The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]

The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]
Chapter.19 Bullying di sekolah


__ADS_3

Pagi ini terasa begitu dingin, langit pun gelap karena tertutup oleh awan. Aku bersama anak-anak yayasan yang lain berangkat ke sekolah kecuali Klara. Mungkin pikirannya sedang kacau gara-gara pertengkaran hebat yang dia alami. Semua itu karena aku, aku sangat merasa bersalah karena akulah pertengkaran antara Klara dan Tatik terjadi.


“Rin kamu lagi mikirin apa?” Friska menyadarkanku dari lamunan.


“Nggak mikirin apa apa kok,” jawabku dengan senyuman.


“Udah masalah Klara jangan kamu pikirkan lagi, pertengkaran mereka terjadi bukan atas sebab darimu Rin!” Friska tahu saja bawah aku sedang memikirkan tentang Klara.


“Kok kamu tahu apa yang aku pikirkan Ka?” tanyaku dengan heran.


“Aduh Airin apa kamu lupa kalau aku ini adalah seorang indigo?” Friska menepuk jidatnya.


“Oh iya aku lupa,” jawabku sambil tersenyum.


Kini aku, Friska, dan Riana sedang duduk di dekat lapangan basket, kami menyaksikan Bima, Bagas, dan kedua teman yang lainnya yang sedang berlatih basket.


Kami duduk bersama sambil menikmati minuman hangat di pagi yang mendung ini. Cemilan juga tidak luput menemani minuman hangat yang sedang kami nikmati.


“Ayo oper,” suara mereka berempat bergema memenuhi lapangan. Mereka saling memberikan aba-aba.


Tes…


Sebutir air turun dari langit dan mengenai pipiku.


“Wah gerimis nih! Kita berteduh yuk,” ajakku kepada Riana dan Friska.


“Iya nih hujan ayo kita berteduh,” ajak Friska lagi.


Kemudian kami pun berlari dan berusaha untuk menghindari tetesan air hujan karena aku takut basah. Kami berteduh tepat di depan kelas X A yaitu kelas kami sendiri.


Tes… tes... tes...


Dengan sepontan hujan turun setelah kami berhasil berteduh.


“Aaa,” teriak Bagas dan tiga temannya yang lain terdengar samar-samar karena di sergai oleh derasnya suara hujan. Mereka datang menghampiri kami.


“Huh.. huh.. huh..” mereka ngos-ngosan, karena baru saja mereka berlari menghindari tetesan air hujan.


“Kalian gimana sih! Udah tahu gerimis kok gak ngasih tahu kita,” timpa Bagas dengan usil.


“Aduh Bagas! Masa sih kalian gak ngerasain ada tetesan air gerimis tadi,” jawab Friska dengan lembut dan senyuman manisnya.


“Au ah! Kita ganti pakaian yuk guys!” Bagas kesal dan kemudian dia meninggalkan kami bertiga dan mengajak ketiga temannya untuk mengganti pakaian.

__ADS_1


“Tu cowok, kok jutek ya?” kata Friska setelah Bagas berada jauh dari kami.


“Mungkin dia lagi pms,” jawabku dengan wajah yang polos dengan maksud menghibur Friska yang terlihat kesal dengan sikap yang ditunjukkan oleh Bagas kepadanya. Dia pun melihat ke arahku dengan tatapan kaget.


“Hahaha…”


Aku berhasil menghiburnya dengan leluconku yang sangat konyol. Dia tertawa lepas dan suara yang sangat keras tetapi tetap samar karena suara hujan yang sangat deras terdengar begitu kencang.


Aku juga ikut tertawa karena melihat Friska tertawa lepas, aku menggelengkan kepalaku karena tidak sanggup menahan tawa.


“Hahaha,” suara tawa terdengar dari samping kiriku dan membuat tawaku dan tawa Friska terhenti.


Friska duduk di samping kananku sedangkan yang duduk di samping kiriku adalah Riana. Karena kami tidak yakin kalau suara tawa itu berasal dari Riana, kami pun langsung menatap ke samping kiri.


“Hahahaha Bagas PMS,” ternyata suara tawa itu benar-benar berasal dari Riana.


Aku dan Friska pun saling bertatapan, seolah tidak menyangka kalau Riana the queen of silent itu bisa tertawa terbahak-bahak bahkan dia hingga batuk batuk.


