![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
“Aaaaaa!” teriakan-teriakan terdengar dari para tawanan yang di kurung, sepertinya mereka adalah tawanan keempat penari ini.
“Aduh!” ucapku ketika kedua penari menjatuhkanku dari ketinggian di hadapan sosok-sosok yang misterius, mereka menggunakan jubah merah bertudung layaknya para pemuja setan.
“Aduh!” ucap Varel ketika dua penari lainnya menjatuhkannya di sampingku.
Aku mendekati Varel untuk menanyakan apakah dia baik-baik saja, kemudian kami pun saling berpegangan tangan untuk saling menguatkan agar kami sedikit lebih berani untuk menghadapi keempat penari dan sosok-sosok misterius yang lainnya, yang berada di sekeliling mereka.
“Ikut dengan kami!” ucap empat pria yang menggunakan jubah hitam layaknya malaikat pencabut nyawa, mereka keluar dari kerumunan sosok-sosok yang misterius. Mereka melerai kami dan menyeret kami melewati para sosok-sosok yang misterius itu.
“Airin! Mustika merah delimanya!” ucap Varel seolah mengingatkanku untuk menghadapi rintangan dengan menggunakan mustika merah delima.
“Baik!” jawabku sebelum akhirnya mulut kami masing-masing ditutup menggunakan kain putih oleh keempat pria yang menggunakan jubah hitam.
“Haaaa… Haaaa… Haaaaa…” suara nyanyian terdengar seperti sedang melakukan doa atau ritual penyembahan.
Pria-pria berpakaian aneh tadi melepaskan kami di sebuah singgasana yang di tempati oleh Keyla. Aku yakin bahwa yang sedang duduk di singgasana itu adalah Keyla, dia mengenakan pakaian pengantin dan duduk dengan anggun di atas kursinya.
“Keyla!” aku melepaskan kain putih yang menutupi mulutku dan kemudian aku pun berseru menyebut namanya. Dia melihatku, dan kemudian dia pun menghampiriku.
“Apakah saya pernah kenal dengan kamu cantik?” tanya Keyla dengan logat yang tidak biasa, dia bertanya seolah dia tak pernah mengenalku.
“Ini aku key, Airin! Aku adalah sahabatmu!” jawabku atas pertanyaannya yang angkuh tadi.
“Maaf, saya tidak mengenali Anda! Setahu saya Anda adalah sajen yang sudah disiapkan para pengikut saya untuk saya santap malam ini,” ucap Keyla dan kemudian dia mencekik leherku tanpa sentuhan sedikit pun.
“Airin! Mustikanya!” ucap Varel dari kejauhan ketika dia melihatku melayang di udara. Dia mengingatkanku untuk menggunakan mustika merah delima untuk melawan Keyla.
Aku mengambil mustika merah delima itu dari dalam kantong bajuku dan kemudian aku pun mengarahkannya ke arah Keyla dan kemudian mustika merah delima itu pun memancarkan cahaya yang sangat terang sehingga membuat Keyla teriak sekuat tenaga.
Bruk.
Aku terjatuh setelah pancaran sinar mustika merah delima menyerang Keyla, sehingga Keyla mengeluarkan asap hitam dari tubuhnya.
“Lepaskan Varel!” seruku mengancam kedua pria yang menahan Varel.
“Ha ha ha ha!” kedua pria itu tertawa dan membuka mulutnya lebar-lebar sampai mulut mereka berdua sobek dan mengeluarkan darah, sepertinya itu adalah kode tantangan dari mereka berdua.
“Kalian tidak mau melepaskannya? Kalau begitu kalian harus aku musnahkan dengan mustika ini,”
Aku kembali mengancam dan kemudian aku mengarahkan mustika merah delima ke arah kedua pria tersebut.
“Aaarrrgggghh!” mereka berdua berteriak kesakitan dan melepaskan Varel dari genggaman mereka, kemudian mereka berdua pun melangkah menghampiriku seolah ingin menyerangku.
“Ampun!” ucap mereka berdua sambil berteriak sebelum akhirnya mereka pun musnah menjadi debu berwarna hitam.
