The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]

The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]
Chapter.75 Klara


__ADS_3

“Tolong jagalah Airin dengan baik, aku akan menggantikannya untuk menyelamatkan yang lain,” ucap Friska yang mulai stabil keadaannya.


“Aku ikut,” ucap Riana kepada Friska.


“Tidak usah, kamu harus tetap di sini untuk menjaga mereka semua,” jawab Friska dengan tegas dan kemudian dia pun inisiatif mengambil HT dari kantongku, lalu dia pun langsung pergi meninggalkan ruangan monitor.


Dia berjalan menuju tangga yang menghubungkan basement ini dengan gudang sembako yang ada di dalam dapur. Kemudian dia pun memanjat tangga itu dan lalu dia pun berusaha untuk membuka pintu basement yang terasa berat.


“Uh..” setelah sekuat tenaga dia berusaha untuk membuka pintu itu akhirnya dia pun berhasil dan kemudian dia keluar ke gudang sembako.


“Cek-cek, apakah ada arahan?” Friska berkomunikasi melalui HT dan kemudian si pengawas monitor pun menjawabnya tetapi tiba-tiba suara HT pun rusak dan mulai tidak jelas.


“Cek.. cek.. Halo! Apakah ada masalah?” tanya Friska kembali melalui HT, namun keadaan HT tidak kunjung berubah dan malah semakin parah HT pun mati secara tiba-tiba dan membuat Friska kesal.


“Alat yang gak berguna, aku gak butuh alat ini!” ucap Friska dengan kesal dan kemudian dia pun melempar HT tersebut ke tembok hingga membuat HT pecah.


“Aku kan punya kemampuan mendeteksi hal-hal yang berhubungan dengan alam gaib. Yang perlu kulakukan saat ini adalah mencari penutup mata agar aku bisa fokus dalam mendeteksi,” pikir Friska dan kemudian Friska pun langsung berpikir untuk mencari kain yang bisa di gunakan untuk menutupi matanya.


“Nah, aku dapat serbet,” serunya ketika menemukan kain yang bisa di gunakan untuk menutupi matanya.


Dia tak perlu waktu lama untuk mendapatkan serbet itu karena saat ini dia berada di dalam gudang yang pastinya menyimpan banyak hal-hal yang diperlukan.


Friska menggulung serbet itu dan kemudian dia pun menutupi matanya dengan serbet, dia mengikatkan serbet itu di kepalanya.


“Huh,” Friska menghembuskan napas lega dan kemudian dia pun bersiap untuk mencari Kak Amara, Kak Aditya, Kak Marlina dan Ibu Sofia. Friska harus membawa mereka ke tempat yang lebih aman, yaitu basement.


Friska mulai beraksi dengan sangat hati-hati, dia dapat mendeteksi keberadaan apa pun selama yang ingin dia deteksi maksimal berjarak lima meter darinya.


“Hi Hi Hi…” tawa iblis itu terdengar dan Friska pun mengetahui bahwa iblis itu berada di sekitarnya, maka dari itu dia menahan napas agar si iblis itu tidak mencium aroma Kematian darinya.


Mungkin dari kalian ada yang bertanya mengapa aku tidak melakukan cara Friska untuk menghadapi si manusia iblis itu? Jawabannya adalah karena aku masuk ke dalam golongan baru dikemampuan khusus seperti ini, aku tidak seperti Friska yang sudah memiliki banyak pengalaman dengan kemampuannya.


Setelah manusia iblis itu sudah cukup jauh, Friska pun kembali beraksi untuk mencari yang lainnya, dan di tengah perjalanan tiba-tiba saja Friska bertemu dengan Kak Marlina yang terlihat begitu ketakutan.


“Friska tolong Kakak,” ucap Kak Marlina kepada Friska. kemudian Friska pun membuka penutup matanya tanpa ragu.

__ADS_1


“Kak Marlina!” seru Friska setelah membuka penutup matanya. “Syukurlah aku bertemu dengan Kakak, ayo ikut aku Kak ke tempat yang lebih aman,” ucap Friska kepada Kak Marlina tanpa rasa curiga sedikitpun.


“Baik, tapi sebelum itu kamu harus ikut Kakak untuk menjemput Bu Sofia di ruangan medis,” ucap Kak Marlina menyetujui ajakan Friska tetapi sebelumnya Friska harus ikut bersama Kak Marlina untuk menjemput Bu Sofia di ruangan medis. Lagi-lagi Friska setuju tanpa rasa curiga sedikitpun terhadap ka Marlina.


“Bu Sofia!!” sesampainya di ruang medis, Friska pun teriak histeris karena melihat jasad Bu Sofia yang sudah tidak bernyawa lagi. Dia sangat sedih dan juga merasa panik.


“Kak! Ibu Sofia sudah tiada, sebaiknya Kakak segera pergi bersamaku agar Kakak dan aku tetap aman dan nanti kita akan memikirkan bagaimana caranya untuk mengakhiri ini semua tanpa ada korban jiwa lagi,” ucap Friska kepada Kak Marlina dengan sangat buru-buru, dia sangat panik.


Kemudian Friska pun langsung meraih tangan Kak Marlina dan mengajaknya untuk pergi mengikutinya, namun Kak Marlina tetap diam.


“Tunggu apa lagi Kak? Kita harus segera pergi ke basement!” ucap Friska kepada Kak Marlina yang menahan diri di tempat.


“Eheh..” tiba-tiba Kak Marlina tersenyum lebar dan berbalik memegang tangan Friska.


