![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
Jebur!
Kami melompat ke danau dengan masih saling berpegangan tangan. Setelah sempat tenggelam cukup dalam, kami pun kembali berenang keluar permukaan untuk mengambil napas dan berbincang sejenak sebelum ombak datang menerpa.
“Bagaimana keadaan Gita?” tanyaku kepada Varel.
“Dia baik-baik saja,” jawab Varel dengan singkat.
“Kak, lihat itu,” ucap Dara menunjuk ke arah ombak yang ternyata sudah cukup dekat dengan kami.
“Semuanya menyelam!” perintah Varel dengan refleks ketika dia melihat ombak yang mulai mendekat dan kemudian kami pun mengikuti perintah Varel tanpa berpikir panjang.
Wuss!
Ombak pun masuk ke danau dan air nya pun bersatu dengan hebat sehingga menciptakan arus air yang sangat deras dan membuat kami terpisah karena tidak kuat untuk tetap saling berpegangan tangan.
Aku panik karena dengan secepat kilat Friska dan yang lainnya menghilang dari pandanganku, aku terombang-ambing dan terus berusaha untuk berenang ke atas berharap aku bisa kembali ke tepi danau agar aku bisa sejenak mengambil napas dan kemudian baru aku akan menolong yang lainnya.
“Apakah ini akhir dari segalanya?” gumamku ketika tak kunjung bisa berenang naik ke atas permukaan danau. “Aku harus kuat!” aku kembali bergumam dan kemudian berusaha untuk naik ke permukaan danau dengan sekuat tenaga.
“Mungkin benar ini adalah akhir dari hidupku,” aku kembali bergumam setelah beberapa kali mencoba untuk berenang ke atas permukaan danau.
Aku tetap tidak berhasil bahkan tenagaku sudah terkuras habis dan rasa takut sehingga membuatku pasrah dengan apa pun yang akan terjadi kepadaku.
Aku sudah tidak bisa lagi untuk menahan napasku dan ketika aku mencoba untuk bernapas air pun masuk layaknya udara yang kuhirup, kemudian aku merasakan perih pada hidung hingga kemudian aku tak bisa melihat apa pun. Bahkan mungkin aku sudah tidak sadarkan diri atau mungkin aku sudah mati dan rohku akan abadi di dalam alam mistis ini.
“Airin, bangun Nak!” suara Mama terdengar membangunkanku dan aku juga merasakan tangannya yang menggoyang-goyangkanku agar bangun dari tidurku.
“Apakah aku sedang tertidur?” gumamku dengan perasaan tidak yakin dan kemudian aku pun mencoba untuk membuka mataku dengan perlahan.
__ADS_1
“Hah!” aku kaget ketika membuka mataku, aku terbangun di atas ranjang kamar tidurku dan semua ini terasa sangat nyata.
“Mama!” seruku setelah aku meyakinkan diri bahwa aku baru saja bangun dari tidur panjangku, dan aku juga meyakinkan diriku bahwa apa pun yang terjadi padaku tadi hanyalah sebuah mimpi buruk belaka.
“Airin kangen Mama!” ucapku menangis sambil memeluk Mama dengan erat.
“Kenapa kamu rindu Nak, kan Mama selalu bersamamu di setiap saat,” jawab mMma sambil mengelus pundakku.
“Berarti benar tadi aku hanya bermimpi saja,” gumamku lagi di dalam hati.
“Papa di mana Ma?” aku melepaskan pelukanku dan menanyakan keberadaan Papa.
“Papa di ruang tamu Nak,” jawab Mama memberitahukan keberadaan Papa kepadaku.
“Aku ke ruang tamu Ma,” aku berdiri dan mengajak Mama keluar untuk pergi ke ruang tamu menjumpai Papa.
“Papa,” aku menyebut Papa dan kemudian aku memeluk Papa dengan erat yang mana Papa membaca koran dengan santai di atas sofa dengan di temani oleh secangkir kopi.
“Airin kangen Papa,” ucapku sambil kembali menangis.
“Kok kangen, setiap hari kan Papa bersamamu Nak,” ujar Papa sambil tersenyum.