Tenyata dengan musnahnya kedua pria berjubah hitam itu membuat para sosok berjubah merah ketakutan dan melayang tidak beraturan bagaikan burung-burung yang sedang terancam. Mungkin mereka takut akan mustika merah delima ini.
“Airin!” seru Varel kemudian dia menghampiriku. “Apa kamu baik-baik saja?” tanya Varel dengan khawatir.
“Syukurlah Rel aku baik-baik saja,” jawabku sambil tersenyum kepadanya dan kemudian dia pun memelukku.
“Tolong…”
Tiba-tiba terdengar suara orang yang minta tolong dan kemudian Varel pun melepaskan pelukannya.
__ADS_1
“Suara siapa itu?” tanya Varel kepadaku tetapi karena aku juga tidak tahu, aku pun menggelengkan kepalaku kepadanya dan kemudian aku tidak sengaja melihat ke arah Keyla yang terlentang dan merintih kesakitan.
“Itu Keyla!” ucapku dengan spontan dan kemudian aku pun langsung menghampirinya.
“Tunggu!” ucap Varel sambil menahanku.
“Kenapa Rel?” aku bertanya kepadanya.
“Apakah kamu yakin kalau dia itu adalah Keyla?” tanya Varel dengan tatapan yang penuh dengan kecurigaan sehingga sempat membuatku berpikir dan juga curiga kalau wanita yang merintih meminta pertolongan itu bukanlah Keyla.
“Aku yakin kalau dia adalah Keyla,” jawabku setelah aku berpikir sejenak, kemudian aku pun kembali melangkah menghampiri Keyla.
“Alasan apa yang bisa meyakinkanku bahwa wanita itu adalah Keyla, sahabatmu?” Varel kembali menahanku dan kali ini dia meminta alasan yang bisa meyakinkannya bahwa wanita itu benar benar Keyla.
“Apakah kamu melihat kedua pria yang menggunakan jubah hitam tadi? Mereka musnah menjadi debu setelah mereka terkena pancaran sinar mustika merah delima ini, dan kamu juga bisa melihat reaksi wanita itu ketika dia terkena pancaran sinar mustika merah delima. Dia berteriak kesakitan tetapi dia tidak musnah! Dia hanya mengeluarkan asap hitam dari tubuhnya dan aku yakin bahwa gadis itu benar-benar Kayla,”
Dengan panjang lebar aku pun menjelaskan alasan yang bisa meyakinkan Varel bahwa wanita itu adalah Keyla.
“Apakah alasan itu bisa kamu terima Rel?” tanyaku kepadanya.
“Ya,” jawabnya dengan singkat dan kemudian aku dan Varel pun menghampiri Keyla.
“Tolong!” Keyla terus merintih kesakitan dan meminta pertolongan sehingga akhirnya aku dan Varel pun datang untuknya.
“Keyla!” ucapku dan kemudian aku pun duduk di sampingnya.
“Tolong gue Rin!” ucap Keyla dengan suara yang tidak berdaya.
“Iya Key, gue bakalan nolongin lu kok! Lu yang kuat yah!” jawabku dengan bingung dan sangat khawatir.
“Key, lu kenapa?” aku semakin khawatir melihat Keyla memuntahkan darah dari dalam mulutnya.
“Rel, lakukan sesuatu untuk Keyla,” aku meminta pertolongan kepada Varel.
“Uhuk uhuk…” Keyla kembali memuntahkan darah dari dalam mulutnya sehingga membuatnya begitu pucat.
“Ayahku pernah bilang kalau pancaran sinar mustika merah delima bisa menyembuhkan roh dari sisa-sisa energi negatif, mungkin Keyla bisa di sembuhkan oleh pancaran sinar mustika merah delima itu,”
Varel memberi tahuku tentang kegunaan mustika merah delima yang belum pernah kuketahui sebelumnya.
“Baik lah kalau begitu,” ucapku setelah Varel menjelaskan kalau dengan mustika merah delima ini aku bisa menyembuhkan Keyla dari sisa-sisa energi negatif yang menempel di tubuhnya.
