![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
Kami tinggal di kamar nomor dua kosong empat, nomor kamar ini sama seperti nomor lokasi Villa Merah ini. Entah kenapa rasanya ada suatu maksud yang ditujukan kepadaku tetapi aku tidak tahu apa.
Srrett!
Friska membuka gorden dan kemudian cahaya terang pun menyinari kamar kami.
“Sekalian aja buka jendelanya Fris!” ucap Riana kepada Friska dan Friska pun langsung membuka jendelanya, seketika itu udara segar pun masuk.
“Udah lama aku gak nonton televisi!” ujar Dara yang kemudian dia pun menghidupkan televisi dan kemudian duduk di kasurnya. Kami bersama-sama menikmati kasur empuk dan selimut lembut sembari melihat siaran sinetron yang baru saja tayang.
Ting tung...
Suara bel terdengar berarti ada yang datang.
“Biar aku yang melihatnya Kak,” ucap Dara dan kemudian dia pun pergi meninggalkan kami untuk membuka pintu kamar dan melihat siapakah yang datang dan memencet bel.
“Selamat siang Kakak, saya datang untuk mengantarkan hidangan makan siang untuk kamar ini,” suara lembut pria terdengar sedang berbicara dengan Dara, pria itu bilang kalau dia datang untuk mengantarkan hidangan makan siang untuk kami.
“Oh begitu ya Kak, silahkan masuk,” jawab Dara mempersilahkan pria itu masuk untuk meletakkan hidangan ke atas meja makan.
“Selamat menikmati hidangannya,” ucap pria itu setelah dia selesai meletakan hidangan kami ke atas meja makan dan kemudian dia pun keluar meninggalkan kamar kami.
“Wah makanannya sedap sekali mari kita makan Kak!” ucap Dara berdecak kagum setelah dia melihat hidangan lezat di atas meja.
“Ayo, kebetulan aku juga sedang lapar nih,” jawabku merespon ajakan dari Dara.
Kemudian kami pun mendekati meja makan bersama-sama dan duduk di sana, kami pun langsung menyantap makanan lezat yang sudah di hidangkan untuk kami.
Sekarang aku berpikir tempat ini lebih mirip dengan apartemen, aku jadi agak muak memikirkan nama tempat ini.
Ting Tung.
Bel kembali berbunyi dan kali ini Riana lah yang pergi untuk membukakan pintunya.
“Boleh aku masuk?” ternyata itu adalah Gita, dia datang untuk bertemu kami.
“Silahkan, apakah kamu sudah makan siang?” Riana mempersilahkannya dan kemudian dia pun bertanya kepada Gita apakah ‘Gita sudah makan siang?’ Gita pun menjawab ‘Sudah’ selain itu Gita juga bilang dia datang karena dia ingin bergabung dengan kami karena di kamarnya para pengasuh sedang disibukkan dengan kerjaan mereka masing-masing.
Setelah kami selesai menghabiskan makan, kami pun kembali duduk bersama di atas kasur untuk kembali menyaksikan sinetron di televisi.
“Aku akan telpon pelayanan dulu,” ucap Riana sambil meletakkan telepon di telinganya.
“Untuk apa?” tanya Friska dengan singkat.
“Untuk membereskan piring-piring lah,” jawab Riana dan kemudian dia pun langsung berbicara dengan pelayanan.
Ting tung.
Bel pun berbunyi setelah beberapa saat kemudian.
“Itu pasti pelayan yang di telpon Riana tadi,” gumamku sambil tetap menyaksikan sinetron di televisi.
__ADS_1
Krek.
Riana membukakan pintu dan benar saja kalau yang datang itu adalah seorang pelayan yang di telpon oleh Riana tadi. Dia datang untuk mengambil piring-piring bekas makan siang kami tadi.
“Terima kasih,” ucap Riana sambil tersenyum ketika pelayan itu selesai membereskan piring dan hendak keluar dari kamar kami.
“Sama-sama, jangan lupa hubungi kami jika ada yang bisa kami bantu,” jawab pelayan itu dengan ramah.
