![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
“Mengapa wajahmu terlihat kesal Belia?” tanyaku kepadanya.
“Oh, tidak apa apa!”
“Terkadang aku memang sensitive,” jawabnya dengan sedikit tersenyum.
Belia mengaja ku masuk ke dalam sebuah ruangan yang di mana ruangan ini terdapat banyak ranjang bertingkat seperti kamar milik asrama-asrama sekolah swasta. Ruang ini cukup bersih dan memiliki fasilitas lampu yang remang-remang.
“Mengapa kamu hanya mengajakku Belia?” tanyaku kepadanya sambil duduk di salah satu ranjang.
“Karena kamu adalah orang terpilih Rin!” jawab Belia dengan singkat.
“Apa? Terpilih? Maksudnya?” tanyaku lagi dengan bingung.
Belia tersenyum dan dia berkata untuk tidak usah menanyakan tentang itu karena dia juga tidak tahu pasti apa alasan mengapa aku menjadi orang yang terpilih dan apa tugasku sebagai orang yang terpilih.
Belia hanya menjalankan tugasnya sebagai teman untuk membantuku melewati rintangan-rintangan yang terdapat di dalam permainan ini, agar aku bisa dengan mudah keluar bersama teman-teman yang lainnya.
__ADS_1
“Baik kalau begitu, apa yang ingin kamu katakan kepadaku?” tanyaku kepada Belia.
“Aku hanya ingin menunjukkan tempat ini kepadamu agar kamu dan teman-temanmu bisa beristirahat sejenak di sini,” jawab Belia sambil duduk di sampingku.
“Aku juga ingin memberitahumu kalau hanya ada tiga rintangan untuk menyelamatkan dan membawa teman-temanmu keluar dari alam ini,” sambung Belia mengatakan apa yang kutanyakan sebelumnya.
“Oh ya? Syukurlah!” seruku dengan girang dan tersenyum bahagia.
“Jangan merasa lega dulu Rin,” ucapnya kepadaku dan membuatku berhenti tersenyum sejenak dan mulai memasang ekspresi wajah bingung.
“Emangnya kenapa Bel?” aku bertanya kepadanya.
“Mungkin kah aku bisa menjalani ini dengan sendiri? Sepertinya tanpa dampinganmu akan sulit bagi untuk memecahkan rintangan-rintangan selanjutnya,” ucapku dengan gugup karena tidak siap untuk melanjutkan rintangan selanjutnya tanpa dampingan darinya.
“Apa yang kamu katakan Rin! Kamu tidak akan sendirian, ada Varel dan Riana yang akan berjalan bersamamu untuk melalui tiga rintangan selanjutnya,” ucap Belia tersenyum dan menyadarkan bahwa aku tidak sendirian.
Varel dan Riana ada bersamaku, aku yakin bersama mereka aku pasti bisa melanjutkan rintangan selanjutnya walaupun tanpa dampingan dari Belia.
__ADS_1
“Kau benar Belia!” ucapku setelah menyadari kalau aku tidak sendirian. Aku memeluknya sebelum akhirnya dia pergi meninggalkanku.
“Huh!” aku menghembuskan napas untuk menenangkan diri, kemudian aku pun keluar dari ruangan itu untuk mengajak Riana dan Varel beristirahat di ruangan itu.
“Hai Airin! Mengapa kamu sendirian? Ke mana perginya si gadis bule itu?” tanya Varel berteriak dari kejauhan.
“Dia sudah pergi,” jawabku dengan singkat, aku menghampiri mereka dan kemudian aku pun mengajak mereka untuk ikut pergi bersamaku.
“Ke mana kita akan pergi Rin?” tanya Riana sebelum dia ikut bersamaku.
Aku menjawabnya kalau aku akan mengajaknya dan Varel beristirahat di suatu ruangan yang dilengkapi ranjang dan lainnya seperti kamar asrama.
Setelah aku menjawabnya, dia dan Varel pun ikut bersamaku menuju ruang tadi. Pada saat kami tiba di ruang itu, aku langsung mengajak mereka untuk mencari pakaian di dalam lemari yang terdapat di sini dan kami pun menemukan dua long dress putih dan satu baju piyama pria.
Varel sementara keluar dari ruangan selama aku dan Riana mengganti baju basah kami dan begitu juga sebaliknya.
Kemudian kami pun duduk untuk bercerita sejenak, Varel selalu menanyakan tentang apa yang dikatakan oleh Belia kepadaku dan aku pun menjawab dengan ketus bahwa hanya aku dan Belia saja yang berhak tahu apa percakapan kami.
__ADS_1
Setelah kami merasa cukup untuk bercerita, kami pun memutuskan untuk tidur, karena besok kami harus kembali untuk menghadapi rintangan selanjutnya.
BERSAMBUNG