amara berterima kasih kepada suster yang telah memberikan informasi tentang keberadaan kedua Kakakku.
__ADS_1
“Terima kasih kembali,” jawab suster itu dengan ramah dan sopan.
“Ayo adik-adik! Ikut Kakak!” Kak Amara mengajak kami untuk ikut bersamanya.
“Bagaimana kata Suster Kak? Apakah kedua Kakakku masih hidup?” aku bertanya kepada Kak Amara setelah dia mengajak kami untuk mengikutinya.
“Aduh! Kakak lupa menanyakan tentang itu,” Kak Amara menepuk jidatnya dan kembali ke loket untuk menanyakan keadaan kedua kakakku.
Kami mengikuti Kak Amara.
“Dek! Kok pakai gaun hitam? Emangnya siapa yang meninggal?”
Pada saat kami berjalan mengikuti Kak Amara. Seorang ibu paruh baya menarikku dan bertanya kenapa aku memakai gaun hitam.
“Saya memakai gaun hitam ini sebagai perantara duka yang saya rasakan Bu!” jawabku kepadanya.
“Mengapa kamu berduka?” Ibu itu kembali bertanya.
“Emangnya musibah apa yang telah menimpa keluargamu?” Ibu itu bertanya lagi.
“Keluarga sa—”
“Airin ayok!”
Klara memanggilku dan membuatku mengalihkan pandanganku dari Ibu paruh baya tadi. Dia memotong pembicaraan kami.
“Iya bentar!” Aku menjawab panggilan Klara. “Maaf Bu! Saya harus pergi!”
__ADS_1
Aku hendak berpamitan dengan Ibu paruh baya tadi, tetapi pada saat aku melihat ke arahnya, dia sudah menghilang dari pandanganku.
Aku merasa ada yang tidak beres dengan Ibu tadi. Aku lalu memutuskan untuk berkumpul dengan teman-temanku.
“Ruangan Mawar...! kamar nomor... 4! Ini dia!”
Kak Amara mencari kamar tempat kedua Kakakku berada.
Krekk.
“Permisi,” ucap Kak Amara sambil membuka pintu kamar nomor 4. Kami mengikuti ka Amara dari belakang.
“Kak Adit! Kak Haura!”
Aku histeris melihat kedua Kakakku yang ternyata selamat dari kecelakaan pesawat. Aku langsung memeluk mereka berdua secara bergantian. Ranjang mereka berada sangat pas bersebelahan.
“Kak Haura belum sadarkan diri sejak tadi malam,” kata Kak Adit sambil memelukku.
“Aku bersyukur banget karena kalian berdua bisa selamat dari kecelakaan itu,” kataku sambil menangis histeris di pelukannya.
“Apakah ada kabar mengenai Mama dan Papa?” tanya Kak Adit sambil melepaskan pelukannya sejenak.
“Belum ada Kak!” Aku menggeleng dan menjawab pertanyaannya.
“Apa pun yang terjadi nanti! Kakak siap menggantikan posisi Papa sebagai kepala keluarga,” dia kembali memelukku yang dari tadi hanya bisa menangis. Aku kembali merasakan kerapuhan jiwa. Aku kembali merasa bahwa duniaku telah berakhir.
“Rin! Rin! Bangun Rin!”
__ADS_1
Kak Adit membangunkanku. Ternyata rasa rapuh yang telah kembali membuatku pingsan dipelukan Kak Adit
Bersambung