“Baik,” jawab Riana dengan sangat dan kemudian pelayanan itu pun pergi membawa piring bekas yang dia letakkan di atas troli khusus piring.
Riana pun bergabung dengan kami dan kami pun menyaksikan acara televisi bersama-sama hingga akhirnya telepon pun berdering dan ketika aku mengangkatnya ternyata itu adalah telepon dari Bu Sofia.
Dia menyuruh aku untuk memberitahu teman-teman sekamarku agar bersiap-siap untuk berenang di pukul empat belas pas nanti dan setelah itu Ibu Sofia pun menutup telponnya.
“Telpon dari siapa Rin?” tanya Friska kepadaku.
“Ibu Sofia,” jwabku dengan singkat.
“Apa kata Ibu Kak? Apakah dia mencariku?” Gita bertanya dengan ekspresi panik.
“Nggak kok Gita, Ibu Sofia menghubungi kamar ini untuk bersiap-siap untuk renang di jam empat belas siang pas nanti,” jelasku kepada Gita sekaligus memberitahu teman-teman tentang apa yang di perintahkan Bu Sofia tadi kepadaku.
“Yeey berenang!” mereka bersorak gembira.
“Tunggu dulu,” sekejap mereka pun berhenti bersorak gembira ketika Gita terlihat bingung.
“Ada apa Gita?” tanya Dara dengan ekspresi bingung.
“Jam empat belas itu jam berapa ya Kak? Emangnya ada? Bukannya jam itu cuman nyampe jam dua belas aja ya Kak?” Gita bertanya dengan polos sehingga membuat kami tertawa. “Kok pada ketawa sih? Kan aku nanya Kak,” tegas Gita yang terlihat malu.
“Kok di bilang jam empat belas sih Kak?” walaupun terlihat malu, Gita kembali bertanya dengan penasaran.
“Kerena dalam satu hari itu ada dua puluh empat jam. Jadi Jam satu, dua, tiga empat sampai jam dua belas itu di ucapkan untuk waktu malam hingga jam dua belas tadi. Setelah jam dua belas tadi maka jam satu bakalan di sebut sebagai jam tiga belas, sesuai dengan kelanjutan dari jam dua belas yaitu tiga belas dan selanjutnya. Apakah kamu mengerti Gita?” Dara menjelaskannya dengan sangat detail kepada Gita dan kemudian dia kembali bertanya apakah Gita mengerti dengan penjelasan yang diberikan olehnya tadi.
“Lumayan mengerti sih Kak,” jawab Gita yang kelihatan seperti masih bingung.
“Apa coba?” Dara bertanya kepada Gita dengan maksud menyuruh Gita untuk mengungkapkan apa yang dia mengerti dari penjelasan dari dara tadi.
“Pokoknya setelah jam dua belas siang jam satu bakalan jadi jam tiga belas sesuai urutan setelah angka dua belaskan Kak? Udah sih, itu aja yang aku mengerti. Terima kasih atas penjelasannya ya Kak,” ternyata Gita sudah mengerti dan kemudian dia pun menjelaskannya dengan lancar walaupun penjelasannya agak sedikit tersendat-sendat.
“Iya sama-sama,” jawab Dara dan Friska sambil tersenyum.
“Teman-teman! Ternyata sekarang sudah pukul empat belas siang!” seruku dengan terkejut ketika aku tidak sengaja melihat ke arah jam dinding.
“Masa sih Rin?” ucap Friska dengan bingung.
“Coba lihat itu!” ujarku sambil menunjuk ke arah jam dinding dan kemudian mereka pun ikut panik karena kami sama sekali belum bersiap-siap untuk renang.
“Kita harus bawa handuk nih!”
“Bawa baju renang juga! Eh tapikan gak ada yang punya baju renang!”
__ADS_1
Mereka terlihat lebih panik dariku sampai aku pun bingung melihat mereka.
“Aku permisi balik ke kamarku ya Kak,” Gita berpamitan kepadaku karena dia juga terlihat panik.
