![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
“Duh! Panas!” Bagas mengeluarkan gulungan kertas dari kantong celananya. Dia melempar kertas itu ke lantai dan kertas itu pun terbuka dengan sendirinya.
Kami sempat mendekati dan melihat kertas itu sebelum akhirnya kertas itu terbakar dan menjadi debu. Kami melihat tulisan di dalam kertas itu, di situ tertulis perintah untuk maju tiga belas langkah.
Setelah kertas tadi terbakar dan menjadi debu, kami pun saling bertatapan untuk memastikan tulisan yang terdapat di dalam kertas tadi.
“Apa kalian juga melihat apa yang aku lihat di kertas itu?” tanyaku memastikan apa yang aku lihat.
“Aku sih lihat perintah untuk maju tiga belas langkah tertulis di dalam kertas itu,” saut Riana.
“Sama! Aku juga lihat hal yang sama!” sambung Varel dan kemudian kami melihat ke arah Bagas.
“Apa? Kok pada ngeliatin aku?” tanya Bagas dengan dingin dan seolah tidak menyimak pertanyaanku tadi.
Varel sempat emosi tetapi aku menahannya untuk tidak marah kepada Bagas.
“Bagas kenapa sih?“ batinku dan kemudian aku menanyakan apa yang tadi aku tanyakan dan dia pun menjawab.
“Aku tidak lihat apa apa,” jawabannya membuat kami kesal dan bertanya-tanya mengapa sikapnya berubah drastis.
Kami tidak mau ambil pusing karena menurut kami tiga jawaban dariku, Varel dan Riana sudah cukup untuk memastikan isi kertas yang di dalamnya tertulis perintah untuk maju tiga belas langkah.
Kami pun langsung bertindak mengikuti perintah yang tertulis di selembar kertas yang sudah terbakar tadi.
“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas, tiga bela,” aku, Riana dan Varel menghitung setiap langkah kaki sampai langkah ke tiga belas.
__ADS_1
Kami heran mengapa Bagas tetap diam dan tidak ikut menghitung langkah bersama kami.
Di langkah ketiga belas kami berhenti di antara empat lorong yang saling berhadapan, dua lorong di samping kanan dan dua lorong di samping kiri sedangkan kami menghadap ke sebuah ruangan yang pintunya tertutup.
“Sekarang harus apa ya? Gulungan kertas tadi sudah terbakar padahal itu adalah satu satunya petunjuk bagi kita,” ucap Bagas dengan bingung. Kami pun termenung menunggu petunjuk menghampiri kami.
Dar...
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dengan keras dan menyadarkan kami yang sedang termenung. Sontak suara keras itu menarik kami untuk melihat ke arah pintu yang terbuka secara tiba-tiba.
“Hi Hi Hi…” suara tawa seram terdengar menyeramkan.
Suara itu tidak berasal dari pintu yang tiba-tiba terbuka tadi melainkan suara itu berasal dari lorong yang ada di samping kami.
Di setiap lorong terdapat sosok wanita menyeramkan dengan gaun pengantin yang menjuntai ke lantai dengan bercak darah di leher mereka.
“Let’s play with me!” ucap sosok itu dengan kompak dan kemudian mengangkat tangan kanannya, lalu mengarahkan telapak tangannya ke arah kami masing-masing.
“Aaaa…” kami teriak dan terbang terpisah ke pelukan sosok yang berdiri di lorong-lorong tersebut.
“Rianaaa!” aku teriak sejadi-jadinya ketika aku dan yang lainnya mulai dibawa masuk ke dalam lorong yang gelap itu.
Aku memanggil Riana karena lorong kami saling berhadapan. Riana juga teriak memanggilku pada saat dia dibawa masuk oleh sosok itu.
Seketika aku pun tidak sadarkan diri dan pada saat aku sadar, aku sudah berada di atas ranjang pengantin dan juga mengenakan gaun pengantin.
__ADS_1
Aku bangkit dari ranjang tersebut dan turun untuk melihat ke sekeliling ruangan ini.
Kain putih menghiasi tembok dan tak luput pula rangkaian bunga ikut menghiasi sekeliling ruangan ini.
Aku bercermin dan untuk melihat diriku sendiri yang mengenakan gaun pengantin.
Aku sedikit kagum tetapi aku lebih merasa heran kenapa aku seperti ini. Apa maksud dari semua ini. Aku rasa yang kualami ini tidak sama seperti permainan Daruma San.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu terdengar.
“Hai Airin! Kita main petak umpet ya! Kalau kamu kena kamu mati,” kata seorang wanita dibalik pintu.
Dia mengajakku untuk bermain petak umpet dan jika aku kena maka aku akan mati.
“Airin! Aku akan hitung sampai sepuluh ya! Kamu boleh keluar dari kamar itu untuk mencari persembunyian yang aman,” ucap wanita itu lagi.
Dia pun mulai menghitung dan aku pun bergegas untuk keluar dan mencari tempat persembunyian yang aman.
Pada saat aku keluar dari kamar, aku melihat gadis itu memakai gaun pengantin dan menutup wajahnya ke arah tembok.
Aku tidak terlalu memperhatikannya dan langsung pergi meninggalkannya sebelum dia selesai berhitung. Aku berlari mencari tempat persembunyian seaman mungkin karena nyawaku adalah taruhannya.
Dihitungan kesembilan aku menemukan ruangan yang aku rasa cukup aman dan kemudian aku masuk ke dalamnya.
__ADS_1
“Sepuluh!” dia selesai berhitung. “Sekarang aku akan mencarimu ya!” teriak wanita itu dengan kemudian dia pun mulai mencariku
Bersambung