![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
Aku sampai ke permukaan kolam renang di dalam dunia nyata, aku melihat keadaan mereka yang baik-baik saja dan masih duduk dan membaca mantra di sekeliling kolam.
“Airin, bagaimana? Apakah kamu sudah mendapatkan titik terang?” tanya Eyang Darmo yang menyadari bahwa aku sudah keluar dari alam gaib merah.
“Ya Eyang, aku sudah mendapatkan petunjuk tentang misteri yang menyelimuti Alas Sirno dan Villa Merah ini!” jawabku dengan tenang dan kemudian aku pun berenang ke tepi kolam lalu aku pun keluar dari dalamnya.
“Semuanya berdiri karena ritual kita sudah selesai,” perintah Eyang Darmo kepada teman-teman yang masih duduk fokus di samping kolam, dan kami pun berkumpul di suatu titik dan menceritakan apa yang telah kuketahui mengenai misteri yang menyelimuti Alas Sirno ini dengan sangat detail.
Setelah ceritaku selesai, mereka ikut bingung dan waspada akan ancaman Sri Wahyuni tentang tumbal nyawa tiga belas orang yang memiliki kemampuan khusus. Tadi dia masuk ke dalam kolam renang alam gaib untuk menuju kolam renang alam nyata, tetapi nyatanya dia sama sekali belum masuk ke dalam dunia nyata.
“Ritual itu dilakukan untuk mencegah masuknya iblis ke alam nyata, apakah mungkin si iblis itu memanipulasi kita?” ujar si Varel dengan ragu.
“Apa maksudnya Rel? Aku tidak mengerti,” sambung Riana bertanya dengan bingung.
“Alam gaib ada berlapis-lapis, mungkin saja dia berhenti di antara lapisan yang lainnya untuk mengecoh kita dan menghentikan ritual agar dia bisa masuk ke alam nyata,” jelas Varel kepada kami dan dengan sekejap Eyang Darmo pun menyadari itu.
Kemudian dia menyuruh kami untuk kembali ke kolam renang dan mengelilinginya lagi untuk memulai ritual penutupan, Eyang Darmo bilang ketika melihat aku keluar dari dalam kolam dia langsung menyuruh yang lainnya untuk bubar tanpa menutup gerbang dunia gaib yang sudah terbuka lama.
“Duduklah dan pejamkan mata kalian kembali! Kita harus segera menutup gerbang dunia gaib,” seru Bu Sofia dengan panik, dan kemudian yang lainnya juga ikut panik dan duduk kembali di tempat mereka masing-masing. Kali ini tidak ada celah yang di sisakan, celah yang tadinya kosong sekarang di tempati olehku.
Kami sudah saling berpegangan tangan, namun ternyata tindakan kami ini terlambat di tangani.
__ADS_1
“Ha Ha Ha..” tawa Sri Wahyuni menghantui telinga kami, dia keluar dan melayang di atas kolam renang. “Kalian tidak akan bisa menutup gerbang dunia gaib ini sebelum urusanku selesai,” seru Sri Wahyuni dengan licik dan wajah yang menyeramkan. Pakaian putih dan kain transparan yang menutupi seluruh tubuhnya menjuntai panjang hingga menyatu dengan air kolam renang.
Kehadirannya di dunia nyata sangat membuat kami semua khawatir.
“Bang-bang wus rahina,” berusaha tenang, Ibu Sofia menyanyikan lagu tolak bala dan kemudian kami pun ikut menyanyikan lagu itu. Kami yakin iblis itu bisa dikalahkan dengan lagu ini. Namun prediksi kami salah.
Awalnya si iblis itu merintih kesakitan namun hanya sebentar, rintihan itu digantikan oleh tawa licik yang menyeramkan.
“Aaaaa!!!! Ha Ha Ha…” tawanya mengeluarkan energi yang sangat besar dan negatif sehingga membuat kami terpental dan berantakan sehingga sebagian dari kami ada yang pingsan karena benturan yang cukup keras ke tembok.
“Tidak ada yang bisa menghentikanku sebelum aku menyelesaikan urusanku,” Sri Wahyuni kembali menjelaskan sambil berteriak dengan suara yang lantang.
“Cepatlah kalian pergi untuk bersembunyi atau bahkan kabur lah dari tempat ini semampu kalian, aku akan memberikan kesempatan ini kepada kalian semua sebelum maut menghampiri kalian,” ujar Sri Wahyuni dengan nada mengancam.
“Ayo semuanya lari! Selamatkan diri masing-masing!” seru Eyang Darmo yang terbaring tak berdaya.
Kemudian mereka pun langsung bangkit dari berkeliaran untuk menyelamatkan diri mereka masing-masing, tak ada yang peduli dengan sebagian teman-teman yang pingsan. Kecuali Riana, karena dia menyempatkan diri untuk meraih Gita yang juga pingsan.
Pada awalnya aku menghampiri Eyang Darmo untuk membantunya pergi menghindari daftar tiga belas tumbal, namun Eyang Darmo bilang kepadaku. “Pergilah Nak biarkan Eyang dan lima temanmu yang tak berdaya ini masuk kedalam daftar tiga belas tumbal si manusia iblis yang keji itu,” aku bingung mendengar ucapan dari Eyang dan ragu untuk meninggalkan mereka yang tidak berdaya.
“Airin pergi!” seru Friska sahabat baikku yang ternyata dia juga terbaring tidak berdaya. Aku merasa iba dan kemudian aku pun menghampiri Friska dan memutuskan untuk membawanya pergi dari tempat ini.
__ADS_1
Aku memikul Friska di pundak kananku dan kami pun bersegera keluar dari ruangan ini.
“Ha… Ha… Ha…” tawa menyeramkan itu kembali bergema dan menghantui pikiran kami berdua.
Kami berdua entah lari ke mana, kami tidak tahu arah untuk mencari tempat persembunyian agar kami aman dari jangkauan si manusia berjiwa iblis itu.
“Diam!” seseorang berbisik dan kemudian tiba-tiba dia menarik aku dan Friska masuk ke dalam suatu ruangan. Seseorang itu menarik kami dari belakang.
“Kalian aman di sini,” ternyata dia adalah staf dari Villa Merah ini. Semua staf bersembunyi di sini dan mereka juga menyelamatkan Dara. Aku merasa sedikit tenang karena dara ada bersama kami.
Aku melihat ke sekeliling dan aku pun tahu kalau sekarang kami sedang bersembunyi di dapur.
“Untuk tempat yang lebih aman lagi, mari ikuti kami ke basement,” ucap salah satu staf wanita yang ada bersama kami dan kami aku pun mengangguk dan mengikuti mereka.
“Mari Kak! Dara bantu,” ucap Dara dan kemudian dia pun ikut membantuku untuk memikul Friska.
Krek.
Staf wanita yang tadi membuka pintu gudang sembako yang ada di dalam dapur ini dan menyuruh kami untuk masuk ke dalamnya. Setelah itu dia kembali menutup pintu dan menyingkirkan kotak sembako yang ternyata di bawah kotak itu ada pintu persegi, dia kembali membuka pintu itu dan kemudian kami masuk satu persatu setelah itu dia menutup kembali pintu persegi basement.
Setelah itu kami ternyata masih berada di dalam lorong gelap, tak lama setelahnya kami pun tiba di ruang basement yang cukup aman dan juga banyak fasilitas yang dapat kami gunakan di sini. Monitor CCTV juga ada di sini jadi kami bisa mengintai keberadaan teman-teman kami yang lainnya.
__ADS_1
Bersambung