“Iya hati-hati ya,” jawabku dengan singkat dan memintanya untuk hati-hati, maksudnya hati-hati adalah jangan terburu-buru.
“Teman-teman tenang,” ucapku meminta mereka untuk tenang karena aku ingin memberitahu mereka suatu hal yang lupa aku ucapkan kepada mereka.
“Aduh gimana ya?” mereka masih panik, berisik, dan sibuk dengan urusan masing-masing.
“Semuanya tenang!” tegasku dengan suara lantang dan berhasil membuat mereka diam.
“Ada apa Rin?” tanya Friska kepadaku dan kemudian baru lah aku mengucapkan apa yang belum aku ucapkan kepada mereka.
“Kalian hanya perlu membawa handuk karena di kolam renang sudah menyediakan apa yang kita butuhkan termasuk juga baju renang baru,” jelasku kepada mereka dan kemudian mereka pun merasa lega.
“Kenapa gak ngomong-ngomong sih Rin? Kan jadi berantakan bajuku,” ucap Friska sambil membuang dirinya ke atas kasur.
“Ya sudah kalau begitu, ayo kita pergi,” aku mengajak mereka untuk pergi ke kolam renang.
Kami pun keluar dan bersama-sama pergi menuju kolam renang. Kami bertemu Gita ketika kami keluar dari kamar kami. Kemudian kami pun langsung pergi bersama-sama.
“Permisi Mbak, kolam renangnya di mana yah?” tanyaku kepada salah satu karyawan di tengah perjalanan kami menuju ke kolam renang.
“Oh kolam renangnya ada di lantai bawah nanti kalau masih bingung, kalian bisa tanya sama karyawan yang ada di bawah,” jelas Mbak tersebut kepadaku.
“Baik terima kasih ya Mbak,” ucapku sambil tersenyum.
“Sama-sama,” jawab Mbak itu dengan singkat dan kemudian dia pun pergi begitu juga dengan kami.
Kami pun masuk ke dalam lift, ketika kami masuk ke dalam lift dan berbalik badan Mbak tadi pun menghilang tanpa jejak.
“Ke mana perginya Mbak tadi,” gumamku dengan bingung. “Ah mungkin dia masuk ke kamar yang lainnya,” aAku kembali bergumam sambil berpikir positif.
Lift pun mulai tertutup dan seketika Mbak tadi pun tiba-tiba kembali muncul dengan tatapan kosong. Aku mulai curiga bahwa sebenarnya dia bukanlah manusia, aku ingin memberitahu teman-teman, tetapi mereka asik bercerita dan tidak menyadari hal ini.
Sesampainya kami di lantai bawah kami pun langsung keluar untuk bertanya kepada karyawan lainnya tentang di mana letak dari kolam renang dan salah satu dari mereka pun mengantarkan kami ke sana.
“Silahkan masuk,” sambut penjaga kolam renang ketika kami sudah sampai di depan ruangan besar yang di dalamnya terdapat kolam renang yang besar dan luas. Para pengasuh sudah menunggu kami di sana.
“Terima kasih ya Mbak,” ucapku kepada karyawan yang mengantarkan kami tadi.
“Iya sama-sama,” jawabnya dengan singkat dan kemudian dia pun pergi kembali ke kasirnya.
“Kalian terlambat sepuluh menit,” ucap Bu Sofia dari kejauhan.
“Iya Bu maaf,” ucap Friska dengan lembut.
Kemudian Ibu Sofia pun membagikan baju renang kepada kami dan menyuruh kami untuk mengganti baju di kamar mandi dekat kolam renang ini. Setelah itu kami pun keluar dan melakukan pemanasan sebelum akhirnya kami meloncat ke kolam renang.
Byur!
__ADS_1
Aku melompat terlebih dahulu ke dalam kolam renang. Seketika itu aku pun melihat banyak sekali orang yang berenang dan setelah aku keluar dari air ternyata tidak ada siapapun yang berenang. Di sini hanya ada kami saja dan bahkan yang lainnya belum ikut masuk ke kolam untuk berenang. Lantas siapa yang kulihat di dalam air tadi?
Bersambung