The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]

The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]
Chapter.47 Gadis kecil itu kembali membantu kami


__ADS_3

Aku membuka mataku dengan perlahan, dan pada saat mata terbuka lebar semua pun terlihat sangat buram. Aku berusaha untuk duduk dan mengucek mataku berharap penglihatanku kembali normal dan jelas.


“Varel! Riana!”


Aku memanggil mereka dan mulai berdiri, aku masih mengucek mataku sambil melangkah untuk mencari mereka.


Aku berjalan tanpa arah dengan penglihatan yang kurang jernih. Aku berjalan sambil terus memanggil nama Varel dan Riana.


Clup.


Kakiku masuk ke dalam air dan membuatku berhenti melangkah. Aku pun jongkok untuk meraba genangan air ini, dan setelah aku ketahui bahwa genangan air ini cukup banyak aku pun langsung menggambil air dari genangan air dengan kedua telapak tanganku dan menumpahkannya ke wajah, Aku membasuh kedua mataku dan perlahan penglihatanku pun mulai kembali normal.


Aku tersenyum bahagia setelah penglihatanku kembali normal dan kemudian aku pun memutuskan untuk mencari Varel dan Riana.


Aku terus memanggil mereka dengan harapan mereka akan merespon panggilan dariku. Aku sempat terkejut ketika aku menyadari bahwa kini aku berada di tengah-tengah hutan.


Tetapi aku tidak terlalu memikirkan di mana lokasiku berada saat ini, aku kembali mencari Varel dan Riana, aku juga terus-menerus memanggil nama mereka berdua.


“Riana! Varel!”


Aku terus memanggil mereka tanpa henti dan tiba-tiba aku pun merasa seperti menginjak sesuatu. Karena aku tidak memakai alas kaki aku dapat merasakan apa yang sedang kuinjak.


“Sepertinya aku menginjak tangan manusia,” batinku dalam hati sambil tetap memandang lurus ke depan dan setelah aku berpikir aku pun langsung melihat apa yang sedang kuinjak saat ini.


“Aaaa!”


Aku kaget dan mundur beberapa langkah hingga membuatku jatuh dan terduduk di tanah. Aku merasa sangat kaget setelah melihat apa yang kuinjak, aku melihat boneka kayu yang tangan kanannya adalah tangan manusia dan aku menginjak tangan manusia itu tadi.

__ADS_1


“Tunggu, sepertinya aku mengenali boneka kayu ini!” ucapku dalam hati sambil mencoba untuk mengingat kembali tentang boneka kayu yang sempat membuatku terkejut tadi.


Aku berpikir kurang lebih selama sepuluh menit untuk mengingat kembali tentang boneka kayu ini dan akhirnya aku pun ingat bahwa boneka kayu ini memang manusia, dan yakin bahwa boneka kayu ini adalah Riana.


Aku pun bangun dan menghampiri boneka kayu itu setelah aku menyadari bahwa boneka kayu itu adalah Riana. Setelah aku berada di samping boneka kayu tersebut aku pun berusaha untuk menarik akar-akar yang terlilit di badan Riana.


Kreek!


Akar itu rapuh ketika aku mencoba untuk menariknya, dan dengan mudahnya aku bisa menyingkirkan akar itu untuk menyelamatkan Riana yang ada di dalamnya.


Setelah aku selesai menyingkirkan akar yang membuat Riana seperti boneka kayu itu, aku pun langsung menidurkan kepalanya di pahaku dan kemudian aku berusaha untuk menyadarkannya yang kini tidak sadarkan diri.


“Uhuk! Uhuk!”


Setelah beberapa saat Riana pun bangun dengan batuk yang mengeluarkan darah.


“Aku hanya merasa sedikit mual Rin,” jawab Riana dengan singkat.


“Benarkah seperti itu Riana? Apakah dadamu terasa sakit?” aku kembali bertanya kepadanya tetapi belum sempat menjawab pertanyaan dariku Riana pun kembali batuk dan memuntahkan darah yang sangat kental.


Aku merasa sangat khawatir dengan keadaannya saat ini. Aku sangat kasian melihatnya batuk tanpa henti apalagi batuknya sampai membuatnya muntah darah.


Saat Riana berhenti batuk, aku pun langsung membantunya untuk bangun dan kemudian aku membawanya berjalan mencari mata air di sekitar hutan ini.


Kami terus berjalan tanpa arah karena kami tidak tahu di mana ada mata air bersih yang bisa digunakan untuk membersihkan darah dari mulut Riana, di sepanjang perjalanan aku tidak lupa untuk berteriak memanggil Varel berharap dia mendengar suaraku dan meresponku agar aku bisa menemukannya.


Kresek! Kresek!

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara dari balik semak-semak.


“Siapa itu?” tanyaku kepada siapa pun yang ada dibalik semak-semak itu, tetapi sayangnya dia tidak menjawabku dan membuatku merasa takut.


“Siapa di situ?” aku kembali bertanya dan kemudian semak-semak itu malah bergoyang-goyang lebih kencang lagi dan membuatku semakin takut, sehingga aku memutuskan untuk menghindari dari semak-semak itu.


“Mari aku bantu!” tiba-tiba terdengar suara gadis kecil dari semak-semak tadi setelah aku dan Riana menghindar beberapa langkah.


“Kamu siapa tolong keluarlah dan tampakkan wujudmu kepada kami berdua,” pintaku kepada gadis kecil itu.


“Hi Hi Hi…” dia pun tertawa dan menampakkan wujudnya kepada kami. Ternyata dia adalah gadis kecil yang kami temui pertama kali di dalam alam ini, waktu itu dia pernah memberikan gulungan kertas petunjuk kepadaku.


“Ikut-ikutlah bersamaku!” ucap gadis kecil itu dan kemudian dia berlari. Aku pun mengikutinya dengan langkah yang sedikit agak lebih cepat.


Aku terus memikul Riana untuk mengikuti gadis kecil tadi sampai akhirnya kami pun sampai di sebuah danau yang jernih dan di situ kami juga bertemu dengan Varel, dia sedang membasuh wajahnya dengan air danau.


“Aku pergi!” ucap gadis kecil itu dan kemudian dia pun menghilang sebelum berterima kasih kepadanya.


“Varel!” aku memanggilnya dari kejauhan dan kemudian dia pun melihat ke arah kami. Kemudian dia pun menghampiri kami dengan khawatir.


“Ada apa dengan Riana?” tanya Varel kepadaku.


“Aku juga tidak tahu pasti tetapi sekarang ini dia sangat membutuhkan air,” jawabku kepada Varel.


“Tunggu apa Lagi?” ucap Varel dan kemudian dia pun membantuku untuk memikul Riana mendekati tepi danau agar Riana dapat membasuh darah yang ada di mulutnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2