![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
Sesampainya kami di pemukiman warga desa Damar, kami di buat bingung oleh keadaan rumah-rumah warga yang terlihat terbengkalai. Padahal baru saja kemarin kami melewati desa ini dengan keadaan normal dan ramai penduduk.
Keadaan desa ini sungguh sangat aneh karena setiap rumah di desa ini sudah tidak memiliki pintu maupun jendela. Kami terus berjalan untuk memeriksa rumah-rumah di desa ini, barang kali masih ada rumah yang utuh dan masih dihuni. Kami berharap datangnya kami ke desa ini untuk meminta pertolongan tidak sia.
Kami berpencar untuk berbagai wilayah pencarian, aku Bersama Varel dan Riana bersama Bagas.
Kami terus berpencar untuk memeriksa rumah-rumah dan sayangnya tidak ada satu rumah pun yang masih berdiri tegak dan berpenghuni. Pemukiman ini sungguh terlihat seperti pemukiman yang terbengkalai lama. Tumbuhan yang menjalar merambat mengitari rumah-rumah yang juga mulai ditumbuhi lumut di tembok-temboknya. Tetapi yang lebih anehnya lagi lampu-lampu di desa ini masih hidup.
Kami kembali berkumpul setelah selesai berkeliling pemukiman. Kami berkumpul di pusat pemukiman yang terdapat tugu dua tani yang membawa cangkul dan sabit. Kami duduk di samping tugu tersebut.
“Aduh! Maaf ya teman-teman tidak seharusnya aku mendukung permainan ini,” ucapku mengeluh dan meminta maaf kepada mereka.
“Udah Rin, Ini bukan salahmu kok!” saut Riana sambil memelukku.
“Eh teman-teman! Siapa tuh!” seru Bagas sambil menunjuk ke arah seseorang yang terlihat berjalan mendekati kami.
Kemudian kami pun berdiri dan memperhatikan seseorang yang menghampiri kami tersebut.
“Hai! Siapa di situ?” tanyaku dengan girang, aku merasa senang ternyata masih ada orang di desa ini. Mereka juga sedikit berjingkrak-jingkrak karena senang.
“Kalian harus cepat cepat pergi dari pemukiman ini!” saut orang itu yang berhenti melangkah. Dia tidak terlihat jelas karena cahaya tidak meneranginya. Dia hanya terlihat seperti bayangan hitam saja.
__ADS_1
“Hai! Siapa kamu? Mengapa kami harus pergi? Apa yang terjadi dengan pemukiman ini?” tanya Riana dengan detail.
“Sudahlah! Dengarkan saja perintahku untuk segera pergi dari pemukiman ini! Aku tahu maksud kedatangan kalian ke sini! Namun solusi kalian tidak ada di sini! Solusi kalian ada di dalam bathtub kalian masing-masing!” jelas orang itu dengan tegas.
“Kalau begitu apakah kami boleh melihatmu sebelum kami pergi?” tanyaku kepadanya.
Kemudian bayangannya itu mengangguk dan dia pun melangkah ke tempat yang terang.
Kami melihatnya dengan jelas, dia adalah wanita yang mengenakan long dress polos berwarna putih. Rambutnya panjang dan kulitnya berwarna putih pucat.
“Sekarang kalian sudah melihatku, tunggu apa lagi? Cepat tinggalkan pemukiman ini” ucap wanita itu setelah menunjukkan dirinya kepada kami.
“Cepatlah lari!” teriak wanita itu dengan histeris setelah kami sudah melangkah cukup jauh darinya. Kami sempat melihatnya karena mendengar teriakannya yang histeris.
Betapa kagetnya kami melihat kerumunan orang yang menyeramkan mengenakan pakaian putih berlumuran darah berlari menghampiri kami dari belakang wanita tadi.
Pada awalnya aku hendak menjemput wanita itu, tetapi ternyata dia juga ikut berubah menjadi sosok yang menyeramkan.
Kami pun berlari secepat mungkin menghindari kerumunan tersebut. Kami sempat terjatuh beberapa kali karena kami tidak melihat-lihat jalan yang kami lalui.
Kami beruntung setelah keluar dari pemukiman tersebut karena kerumunan tadi sudah tidak mengejar kami lagi. Kami pun berhenti sejenak melepaskan lelahnya berlari menghindari kerumunan menyeramkan tadi.
__ADS_1
Kami tidak tahu pasti kerumunan apa yang mengejar kami tadi, sekilas mereka terlihat seperti zombie. Namun cara mereka mengejar kami tidak sama seperti zombie, mereka melayang seperti hantu. Entahlah apapun itu yang penting kami sudah berhasil menghindar dari mereka. Kini kami terpaksa kembali ke yayasan dengan berjalan kaki karena sepeda yang kami kendarai tadi tertinggal di pemukiman warga desa Damar.
Pada saat kami sudah sampai di jembatan, kami memutuskan untuk mengintip bathtub-bathtub yang berada di dalam sungai dan ternyata bathtub-bathtub tersebut masih di situ dan masih di awasi oleh beberapa hantu.
Kemudian setelah kami mengintip, kami pun mengendap menjauhi sungai dan melanjutkan perjalanan menuju kembali ke yayasan.
“Aduh!” rintih Riana dengan suara yang cukup keras karena jatuh tersandung kayu.
Kami melotot dan melihat ke arah sungai dari kejauhan. Kami khawatir sosok hantu penjaga bathtub yang di sungai mendengar rintihan Riana tadi dan mereka akan mengejar kami.
“Hi Hi Hi Hi…” suara tawa menakutkan bergema.
Kami langsung membantu Riana untuk berdiri dan kemudian kami berlari sebelum sosok itu datang mengejar kami. Aku merasa cukup lelah dan hampir menyerah tetapi karena yayasan sudah dekat aku pun menguatkan diriku untuk berlari.
“Huh,” aku melepaskan napas lega karena berhasil sampai di yayasan.
Kami mengingat kata wanita tadi, dia bilang solusi kami berada di dalam bathtub kami masing-masing. Kami pun kemudian pergi ke bathtub masing-masing dan kami melihat portal merah di dalam bathtub tersebut. Tanpa berpikir panjang kami masuk ke dalam portal yang ada di dalam bathtub kami masing-masing.
Kami kembali berkumpul di satu tempat dengan dunia yang berbeda. Portal itu membawa kami ke dunia game yang mistis.
Bersambung
__ADS_1