“Benarkah begitu Pa? Tetapi aku sudah lama tertidur dan di dalam mimpi aku kehilangan Papa dan Mama, karena Papa dan Mama mengalami kecelakaan pesawat dan tidak kunjung ditemukan oleh pihak yang berwajib,” jelasku kepada Papa sambil menangis tersedu-sedu.
“Itu bukan mimpi Nak,” saut Mama sambil tersenyum dan air mata pun mulai mengalir membasahi pipinya.
“Maksud Mama?” tanyaku dengan tidak terima karena aku baru saja meyakinkan diriku bahwa aku baru saja bangun dari mimpi buruk yang sangat menakutkan.
“Itu tadi bukan mimpi buruk Nak, apa yang telah kami alami sebelumnya adalah sebuah kenyataan,” ucap Mama kepadaku sambil mengusap air mataku yang sejak tadi sudah mengalir cukup deras.
__ADS_1
“Mama jangan bicara seperti itu,” ucapku menggelengkan kepalaku karena aku tidak mau kalau papa dan mama benar benar sudah tiada.
“Yang sudah terjadi biarlah terjadi Nak, ikhlaskan kepergian kami berdua dan tetaplah jalani hidupmu sebagaimana semestinya,” sambung Papa yang membuat tangisku semakin menjadi.
“Kalau begitu, aku tidak mau kembali ke alam nyata,” tegasku kepada Papa dan Mama sambil mencoba untuk menyegarkan diri.
“Jangan seperti itu Nak, kamu adalah satu-satunya semangat bagi Kakak-kakakmu, jika kamu ikut bersama kami maka mereka akan merasa tersiksa Nak,” Mama menasehati ku agar mau kembali untuk tetap bertahan hidup demi kedua Kakakku.
“Tetapi Kak Haura sudah membenciku sekarang Ma,” bantahku mencari alasan agar aku tetap bisa berada bersama Papa dan Mama di alam ini.
“Kalau begitu kamu harus kembali untuk Kak Adit yang sangat menyayangimu Nak,” jawab Mama kembali untuk mencari alasan agar aku mau kembali ke alam nyata.
“Kenapa Mama tidak mau membiarkan aku tinggal di sini?” bantahku dengan lantang.
“Bukan begitu Nak, Mama dan Papa melakukan ini agar kalian tidak tersiksa,” jawab Papa berusaha memberikan pengertian kepadaku.
“Pokoknya aku tetap mau berada di sini bersama Papa dan Mama,” ujarku dengan kesal dan masih menangis dengan tersedu-sedu.
“Sekarang Papa tanya, apa yang kamu rasakan ketika kamu kehilangan Papa dan Mama, Nak? tanya Papa kepadaku dan aku pun tidak bisa menjawabnya.
“Pastinya kamu merasakan duka yang sangat dalam kan Nak?” Papa kembali bertanya kepadaku dan aku pun hanya mengangguk dan menangis untuk merespon pertanyaan dari Papa.
“Nah itu lah yang akan di alami Kakak-kakakmu jika kamu tidak mau kembali ke alam nyata, cukup dengan kepergian kami membuat Kakak-kakakmu terpukul, jangan sampai kamu menyusul Papa dan membuat mereka terpukul Nak, kasihanilah Kak Adit sebagai tulang punggung keluarga sekarang ini,” jelas Papa yang kembali berusaha untuk memberikan pengertian kepadaku.
Aku berpikir sejenak tentang apa yang telah di katakan Papa tadi dan aku pun setuju dengan pengertian yang di berikan Papa, aku tidak ingin membuat Kakak-kakakku kembali terpukul.
“Baiklah kalau begitu Pa, Ma, aku mau kembali ke alam nyata,” ujarku setelah beberapa kali mendengarkan pengertian dan pengertian terakhir yaitu pengertian yang telah diberikan oleh Papa berhasil membuatku luluh dan mau kembali ke alam nyata.
Mama dan Papa pun tersenyum mendengar pernyataanku tadi dan kemudian mereka pun mengelus kepalaku sehingga aku tertidur di atas sofa.
__ADS_1
Bersambung