Aku pun langsung mengarahkan mustika merah delima ini kepada Keyla dengan niat membersihkan Keyla dari energi negatif yang menempel bersamanya.
“Aaaa sakit…” Keyla pun kesakitan ketika aku memancarkan sinar mustika merah delima ini kepadanya sehingga membuatku tidak tega dan menghentikan pancaran sinar mustika merah delima ini.
“Kenapa berhenti Rin?” tanya Varel kepadaku.
“Aku tidak kuat untuk melakukan hal ini Rel,” jawabku kepadanya.
“Kalau begitu berikan mustika merah delima itu kepadaku, biar aku saja yang melakukannya dan kamu temani Keyla saja,” Varel meminta mustika merah delima untuk menyembuhkan Keyla dan aku pun memberikan mustika merah delima ini kepadanya, kemudian aku pun mendekati Keyla untuk menemaninya dan menguatkannya.
“Aaaaa!” Keyla kembali teriak ketika pancaran sinar mustika merah delima itu menerpanya.
“Yang kuat ya Key! Ini semua demi keselamatanmu,” ucapku menguatkan Keyla sambil menggenggam tangannya, sedangkan Varel tetap memancarkan sinar mustika merah delima ke arah Keyla dan kini cahaya itu semakin terang sehingga membuat Keyla berteriak semakin kuat.
__ADS_1
“Airin…” Keyla menyebut namaku setelah sinar mustika merah delima itu redup dan kini Keyla terlihat lebih baik dari sebelumnya.
“Keyla!” aku menyahut dan kemudian aku pun memeluknya dengan penuh kebahagiaan.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Varel kepadaku dan aku menjawabnya setelah aku melepaskan pelukanku dari Keyla.
“Kita harus keluar dari singgasana ini,” jawabku kepada Varel dan kemudian aku membantu Keyla untuk bangkit dan berdiri tegak.
“Kalau begitu tunggu apa lagi? Airin, Keyla, ayo kita keluar dari singgasana ini,” Varel mengajak aku dan Keyla untuk keluar dari dalam singgasana ini.
“Baiklah,” jawabku, kemudian aku dan Keyla mengikuti Varel dari belakang, kami bersama sama melangkah keluar dari singgasana menyeramkan ini.
Kretek! Kretek!
Tiba-tiba suara retakan terdengar dari arah belakang.
“Bangunannya akan runtuh!” ucap Varel dan kemudian dia menyuruhku dan Keyla untuk cepat-cepat keluar dari singgasana ini dengan cepat.
Bruk!
Singgasana pun akhirnya rubuh dan untungnya kami sudah berhasil pergi dari situ dengan selamat.
Ting tang ting tung…
Suara gamelan pun kembali terdengar dengan membawa firasat buruk.
“Varel bersiaplah untuk melawan rintangan selanjutnya karena kau lah yang memegang mustika merah delima itu,” ucapku mengingatkan Varel agar bersiap untuk menghadapi rintangan apa pun yang akan datang untuk menyerang kami.
“Baiklah Rin!” jawab Varel dengan singkat.
Kemudian kami pun melanjutkan langkah kami untuk menghampiri sumber suara gamelan tersebut.
“Hi Hi Hi…” suara tawa menyeramkan pun keluar mengiringi langkah kami dan sesekali sosoknya pun keluar untuk mengganggu aku dan Keyla, tetapi dengan tekat yang kuat kami pun menguatkan diri masing-masing untuk terus melangkah menuju ke arah yang sedang kami tuju.
“Lingsir wengi sliramu tumeking sirno,
Ojo tangi nggonmu guling,
Awas jo ngetoro,
Aku lagi bang wingo wingo,
Jin setan kang tak utusi,
Dadyo sebarang,
Wojo lelayu sebet…”
Suara lantunan sinden kembali terdengar menyertai suara gamelan setelah kami semakin dekat dengan sumber suara tersebut.
“Rin! Gue takut!” ucap Keyla sambil menggenggam tanganku dengan erat.
“Kamu tidak perlu takut Key, ada aku dan Varel di sini!” ucapku kepadanya dan kemudian dia pun mengangguk dengan senyuman kecil.
Bersambung
__ADS_1