![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
Pada saat siang hari tiba kami pun berhenti untuk bercerita, karena sudah masuk waktu makan siang. Kami berjalan bersama-sama untuk pergi menuju ruang makan.
Tok tok tok.
Kak Amara mengetuk pintu ruang makan seperti biasanya.
“Masuklah,” jawab Kak Marlina merespon ketukan pintu.
Krek.
Kami pun masuk ke dalam ruang makan dan kemudian kami bertiga pun membantu Kak Marlina untuk menyiapkan hidangan makan siang.
“Apa menu makan siang kita hari ini Kak?” tanya Friska kepada Kak Marlina.
“Hari ini menu makanan kita adalah daging sapi BBQ dan sejenisnya,” jawab Kak Marlina sambil tetap fokus mencuci sayuran yang mungkin saja akan menjadi lalapan dan menemani daging-daging di piring nanti.
“Wah sedap sekali!” sambung Kak Amara dengan lebay dan kemudian dia pun langsung mengambil beberapa rempah rempah untuk bumbu daging yang akan kami makan siang ini.
“Apa yang bisaku bantu Kak?” tanyaku kepada Kak Marlina.
“Oh kamu dan Friska cukup mencuci piring dan kemudian letakkan di atas meja makan ya,” jawab Kak Marlina memerintahkan aku dan Friska untuk mencuci piring.
Kemudian aku dan Friska pun langsung melaksanakan apa yang sudah di perintahkan oleh Kak Marlina.
Sepuluh menit berlalu, kami pun baru selesai membersihkan piring dan kemudian kami pun meletakkannya di atas meja makan secara teratur dan rapih. Kemudian setelah aku selesai aku dan Friska selesai meletakkan piring di atas meja makan, Kak Amara pun datang sambil membawa bakul nasi hangat dan dia pun mengisi piring satu persatu dengan satu porsi masing-masing.
Tak lama setelah itu Kak Marlina pun datang membawa piring besar nan panjang dan meletakkannya di tengah di antara piring-piring yang sudah di isi nasi putih yang hangat. Di meja kami Kak Marlina meletakkan dua piring panjang tersebut dan yang lainnya hanya satu piring saja. Piring yang panjang nan besar itu berisi daging BBQ seperti yang sudah kak Marlina tadi, tak hanya itu makanan seafood juga ikut menemani daging BBQ. Dugaanku pun benar bahwa sayuran yang di olah Kak Marlina tadi akan menjadi lalapan sebagai pelengkap daging BBQ.
__ADS_1
Tok tok tok.
Terdengar suara ketukan pintu ruang makan pas setelah kami selesai menghidangkan semuanya.
“Silahkan masuk,” ucap Kak Marlina merespon ketukan pintu tersebut dan kemudian pintu pun terbuka, para pengasuh pun masuk terlebih dahulu lalu disusul oleh anak laki-laki di belakang pengasuh dan yang terakhir masuk adalah Gita dan Dara.
Mereka masuk dengan bersamaan dan berurut seperti kereta api, mereka masuk dengan disertai oleh senyuman bahagia sambil mengendus-endus aroma nikmat dari daging sapi BBQ. Aku tersenyum melihat tingkah mereka dan kata Kak Amara fenomena ini hanya bisa terlihat ketika makanan yang dihidangkan adalah makanan enak saja dan jika hidangan tidak terlalu lezat maka mereka semua akan memilih untuk menunda waktu makannya.
Setelah kupikir-pikir, apa yang di katakan oleh Kak Amara itu sangat benar karena selama ini aku selalu datang lebih awal ke ruang makan untuk membantu Kak Marlina dan ketika waktu makan sudah tiba mereka pun tidak datang dengan bersamaan sehingga terkadang pengasuh harus turun tangan untuk memanggil mereka yang belum juga datang.
“Emmm, wanginya sangat enak,” ucap Gita sambil menghirup aroma BBQ yang menguap hangat.
“Iya aku jadi gak sabaran untuk mengambil yang itu,” sambung Dara sambil menunjuk ke arah daging BBQ yang terlihat sangat besar.
“Enak aja, itu bakalan jadi punyaku!” bantah Gita yang juga menginginkan daging itu.
“Iya Kak,” jawab mereka berdua dengan sigap dan kemudian mereka pun langsung duduk sembari sikut-menyikut dan kemudian mereka pun kembali berdebat untuk memperebutkan daging BBQ yang sama.