“Ternyata kamu!” ucap Friska yang sudah menyadari bahwa yang bersamanya sekarang bukanlah Kak Marlina, sekarang dia sedang bersama dengan si manusia berjiwa iblis itu.


“Lepaskan aku!” Friska pun memberontak dan berusaha melepaskan tangan si manusia iblis itu dari tangannya.


“Ha Ha Ha... kalian pikir kalian bisa lari dariku dan memikirkan cara untuk mengakhiri kejahatanku tanpa adanya korban jiwa lagi hah?” ujar iblis itu bertanya dengan suara menyeramkan dan kemudian dengan perlahan dia pun berubah menjadi wujud aslinya yang sangat menyeramkan.


“Kau tidak menjawabnya,” manusia iblis itu kesal dan kemudian dia pun langsung mencekik leher Friska dan membuka mulutnya. Dia menghirup energi Friska sehingga membuat nyawa Friska menghilang.


“Ha Ha Ha... Aku sudah melengkapi seluruh tumbalku dan kini aku bisa pergi meninggalkan alam ini,” ucap si manusia iblis itu dengan girang dan kemudian tiba-tiba saja dia melihat ke arah CCTV.


“Kalian jangan berbahagia dulu! Karena setelah kepergianku nanti arwah penasaran akan hadir untuk menganggu kalian! Mereka adalah korban-korban sadis dari kejahatanku! Ha Ha Ha…” ucap si manusia iblis itu kepada CCTV seakan dia mengetahui keberadaan kami yang saat ini sedang berada di dalam ruang monitor CCTV. Si manusia iblis itu musnah dengan tawa terakhirnya.


Di lain sisi, Kak Amara dan Kak Aditya pergi untuk mencari kami yang masih hidup, dan di tengah perjalanan mereka berdua pun bertemu dengan Klara.


“Hai Kak Amara, Kak Aditya!” Klara menyapa Kak Amara dan Kak Aditya. Lalu Kak Amara dan Kak Aditya pun merasa ragu dengan apa yang sedang dilihat oleh mereka berdua


“Klara? Kok kamu bisa di sini?” tanya Kak Amara dengan bingung.


“Itu tidak penting, nanti aku akan menceritakannya kepada Kakak. Untuk sekarang aku akan mengumpulkan kamu bersama teman-teman yang selamat dari kejaran si manusia iblis itu,” ucap Klara dengan senyuman manisnya.


“Tunggu, kamu benar-benar Klara, kan?” tanya Kak Amara untuk meyakinkan bahwa dia benar-benar Klara.

__ADS_1


“Iya Kak, Kakak bisa ngerasain energi positif dariku, kan? Jadi Kakak gak usah ragu!” jawab Klara sambil tersenyum. Jawabannya cukup meyakinkan dan kemudian Kak Aditya dan KaK Amara pun mengikuti Klara yang akan mengantar mereka ke tempat kami yang selamat dari si manusia iblis itu.


Klara mengajak mereka berdua ke dapur, dan bahkan dia juga membawa Kak Aditya dan Kak Amara ke basement sehingga akhirnya mereka pun sampai di ruangan monitor CCTV.


Sesampainya di ruang monitor, mereka pun merasa sangat lega dan mereka juga saling menyapa dan berpelukan.


“Dari mana Kakak bisa sampai sini? Kan Kak Friska sudah tiada, siapa yang menuntun Kakak kemari?” tanya Dara kepada Kak Amara.


“Apa? Friska sudah tiada?” KaK Amara menangis.


“Klara yang mengantarkan kami ke sini,” sambung Kak Aditya menjelaskan kepada Dara dan kemudian dia pun menepuk pundak Kak Amara untuk menenangkannya.


“Apa? Kak Klara? Aku rindu Kakak,” ucap Dara setelah dia melihat Klara yang tersenyum manis di depan pintu. Dara berlari menghampiri Klara untuk memeluknya, dia ingin melepaskan rindunya dengan Klara.


Huss.


Seketika mereka semua kaget melihat Dara menembus tubuh Klara.


“Klara? Kamu?” ucap Riana dengan wajah sedihnya.


“Iya! Waktuku tinggal sebentar, sekarang aku harus pamit untuk menuju ke alam selanjutnya,” jawab Klara dengan senyuman dan jawabannya itu sangat membingungkan.


“Kenapa kamu bisa meninggal?” tanya Riana dengan tangisnya. Namun Klara tidak menjawab dan perlahan dia berubah menjadi cahaya terang yang indah dan kemudian di pun pergi meninggalkan kami.


“Kak Klara,” ucap Dara yang sangat terluka dan kemudian Kak Amara pun menghampirinya untuk memberikan pengertian kepada Dara.


Kepergian Klara sangat membingungkan dan meninggalkan banyak tanda tanya. Kepergiannya menambah duka yang kami rasakan atas kepergian tiga belas anggota yayasan Rumah Batin yang terdiri dari anak asuh dan para pengasuh.


Ini semua benar-benar manjadi ujian yang terberat bagi kami, dan ujian di sini belum selesai karena setelah ini mungkin akan ada arwah penasaran yang menyerang kami. Itu semua di ucapkan oleh manusia iblis itu sebelum dia pergi ke alam selanjutnya.


“Apa ini!!” ujar pengawas CCTV dan kemudian kesedihan mereka pun seketika teralihkan oleh pengawas tersebut.


Dengan penasaran, mereka pun melihat monitor CCTV dan yang membuat mereka kaget adalah kehadiran para arwah penasaran yang mulai berkeliaran di koridor-koridor villa merah ini. Mereka mulai panik dan di sisi lain aku juga masih tidak sadarka diri


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2