The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]

The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]
Chapter.50 Merancang rencana


__ADS_3

Empat penari itu terus-menerus mengejar kami tanpa henti sehingga membuatku sangat lelah dan lututku juga terasa sangat lemas.


Bruk!


Genggaman tanganku dari tangan Varel, aku terjatuh tengkurap karena rasa lemas yang amat sangat menyiksa lututku.


Varel pun langsung melihat ke arahku setelah tanganku lepas dari genggamannya.


“Airin!” Varel menyebut namaku dengan histeris dan kemudian dia dengan sigapnya menghampiriku dan langsung membantuku untuk bangun.


“Kamu harus kuat Rin!” ucap Varel sambil membantuku untuk berdiri.


“Lututku sangat lemas Rel, aku bahkan tidak sanggup untuk berdiri,” keluhku kepadanya.


“Ya sudah kalau begitu, kamu aku gendong ya!” jawab Varel dengan cepat, dan dia pun menggendongku. Kemudian Varel langsung kembali berlari untuk menghindari kejaran para penari yang masih cukup jauh.


“Gerrrrhhhhh!”


Varel berhenti berlari karena suara tersebut, di mana suara itu terdengar seperti suara biawak atau bahkan suara itu berasal dari Riana yang sedang kerasukan.


“Ada apa Rel?” tanyaku kepadanya sambil menatap wajah Varel.


“Riana!” ucap Varel menjawabku dan aku pun memutuskan untuk melihat ke arah matanya memandang dan benar saja, itu adalah Riana yang mengincar kami dari kejauhan. Dia merangkak dan memandang kami dengan tatapan yang sangat menyeramkan.


“Sekarang aku ingat Rel!” ucapku setelah melihat Riana.

__ADS_1


“Apa yang kamu ingat?” tanya Varel dengan panik.


“Aku ingat bahwa kita sudah memiliki mustika merah delima untuk melawan tantangan-tantangan yang sedang kita hadapi agar bisa kita lalui dengan mudah,” jawabku memberi tahu tentang apa yang telah kuingat kembali.


“Terus di mana mustika itu sekarang!” Varel menanyakan keberadaan tentang mustika merah delima.


“Untuk apa?” tanyaku kepadanya.


“Bukankah dengan mustika merah delima itu kita bisa menyelesaikan masalah dengan mudah?” jawab Varel dengan kesal.


“Iya tetapi apa yang akan kamu lakukan?” aku kembali bertanya kepadanya.


“Aku akan melawan para penari itu dengan mustika merah delima Rin!” Varel kembali menjawab pertanyaanku dengan kesal. “Ayo berikan mustika itu Rin! Karena waktu kita tidak banyak lagi,” ucap Varel meminta mustika merah delima itu kepadaku.


“Mustika merah delima itu sekarang ada di dalam kantong bajuku dan aku sudah merancang rencana yang matang untuk menghadapi masalah yang sedang kita hadapi,” jawabku kepadanya, kemudian aku pun memberi tahunya kalau aku sudah merancang rencana yang matang untuk menghadapi masalah yang sedang kami hadapi.


“Kita harus menyerahkan diri kita kepada para penari itu untuk menghindar dari Riana dan setelah kita berada jauh dari Riana baru kita lawan para penari itu dengan mustika ini!” kini giliran aku yang menjawab pertanyaan Varel dengan kesal.


Kroook kroook krook!


Tiba-tiba suara menyeramkan yang di keluarkan oleh Riana terdengar begitu dekat.


Aku dan Varel melihat ke arah Riana dan benar saja, Riana sudah berjarak cukup dekat dengan kami.


“Varel! Sekarang!” ucapku sambil menepuk pundaknya untuk mengedarkan pandangannya yang mendadak kosong.

__ADS_1


“Apa?” tanya Varel dengan bingung setelah dia sadar dari tatapan kosongnya.


“Berbalik arah dan menyerahkan diri kepada para penari!” jawabku dengan panik mengingatkan kembali rencana yang telah kurancang kepadanya dan setelah itu dia pun langsung berbalik badan dan berlari menghindari Riana.


“Aagggrrrhhhh…”


Melihat kami berlari, Riana pun kembali mengeluarkan suara menyeramkan sambil berlari merangkak mengejar kami dengan kecepatan yang rumayan tinggi.


“Cepat Rel!” ucapku dengan panik dan kemudian Varel pun meningkatkan kecepatan berlarinya.


“Hi Hi Hi..” kami pun akhirnya sampai di hadapan para penari.


“Ikut lah dengan kami!” ucap para penari itu kepada kami, dan kemudian mereka pun mengarahkan tangan kanannya ke arah kami.


Kemudian selendang salah satu dari mereka dari barisan paling kanan pun mengikat tangan kanan Varel dan selendang penari yang tepat bersebelahan dengan penari yang tadi pun mengikat tangan kiri Varel.


Varel langsung melayang bersama kedua penari yang telah mengikat kedua tangannya sehingga membuatku jatuh ke tanah.


Setelah itu dua penari lainnya juga melakukan apa yang telah dilakukan oleh kedua penari yang telah mengikat Varel tadi dan mereka juga membawaku melayang.


“Aaarrrgggghh,”


Suara menyeramkan Riana kembali terdengar bersamaan dengan kehadiran yang berlari mengejarku dengan capat.


Kroook!

__ADS_1


Dia melompat dengan tinggi berusaha menerkamku tetapi dia tidak bisa, karena salah satu dari penari yang membawaku terbang menepis Riana dengan selendangnya sehingga membuat Riana terpental jauh.


Bersambung


__ADS_2