![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
Kami terjatuh dari portal dan kembali berkumpul di tempat yang sama. Kami jatuh dalam keadaan tergeletak di atas tanah. Kami sempat merintih kesakitan, akhirnya si Bagas dan Varel bangun membantu aku dan Riana untuk bangkit.
“Kita ada di mana?” tanyaku dengan bingung dan melirik ke sekitar.
“Sepertinya kita berada di dunia yang di mana permainan sebenarnya akan di mulai,” saut Riana sambil melihat lihat ke sekeliling.
Kami berdiri di depan sebuah gerbang bangunan yang terlihat sangat tua dan di belakang kami terdapat hutan yang cukup gelap dan berisik. Suara hewan malam lah yang membuat suara berisik itu. Kami sempat bingung dengan apa yang harus kami lakukan di sini.
“Hai...”
Tiba-tiba terdengar suara yang memanggil dari arah belakang. Kami yang mendengarnya langsung melihat ke arah sumber suara dengan bersamaan.
Kami melihat seorang gadis kecil yang berdiri sambil memeluk bonekanya dan menggenggam gulung kertas di tangan kanannya. Dia mengenakan pakaian putih panjang sama seperti pakaian bonekanya.
“Hai dek! Apakah kamu memanggil kami?” tanyaku sambil menghampirinya dan membungkukkan badan mensejajarkan diri ku dengannya.
“Hati-hati Rin!” ucap Varel memperingatkanku, aku mengangguk dan sejenak melihat ke arah teman-temanku. Kemudian aku pun kembali menatap gadis kecil tadi.
“Hi hi hi…” gadis kecil itu tertawa dan melepaskan gulung kertas dari genggaman tangan kanannya dan kemudian dia pun berlari sambil berjingkrak-jingkrak menuju hutan.
“Dek! Tunggu!” ucapku padanya namun dia tetap berlari dan menghiraukanku. Dia tetap berlari menuju ke arah hutan dan mulai lenyap di telan oleh gelapnya hutan.
Aku mengambil gulungan kertas yang di jatuhkannya dan membawanya kepada teman-temanku.
“Apa itu?” tanya Riana sambil menatap tajam ke arah gulungan kertas yang kubawa.
“Aku juga tidak tahu, Gadis tadi menjatuhkan kertas ini tanpa mengucapkan sepatah kata pun,” jelasku kepadanya.
“Mungkin saja ini adalah petunjuk yang diberikan untuk memecahkan misteri dan menyelamatkan teman-teman kita keluar dari alam ini,” ucap Varel berpendapat.
“Apakah aku boleh memegang kertas itu?” tanya Bagas kepadaku.
“Silahkan,” jawabku sambil memberikan gulungan kertas yang kubawa kepadanya.
Dia pun membuka gulungan kertas tersebut, kemudian kami pun merapat untuk melihat isi gulungan kertas tersebut.
__ADS_1
Di dalam kertas itu tidak ada apa apa namun pada saat kami mau menggulungnya lagi, tulisan ‘Masuk!’ tiba-tiba muncul di kertas tersebut namun hanya beberapa detik saja dan kemudian tulisan itu pun menghilang.
“Aku gak salah lihat, kan?” ucapku bingung setelah melihat tulisan itu yang ada dan tiada secara tiba-tiba.
“Emangnya apa yang kamu lihat Rin?” tanya Bagas kepadaku.
“Aku melihat tulisan ‘Masuk!’ Di dalam kertas itu,” jelasku kepada Bagas.
“Aku juga!” ucap Varel, Riana dan Bagas dengan kompak dan wajah yang tegang. Mereka juga kaget dengan apa yang sudah mereka lihat.
Kami memahami maksud dari tulisan yang ada di kertas tadi, kertas itu memerintahkan kami untuk masuk ke dalam gerbang bangunan tua tersebut.
Krekk.
Suara gerbang yang dibuka oleh Bagas.
“Ayo masuk!” ajak Bagas kepada kami dan kemudian kami pun mengikutinya masuk ke dalam lingkungan gedung tua itu.
Kreeek...
Dar...
Kami kaget dan berlari kembali menuju ke gerbang. Kami menggoyang-goyangkan gerbang berusaha untuk membukanya kembali.
“Aduh! Panas!” ucap Bagas tiba tiba dan menjatuhkan gulungan kertas tadi.
“Kamu kenapa Gas?” tanya Varel dengan bingung.
“Itu Kertasnya tiba-tiba terasa panas,” jawab Bagas dengan singkat dan kemudian Varel pun melihat ke arah kertas tersebut dan kemudian dia pun mengambilnya dengan perlahan.
Dia membukanya dan kemudian membaca tulisan yang tiba-tiba muncul kembali di kertas itu.
“Kalian tidak bisa keluar karena permainan kalian ada di dalam bangunan itu,” Varel membacanya dan setiap kata yang telah dia baca perlahan menghilang.
Kami juga memahami maksud dari tulisan yang baru saja muncul tadi dan kemudian kami pun mengikuti perintah yang telah ditunjukkan oleh kertas tadi.
__ADS_1
Kami berjalan melewati lingkungan bangun ini untuk menuju ke pintu depan.
Dar.. Dar.. Dar..
Bagas dan Varel berusaha untuk mendobrak pintu depan yang terkunci namun pintu tetap tidak bisa terbuka.
“Ikut aku,” ucapku sambil menarik tangan Riana.
“Kita mau ke mana?” tanya Riana namun aku tidak menjawabnya.
Aku membawanya ke dekat gerbang untuk mencari alat yang mungkin biasa membantu untuk membuka pintu.
“Kita cari alat untuk membantu Bagas dan Varel membuka pintu ya!” jelasku kepadanya.
Kami masuk ke dalam locked yang ada di dekat gerbang dan kami pun mencari-cari alat untuk membantu Bagas dan Varel membuka pintu.
“Rin! Aku nemu linggis!” seru Riana kepadaku.
Aku pun berjalan cepat menghampirinya. “Ini sudah cukup,” ucapku kepadanya dan kemudian aku pun mengajaknya kembali menemui Bagas dan Varel di pintu masuk bangunan tua ini.
“Airin, Riana, kalian dari mana sih?” tanya Bagas dari kejauhan namun aku menjawabnya setelah aku berada dekat dengannya.
“Kami baru aja nyari alat untuk membantu kalian,” jawabku.
“Terus mana alatnya?” sambung Varel bertanya kepadaku.
“Itu ada sama Riana.” Aku menunjukkan linggis yang dibawa oleh Riana.
Kemudian Varel pun meminta linggis itu, kemudian dia memukul pintu hingga akhirnya pintu pun tidak terkunci lagi. Aku hendak membuka pintunya, namun sejengkal dari sentuhan tanganku pintu pun terbuka dengan sendirinya.
Aku mundur tiga langkah dan bersama kami tercengang melihat isi bangunan ini. Kami melihat semua barang di tutupi oleh kain putih dan ada banyak lorong koridor di dalam bangunan ini.
Kami memutuskan untuk masuk ke dalam dan tiba-tiba saja pintu masuk, bangunan ini tertutup dengan suara yang terdengar sangat kuat sehingga membuat kami kaget.
Kami terkunci di dalam bangunan yang sangat gelap ini. Kami berdiam diri di tempat untuk menunggu petunjuk dari kertas. Kami tidak berani mengambil keputusan sendiri karena kami takut berjalan ke arah koridor yang salah.
__ADS_1
Kami memutuskan untuk tidak mengambil keputusan sendiri. Kami memutuskan untuk mengikuti arahan dari selembar gulungan kertas yang kami dapatkan dari seorang gadis kecil tadi
Bersambung