“Hahaha…”


Kami pun kembali tertawa dan akhirnya kami bertiga tertawa bersama dengan suara yang sangat besar dan kami memuaskan tawa kami. Kami dengan percaya diri tertawa keras karena kami yakin suara hujan dapat menyemarakkan suara tawa keras yang kami keluarkan.


“Permisi, apakah kamu yang bernama Airin?” seorang gadis menghampiri kami dan bertanya kepadaku.


“Bu guru memanggilmu!” jawabnya dengan singkat.


“Ya sudah kalau begitu ayo Rin! Kami temani kamu ke kantor,” kata Friska setelah seorang gadis itu menjawab pertanyaan dariku.


“Tidak bisa! Karena Ibu hanya ingin berbicara dengannya,” gadis itu memotong percakapanku dengan Friska ketika aku hendak menjawab tawaran dari Friska.


“Ya sudah kalau begitu,” jawab Friska dengan singkat dan kembali duduk bersama Riana.


“Aku pergi ya,” kataku berpamitan kepada mereka berdua.


“Iya, jangan lama-lama ya!” jawab Friska sambil melambaikan tangan kepadaku.


“Bye bye,” Aku pun merespon lambayan darinya.


Kemudian aku dan gadis itu pun pergi menuju ke kantor, Aku berjalan bersamanya tanpa memasang perasaan curiga karena aku baru saja selesai tertawa.


“Eh,” aku berhenti karena gadis itu tidak membawaku ke kantor sekolah.


“Kenapa?” tanyanya kepadaku.

__ADS_1


“Bukannya kantor ada di sana ya!” jawabku sambil menunjuk ke arah kantor.


“Siapa bilang kita mau ke kantor?”


Tiba-tiba ada yang menutup mulutku dan menyeretku masuk ke dalam kelas yang asing.


“Dasar anak aneh,” orang itu mendorongku hingga aku terjatuh di tengah kerumunan orang-orang yang wajahnya terlihat jahat.


“Ini ada apa ya?” tanyaku dengan polos.


“Ada apa! Ada apa! Gak sadar diri lu!” jawab Tatik yang baru saja datang dari belakang kerumunan orang-orang.


“Tatik?” kataku dangan tanda tanya.


“Iya ini saya! Muka saya lecet gara-gara kamu!” dia membentakku.


“Kok aku sih? Kan kamu berantemnya sama Klara, bukan aku! Lagipula apa salahku? Aku baru saja masuk ke sekolah ini,” protesku kepadanya sehingga membuat ekspresi wajahnya semakin marah.


“Bacot lu bocah! Rina! Lia! Pegangin tangan ni bocah,” perintahnya kepada kedua temannya dan kemudian kedua temannya pun memegangi kedua tanganku.


“Apa-apaan sih! Lepasin gwe!” aku memberotak dan berusaha melepaskan diri.


“Diam kamu!” kata Tatik lalu melepaskan dasinya dan kemudian dia membalutnya dasinya ke mulutku sehingga aku tidak bisa berbicara.


“Hai teman-teman!” dia menyapa teman-temannya yang sedang mengerumuniku.


“Hallo,” jawab mereka dengan gemuruh.


“Kita sikat yuk!!” ajak Tatik kepada tema-ttemannya.


“Yuk...” jawab temannya dengan kompak, lalu mereka semua membully ku dengan berbagai cara.


Aku terus berusaha untuk melepaskan diri tetapi tak bisa, aku hanya bisa menangis dan menerima bully dari mereka.


Mereka terdiri dari sekitar dua belas anak perempuan dan delapan anak laki-laki. Mereka menjambakku, dan mencoret wajahku dengan berbagai alat tulis.


Kemudian setelah mereka puas memperlakukan diriku dengan tidak layak, mereka pun bersama-sama membawaku ke kamar mandi sekolah. Mereka memandikanku dengan air yang banyak sehingga membuatku sulit untuk bernapas.


“Kami membencimu!” kata Tatik lalu dia mengunciku di dalam kamar mandi sekolah.


Aku merasa tidak berdaya lagi untuk teriak meminta pertolongan. Aku merasa sangat lemas dan akhirnya aku pun tergeletak di lantai dengan tidak sadarkan diri.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2