The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]

The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]
Chapter.49 Empat penari


__ADS_3

“Huh..”


Kami sangat kewalahan menghindari kejaran Riana yang bertingkah layaknya biawak yang sedang mencari mangsa. Tak hanya itu matanya juga berubah menjadi merah menyala dan lekuk tubuhnya juga sangat mirip dengan biawak.


Sekarang kami benar-benar aman dari kejaran Riana, kami sembunyi di dalam tempat persembunyian amatir yang tak sengaja kami temukan.


“Apakah kamu tahu apa yang terjadi kepada Riana, Rin?” tanya Varel setelah dia selesai melepaskan lelahnya berlari untuk menghindari kejaran dari Riana.


“Ya aku tahu apa yang terjadi padanya,” aku masih ngos-ngosan ketika menjawabnya.


“Apakah yang terjadi pada Riana ada kaitannya dengan mustika merah delima?” Varel kembali bertanya.


“Ya! Apa yang telah terjadi dengan Riana sangat erat kaitannya dengan hadirnya mustika merah delima,”


“Kakekku bilang kita harus menghindari sang indigo ketika sang indigo tersebut mengeluarkan mustika dari tubuhnya karena ditakutkan, dia akan membunuh orang yang sudah menyentuh mustikanya,” jelasku kepada Varel.


“Terus, maksud kamu kita harus mempertahankan mustika merah delima ini untuk menghadapi rintangan-rintangan selanjutnya dan keluar dari alam ini tanpa Riana?” tanya Varel dengan tatapan wajah yang cukup tegang.


“Aku kan gak bilang gitu Rel, Riana bisa kembali seperti semula setelah dia mendapatkan mustika merah delimanya, kita akan mengembalikan mustika merah delima ini kepadanya pada saat kita telah menyelesaikan semua rintangan yang ada,” aku menjelaskan kesalahpahaman Varel tentang mustika merah delima yang keluar dari dalam tubuh Riana.


Ting Tang Ting Tung.


Tiba-tiba suara gamelan beserta alat musik Jawa lainnya terdengar dari kejauhan.


Aku dan Varel pun keluar dari tempat persembunyian dan melangkah menuju sumber suara tersebut.

__ADS_1


Dari kejauhan aku dan Varel melihat ada beberapa alat musik tradisional Jawa beserta pemain alat musik tradisional tersebut. Mereka memainkan alat-alat tersebut dengan tatapan kosong.


Mereka memainkan alat musik tradisional tersebut untuk mengiringi empat penari yang ada di depan mereka. Penari itu terdiri dari dua anak kecil dan dua wanita remaja.


Kami terus melangkah mendekati sumber suara tersebut dengan perlahan.


“Wayahe wus lingsir wengi..”


Kami mendengar lagu sinden yang mengiringi alat musik tradisional Jawa dan para penari yang sedang menari dengan sangat lihai lengkap dengan pakaiannya.


Kami menjaga jarak dengan sumber suara tersebut yang berasal dari tepi danau, kami sembunyi dibalik semak-semak yang jaraknya sekitar satu meter.


“Perkutute roso. Muni ning plangkringan. Manggung nyo manas  ati. Hur ketekung kung kung.


Monggo monggo alah monggo monggo. Nggo monggo monggo monggo. Midanget engkang sakeco.


Pramito kang miinulyooo. Sugeng rawuhipun. Sore-sore yo lah bapak. Perkutute njaluk ngombe.


Yo bapak bapakku dewe. Omben omben omben omben omben omben.


Mben omben omben omben omben omben. Ombenono e manuke kutut. Tak omben omben omben ombenono. Satitik banyune towo.


Gones luwes sak solahe. Pakaannono. Tak pakan tak pakan pakan pakaan. Atak pakan pakan pakan pakan pakanono. E manuke kutut tak pakan pakan pakan pakanono. Setitik berase cempo gones gones wicarane.


Trahing noto  trahing noto. Yo bapak bapakku dewe. Trahing noto risang danang joyo. Mulo pancen kewek-kewek dewe. Mulo pancen kewek-kewek dewe. Den prayitno sabarang hayuo sembrono..”

__ADS_1


Di sepanjang lagu itu berbunyi Varel menyuguhkan pop pertanyaan yang cukup banyak.


“Rin apakah kamu tahu lagu apa itu?” tanyanya kepadaku.


“Ya, aku tahu lagu apa itu, itu adalah lagu sinden yang biasa dinyanyikan untuk mengiringi kesenian wayang,” jawabku.


“Terus, kenapa sekarang lagu itu tidak di gunakan untuk mengiringi kesenian wayang?” Varel kembali bertanya.


“Aku juga tidak tahu, ini adalah alam gaib dan apa pun lumrah terjadi di alam ini,” jawabku dengan bingung.


Aku dan Varel memperhatikan tarian dari keempat penari itu, setelah beberapa lama kami pun menemukan kejanggalan dalam tarian mereka. Ada bayangan besar yang menggerakan para penari itu, sepertinya itu adalah bayangan dari dalang yang sedang memainkan wayangnya.


“Aduh to lae wong bagus. Yen tan weruh. Yo lah bapak perkutute manas manas ati,”


Seketika lagu itu selesai di nyanyikan, para penari pun melihat ke arahku dan Varel seolah mereka mengetahui keberadaan kami.


“Hi Hi Hi Hi!” empat penari itu tertawa dan kemudian melayang menuju ke arah kami.


“Ayo kita pergi!” ajak Varel, kemudian dia pun menarik tanganku, dia mengajakku untuk berlari menghindari kejaran para penari itu.


“Hi Hi Hi Hi! Kalian tak akan bisa lolos dari kejaran kami,”


Empat penari itu mengancam kami dengan suara bergema sehingga membuat suasana semakin menegangkan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2