The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]

The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]
Chapter.21 Habis gelap terbitlah terang


__ADS_3

Mengapa masalah selalu menimpaku? Padahal aku bukanlah anak yang lugu. Bukan anak yang polos dan bisa di permainkan atau dibodoh-bodohi.


Aku bingung dengan kehidupanku yang sepertinya sangat sial, mengapa harus aku yang menerima ini semua?


Ya Tuhan, tolong berikan makna atas semua derita yang menimpaku.


Aku berkeluh kesah dan berharap Tuhan menjelaskan maksud dibalik derita yang sedang menimpaku. Derita hidupku terus datang di luar nalar.


“Hati hati,” kata seseorang kepada Varel saat dia hendak meletakkanku ke atas kasur. Aku merasa sangat lemas dan menggigil kedinginan.


“Sebaiknya kalian keluar untuk bersiap-siap makan siang,” perintah seseorang, aku tak tahu siapa dia karena mataku tertutup dan kepalaku sangat sakit. Sehingga aku tidak bisa mengenalinya.


“Baik Kak!” jawab teman-teman dengan kompak tetapi dengan suara yang tidak terlalu besar dan kemudian langkah mereka terdengar mengeluari kamarku.


“Kasihan sekali dia, dia selalu tertimpa musibah,” kini setelah beberapa detik aku dibaringkan di atas kasur, aku mulai bisa mengenali suara yang aku dengar. Itu adalah suara Kak Marlina yang memberikan rasa prihatinnya kepadaku.


“Mungkin Tuhan sedang melatihnya supaya dia menjadi hamba yang lebih kuat lagi,” dan kali ini suara Kak Amara lah yang terdengar menjawab pertanyaan prihatin dari Kak Marlina tadi.


Curr...


Suara air terdengar, sepertinya itu adalah air yang keluar dari perasaan kain.


Kemudian aku merasakan kain lembab yang hangat di letakkan ke jidatku, kain itu membuatku merasa lebih baik karena kepalaku yang tadinya terasa beku kini perlahan terasa membaik.


“Mari kita keluar dan membiarkan dia untuk beristirahat,” ajak Kak Marlina kepada Kak Amara.


“Iya,” jawab Kak Amara dengan singkat dan kemudian mereka berdua pun pergi meninggalkanku untuk beristirahat sejenak.


Dar.


Suara pintu yang tertutup.


Kemudian aku menutup semua pikiranku berharap bisa pergi ke alam mimpi. Sejenak aku memikirkan tentang apa yang telah dikatakan oleh Kak Amara tadi. Katanya, mungkin cobaan yang sedang menimpaku adalah suatu latihan mental yang diberikan oleh Tuhan, agar aku bisa lebih kuat dan tegas dalam menghadapi segala masalah yang menimpaku.


Aku merasa Tuhan telah menjawab pertanyaanku tadi melalui Kak Amara, aku merasa lega ketika aku menyadarinya dan kemudian aku pun terlelap dalam ketenangan. Aku benar-benar lega dengan jawaban Tuhan melalui Kak Amara. Aku tidur dan bergegas pergi menuju alam mimpi.

__ADS_1


Semenit kemudian aku pun sudah berada di dalam alam fantasi, yaitu alam mimpi. Di alam ini kita terkadang bisa hidup seperti putri, ataupun sebagai pemeran film horror.


Tes.. tes.. tes..


Suara tetesan air terdengar.


Berjalan dengan perasaan yang sangat damai. Kini aku berada di lembah yang subur dan juga hijau, di tumbuhi oleh bunga yang berwarna.


Aku berjalan melewati taman bunga, aku berjalan mengikuti setapak jalan yang entah menuju ke mana.


Cuit cuit.


Burung warna-warni terbang bebas melintas di hadapanku. Aku tersenyum dan berjingkrak-jingkrak mengikuti setapak jalan itu.


“Huuu hu huu...” suara merdu terdengar dari ujung jalan.


Aku berhenti berjingkrak jingkrak setelah mendengar suara itu. Aku melangkah dengan perlahan dan aku takjub dengan apa yang sedang aku lihat.


Aku bergegas menuju gazebo yang terlihat sangat indah, terletak di samping danau yang tenang. Kupu-kupu berterbangan, seekor angsa putih berenang di dalam danau yang tenang.


Setelah aku sampai di gazebo tersebut, aku berjalan menuruni tangga yang terhubung dengan danau. Aku duduk di tangga ketiga paling bawah. Aku membiarkan kakiku masuk ke dalam air.


“Mama!” aku memeluknya dengan erat begitu juga dengannya.


“Mama ke mana saja? Kami sangat merindukan Mama, pulanglah Ma!” kataku dalam pelukannya.


“Sebaiknya kamu jalani saja Nak! Suatu saat nanti kamu akan menemukan semua jawaban dari pertanyaanmu,” jawab Mama sambil membelai rambutku. Aku melepaskan pelukanku dan bersandar di pundak Mama.


“Ambilkan bulan, Bu,


Ambilkan bulan, Bu,


Yang selalu bersinar di langit,”


Aku bernyanyi sambil melihat ke arah Mama. Mama tersenyum dan ikut bernyanyi bersamaku.

__ADS_1


“Di langit bulan benderang,


Cahyanya sampai ke bintang,


Ambilkan bulan, Bu,


Untuk menerangi,


Tidurku yang lelap,


Di malam gelap,


Ambilkan bulan, Bu,


Ambilkan bulan, Bu,


Yang selalu bersinar di langit,


Di langit bulan benderang,


Cahyanya sampai ke bintang,


Ambilkan bulan, Bu,


Untuk menerangi,


Tidurku yang lelap,


Di malam gelap,


Ambilkan bulan, Bu,


Ambilkan bulan, Bu,


Ambilkan bulan, Bu,”

__ADS_1


Aku menikmati alam fantasi ini bersama dengan senyuman dan kebahagiaan.


Bersambung


__ADS_2