“Airin tolong kamu hidangan minuman ini ke meja kamu dan teman-temanmu, nanti Kakak dan Kak Amara akan membawakan minuman untuk yang lainnya,” ucap Kak Marlina kepadaku memerintahkan untuk menghidangkan minuman ke mejaku dan kawan-kawan.
“Baik Kak,” jawabku dengan singkat dan kemudian aku pun langsung mengambil talam untuk membawa minuman agar lebih mudah dan setelah itu baru aku sajikan satu persatu di meja makan. Setelah itu aku pun kembali untuk meletakkan kembali talam di tempatnya setelah itu aku duduk bersama mereka.
“Selamat makan,” ucap Kak Amara dan Kak Marlina sembari melintas melewati kami sambil membawa talam yang berisi minuman-minuman untuk para pengasuh dan anak laki-laki di ruang sebelah.
“Selamat makan juga Kak,” jawab Friska dan aku hanya menjawabnya dengan senyuman sedangkan Dara dan Gita masih memperebutkan daging yang sama hingga akhirnya piring Dara pun tak sengaja tersenggol oleh Gita sehingga piringnya jatuh dan pecah. Karena kaget, pandanganku, Friska, Kak Amara bahkan Kak Marlina pun langsung tertuju kepada mereka berdua. Gita pun seketika terlihat merasa bersalah.
“Tiba-tiba aku gak selera makan,” ucap Dara dan kemudian dia pun pergi meninggalkan ruang makan. Kemudian Kak Amara pun memanggilku dan menyuruhku untuk membawa minuman kepada para pengasuh karena dia akan pergi menghampiri Dara.
__ADS_1
Setelah aku selesai menghidangkan minuman kepada para pengasuh, kami pun langsung memulai makan siang dan pada saat kami menyantap makanan tersebut dengan nikmat, Gita tetap terdiam dan membisu, dia menundukkan pandangannya karena mungkin saja dia di selimuti oleh rasa bersalah karena telah menyenggol piring Dara dan membuat Dara marah.
“Hay Gita, ayo makan. Nanti masalah Kak Dara akan kita selesaikan setelah makan siang saja,” ucap Friska membujuk Gita agar mau makan.
Tetapi Gita malah ikut-ikutan pergi meninggalkan ruang makan. Aku pun terpancing untuk menghampiri Gita untuk membujuknya tetapi Friska menahanku.
“Kita habiskan makanannya dulu Rin baru kita urus Gita,” ucap Friska setelah dia menahanku. Aku setuju dengan pendapatnya karena sayang daging sapi BBQ kalau di tinggal, pasti bakalan dingin dan bakalan berkurang kenikmatannya.
Setelah cukup lama kami menikmati makanan sehingga selesai, kami pun membantu Kak Marlina untuk membereskan piring-piring yang kotor, kami juga membantu Kak Amara untuk mencuci piring dan setelah itu baru kami membawa makanan untuk Riana yang sedang sakit sekalian kami pergi untuk membujuk Gita.
“Kami duluan ya Kak,” ucap ku kepada Kak Marlina.
“Baiklah, hati-hati ya bawa makanannya jangan sampai di comot di tengah jalan,” jawab Kak Marlina sambil sedikit bercanda.
“Siip Kak,” jawabku dengan singkat kemudian kami pun pergi meninggalkan ruang makan untuk pergi menuju ke kamar Riana.
Kreek.
Aku mendorong pintu kamar Riana dengan kaki kiriku karena tanganku sedang membawa talam.
“Oh kalian ternyata ada di sini ya,” ucap Friska setelah melihat Gita dan Dara yang ternyata mereka ada di dalam kamar ini. Mereka sudah akur dan aku rasa mereka akur dengan bantuan dari Kak Amara.
“Kalian makan bareng Kak Riana ya, soalnya Kakak udah bawain makanan kalian ke sini,” ucapku kepada mereka berdua.
“Baik Kak,” jawab mereka dengan singkat dan memberikan senyum ramah mereka kepadaku. Kemudian aku pun memberikan mereka satu persatu makanan mereka masing-masing termasuk juga Kak Amara, aku sengaja membawakan empat piring untuk mereka semua. Riana kini sudah mulai membaik dan kini dia pun sudah bisa makan dengan sendirinya.
“Syukurlah mereka sudah akur dan Riana pun kini sudah membaik,” gumamku dengan perasaan lega dan bahagia kemudian aku pun berkumpul dengan Kak Amara, Dara dan Gita untuk duduk bersama di atas karpet. Sedang Friska menemani Riana selama dia menghabiskan makanannya.
__ADS_1
Bersambung