The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]

The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]
Chapter.76 Tolak bala


__ADS_3

“Airin!” seseorang memanggilku di dalam kegelapan.


“Siapa itu?” tanyaku dengan bingung sambil menoleh ke arah kanan dan juga arah kiri.


“Ini kami,” dia pun merespon pertanyaanku.


“Siapa?” aku kembali bertanya dan terus menoleh ke kanan dan kekiri untuk mencari seseorang yang berbicara kepada ku tadi.


“Kami,” dia kembali menjawab pertanyaanku dan kemudian dia pun keluar dari kegelapan.


“Klara!” seruku setelah melihatnya keluar dari kegelapan. Aku berlari menghampirinya dan kemudian aku pun memeluknya untuk melepaskan rasa rinduku kepadanya.


“Lama tidak berjumpa ya Rin,” ucapnya dalam pelukan. Kemudian aku pun meresponnya dengan senyuman.


“Sedang apa kamu di sini Ra? Ini kan alam bawah sadarku! Mengapa kamu menjumpaiku di sini?” tanyaku kepadanya dengan sedikit rasa yang agak mengganjal di benakku.


“Hemm…” Klara tersenyum kepadaku dan matanya sedikit berkaca-kaca, dia membendung air matanya dengan tegar. Aku melihat rada sedih yang mendalam dari tatapannya.


“Ra, Kenapa senyummu seperti itu? Kamu baik-baik aja, kan?” tanyaku dengan lirih. Rasa yang mengganjal di benakku mulai hancur dan berubah menjadi rasa khawatir dan rasa ketakutan. Aku merasa dejavu karena momenku bersama Klara pada saat ini mengingatkanku akan momen saat Papa dan Mama akan pergi meninggalkanku untuk selamanya.


“Iya Rin, aku baik-baik saja kok! Aku datang menemuimu sekarang hanya berniat untuk berpisah Rin. Aku akan pergi ke alam selanjutnya,” jawab Klara dengan senyumannya yang menyimpan rasa yang terpendam.


“Jangan lagi,” gumamku setelah aku mendengar jawabannya. “Nggak! Nggak! Aku nggak percaya, sekarang aku sedang di alam mimpi kok! Jadi, aku gak bakalan percaya dengan ucapanmu! Karena aku tahu ini hanyalah sebuah mimpi buruk saja,” ujarku dengan kesal dan menolak akan pernyataan dari maksud Klara yang menemuiku untuk terakhir kalinya, dia berniat untuk berpisah denganku.


“Ini adalah sebuah kebenaran Rin! Ini adalah kebenaran yang harus kamu terima,” tegas Klara kepadaku dan kemudian banyak sekali orang yang datang dari belakang Klara dan mereka yang datang itu adalah orang-orang yang kukenal.


“Apa lagi ini? Jangan bilang kalian akan berkata sama seperti Klara,” ucapku kepada mereka yang baru saja keluar dari kegelapan. Aku khawatir kalau si manusia iblis itu berhasil mendapatkan tiga belas tumbal yang dia inginkan dan mereka yang baru saja datang adalah semua korban dari si manusia iblis itu.


“Aku tidak mau di tinggalkan oleh mereka yang kusayang dan kali ini mereka pun berjumlah begitu banyak. Aku tidak mau ditinggalkan oleh mereka yang sebanyak itu!” aku bergumam dengan duka yang mendalam. Aku terdiam dan membisu setelah melihat mereka semua yang juga tersenyum luka seperti Klara tadi.


Aku tahu ini adalah kebenaran yang nyata, namun aku tidak bisa menerimanya. Aku menganggap ini semua adalah kebohongan alam mimpi, aku harap aku segera bangun dari tidurku agar aku bisa bertemu dengan mereka di dunia nyata.


“Selamat jalan Rin,” ucap Friska kepadaku dan kemudian dia menghampiriku untuk memelukku dengan erat dan kemudian dia pun pergi menghilang.


Begitu juga seterusnya, satu persatu dari mereka menghampiriku untuk berpamitan denganku, dan lalu mereka pun langsung pergi menghilang.


