The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]

The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]
Chapter.63 Berlibur ke Alas Sirno


__ADS_3

Kami duduk di bangku-bangku yang ada di taman dan sebagian ada juga yang bermain. Mungkin kupikir kami akan terus seperti ini sampai waktu libur selesai.


“Anak-anak, Eyang Darmo sudah datang, Ibu akan memberikan kalian waktu kurang lebih tiga puluh menit untuk bersiap-siap,” Bu Sofia datang menghampiri kami untuk memberi instruksi agar kami bersiap-siap dan instruksinya itu membuat Kami bingung.


“Bersiap-siap untuk apa Bu?” tanya Riana karena dia tidak bisa menahan rasa ingin tahunya, di lain sisi dia pun mewakili kami yang juga ingin tahu apa maksud dari instruksi dari Bu Sofia tersebut.


“Perasaan tidak ada pengumuman sebelumnya, lalu kami harus bersiap siap untuk apa,” gumamku sambil berpikir, kemudian sebelum menjawab pertanyaan dari Riana, Ibu Sofia tersenyum sejenak dan kemudian baru dia menjawab pertanyaan tadi.


“Kita akan pergi ke Alas Sirno untuk berlibur sekaligus mengasah kemampuan indigo yang kalian miliki,” jawab Bu Sofia sambil tersenyum ceria.


“Beneran Bu?” tanya Dara dengan sedikit ragu.


“Eem, iya!” Ibu Sofia kembali tersenyum dan mengangguk serta mengucapkan kata ‘ya’ yang berarti kami akan benar-benar berlibur dan waktu libur akhir tahun ini tidak terbuang sia-sia.


“Hore!!” sorak kami dengan perasaan gembira sehingga membuat teman-teman yang tadinya bermain penasaran dan kemudian mereka pun menghampiri kami.


“Ada apa ini? Kenapa kalian terlihat sangat bahagia?” tanya Bagas kepada kami dan kemudian kami pun menjelaskan apa yang telah di jelaskan Bu Sofia tadi kepada mereka.


Mereka sempat tidak percaya dan menanyakan pertanyaan yang sama seperti Riana tadi dan Bu Sofia pun menjawab pertanyaan mereka sama seperti jawabannya kepada Riana tadi.


Sontak mereka pun berteriak gembira sebagai mana kami ketika berteriak tadi pada saat mendengar kabar gembira dari Bu Sofia.

__ADS_1


“Kalau begitu tunggu apa lagi? Waktu kalian untuk bersiap-siap hanya tiga puluh menit loh! Ayo buruan pergi ke kamar masing-masing untuk bersiap-siap dan setelah itu, berkumpullah di depan yayasan untuk pengabsenan dan pemeriksaan,” Ibu Sofia kembali mengingatkan kami untuk bersiap-siap di sela-sela kebahagiaan kami yang bisa dibilang agak berlebihan.


“Baik Bu,” jawab kami dengan kompak, dan kemudian kami pun langsung pergi menuju kamar masing-masing untuk bersiap-siap.


Krek.


Aku membuka pintu kamarku, kemudian aku pun langsung mengambil handuk dan mandi sebentar, setelah itu aku memilih baju untuk kukenakan pada saat perjalanan menuju Alas Sirno nanti. Kemudian aku pun memilih baju-baju hangat karena setauku hutan pasti memiliki suhu yang cukup dingin. Yang terakhir aku memilih baju sehari-hari dan barang-barang yang pastinya akan aku butuhkan ketika aku berlibur di sana.


Krek.


Aku keluar dari kamarku dengan membawa satu tas ransel dan satu koper sedang yang berisikan kebutuhanku.


“Kok bisa bareng?” ucap Friska pada saat kami keluar dari kamar dengan bersamaan, kami tertawa dan kemudian kami berjalan bersama-sama menuju teras Yayasan dan pada saat sesampainya kami di sana, ternyata belum ada siapapun. Lalu kami harus menunggu yang lainnya di sini, duduk menanti mereka dengan tidak sabar.


“Iya nih, kami sudah menunggu cukup lama Kak,” jawab Dara dengan wajah kesal.


“Aduh Dara, kita kan baru nunggu lima menit di sini,” ucap Friska kepadanya menegur agar Dara bisa sedikit lebih sabar lagi.


Aku tahu, ketika seseorang yang tidak sabaran disuruh menunggu pasti satu menit pun terasa seperti satu jam dan satu jam akan terasa seperti satu hari. Sayangnya lagi, ketika waktu yang dinantinya sudah tiba. Dia akan merasa sangat senang sehingga waktu yang dinantinya akan berakhir dengan cepat.


Tin! Tin!

__ADS_1


Bus yayasan datang dengan membunyikan klaksonnya dan kemudian bus itu pun berhenti tepat di depan yayasan.


“Adik-adik sudah lama menunggu ya?” tanya Kak Amara sambil tersenyum, dia keluar dari bus dan kemudian dia pun berdiri di samping pintu depan bus.


“Iya nih Kak, Kak Dara aja sampek gak sabaran tu,” jawab Gita sambil tersenyum usil sehingga membuat Dara kembali marah kepadanya.


“Gita!!” geram Dara sambil mengepalkan tangannya. Kemudian Kak Aditya pun datang dan membuka bagasi bus.


“Dara, Gita, sudah! Jangan bertengkar!” ucap Kak Marlina yang baru saja muncul dari dalam yayasan.


“Adik-adik, sekarang masukkan barang bawaan kalian ke dalam bagasi bus dan setelah itu masuklah lewat pintu depan karena Kak Amara akan mengabsen kalian di depan pintu bus,” pinta Kak Aditya kepada kami, kemudian kami pun melakukan apa yang dipinta olehnya dan masuk secara berurutan lewat pintu depan bus.


Lima menit pun berlalu, kami semua sudah duduk di bangku pilihan kami masing-masing.


“Sudah siap untuk pergi ke Alas Sirno?” tanya Eyang Darmo dengan penuh ambisi.


“Siap!” jawab kami dengan sangat bersemangat.


“Kurang keras suaranya!” seru Eyang Darmo dengan tegas.


“Siap!” kami kembali menjawab dan kali ini kami menjawabnya dengan suara yang lebih keras lagi.

__ADS_1


“Oke Aditya, let’s go to Alas Sirno!” ucap Eyang Darmo sambil duduk di samping Kak Aditya, dan kemudian Kak Aditya langsung mengendalikan bus untuk pergi menuju ke tujuan kami yaitu Alas Sirno.


Bersambung


__ADS_2