Beberapa dari mereka ada yang berpesan kepadaku dan pesan dari mereka sangat beragam, dan pesan yang paling utama adalah pesan dari Eyang Darmo.


Dia bilang aku tidak boleh larut dalam duka atas kepergian tiga belas anggota yayasan Rumah Batin dan ditambah lagi dengan Klara yang mana aku tidak tahu sebab dari kepergiannya. Eyang Darmo bilang aku harus segera sadar dan menyampaikan lagu tolak bala kepada teman-temanku dan meminta mereka untuk menyanyikannya karena saat ini Villa Merah sedang diserang oleh arwah penasaran. Eyang Darmo juga berpesan kepadaku untuk mengajak teman-teman yang masih hidup agar tetap menjaga yayasan Rumah Batin sebaik mungkin. Kemudian dia pun pergi menghilang.

__ADS_1


Aku tidak percaya saat ini aku sudah kehilangan banyak sekali orang-orang yang kusayang. Aku harap mereka bisa tenang di kehidupan selanjutnya.


Setelah mereka semua pergi, aku pun langsung bangun dari alam bawah sadar dan aku pun langsung melihat tampang-tampang yang panik akan arwah penasaran yang berkeliaran. Mereka melihat itu semua melalui monitor CCTV.


“Airin akhirnya kamu bangun juga!” ucap Riana dan kemudian Kak Amara menghampiriku.


“Kamu baik-baik saja Rin?” tanya Kak Amara kepadaku.


“Iya Kak, aku baik-baik saja,” jawabku dengan singkat dan kemudian Kak Amara pun menghela napasnya.


“Syukurlah,” ucap Kak Amara dengan lega dan kemudian aku pun langsung menceritakan pesan yang disampaikan oleh Eyang Darmo kepadaku, tentang lagu tolak bala yang harus kami nyanyikan untuk menghapuskan teror di Villa Merah ini dan juga Alas Sirno.


Kemudian kami pun langsung melakukan pesan dari Eyang Darmo, kami pergi keluar dari dalam basement untuk berhadapan langsung dengan para arwah penasaran yang di tinggalkan oleh manusia iblis itu.


Kami pergi ke pintu masuk dan memutuskan untuk bernyanyi di sana. Nanti kami akan berpisah untuk bernyanyi di sekeliling Villa Merah ini dengan tujuan pembersihan energi merah—negatif.


Ana kidung rumekso ing wengi,


Teguh hayu luputa ing lara,


Luputa bilahi kabeh,


Paneluhan tan ana wani,


Niwah panggawe ala,


Gunaning wong luput,


Geni atemahan tirta,


Maling adoh tan ana ngarah ing mami,


Guna duduk pan sirno.


Kami mulai menyanyikannya ketika kami sudah sampai di pintu masuk Villa Merah. Dan kemudian dengan perlahan kami pun mulai berpencar untuk mengelilingi seluruh ruangan di Villa Merah ini. Kami akan melakukan pembersihan.


Sakehing lara pan samya bali,


Sakeh ngama pan sami mirunda,

__ADS_1


Welas asih pandulune,


Sakehing braja luput,


Kadi kapuk tibaning wesi,


Sakehing wisa tawa,


Sato galak tutut,


Kayu aeng lemah sangar,


Songing landhak guwaning,


Wong lemah miring,


Myang pakiponing merak.


Pagupakaning warak sakalir,


Nadyan arca myang segara asat,


Temahan rahayu kabeh,


Apan sarira ayu,


Ingideran kang widadari,


Rineksa malaekat,


Lan sagung pra rasul,


Pinayungan ing Hyang Suksma,


Ati Adam utekku baginda Esis,


Pangucapku ya Musa.


Kami terus bernyanyi dan tidak meninggalkan satu ruangan pun untuk pembersihan energi merah. Respon dari arwah penasaran sangat memuaskan, mereka sangat tersiksa mendengar lagu tolak bala yang kami nyanyikan. Kini Villa Merah sudah bersih dari energi jahat. Kami sudah menyelesaikan salah satu pesan yang di berikan oleh Eyang Darmo. Selanjutnya kami harus menjaga yayasan Rumah Batin dengan sebaik-baiknya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2