The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]

The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]
Chapter.11 Iblis jahat Na'ene'


__ADS_3

“Mana anak itu? Katanya dia hanya sebentar di taman tetapi sudah dua jam dia tidak kembali!” Kak Deni Aditya yang sedang berjaga malam menantiku kembali dari taman.


“Sebaiknya aku memanggil Amara dan Bu Sofia untuk berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu dengan gadis itu,” Kak Deni Aditya pun memutuskan untuk memanggil Kak Amara dan Bu Sofia karena aku tidak kunjung kembali dari taman.


Dia khawatir ada sesuatu yang terjadi kepadaku makanya dia memutuskan untuk memanggil Kak Amara, karena Kak Amara lah yang paling dekat denganku dan Bu Sofia sebagai ahli spiritual untuk berjaga-jaga mungkin saja aku mengalami kejadian mistis.


Tok tok tok.


“Bu... Bu...” Kak Deni Aditya mengetuk pintu kamar Bu Sofia.


Krek.


“Ada apa malam-malam begini kamu mengetuk pintu kamar saya?” Ibu Sofia membuka pintu kamar dan bertanya kepada Kak Deni Aditya mengapa Kak Aditya mengetuk kamarnya malam-malam.


“Airin Bu, Anak baru itu! Tadi dia izin untuk pergi ke taman tetapi sampai saat ini dia tidak kunjung kembali!” Kak Aditya menjelaskan maksud dari dia yang mengetuk pintu kamar Bu Sofia pada malam hari.


“Mengapa kamu izinkan dia keluar pada malam hari!” tanya Bu Sofia dengan panik.


“Dia sedang berduka! Saya pikir kalau saya mengizinkannya keluar dia akan merasa sedikit tenang,” jawab Kak Aditya dengan polos.


“Astaga! Apakah kamu tahu? Jiwa yang sedang berduka adalah jiwa yang kosong! Jiwa yang kosong adalah sasaran dari para iblis-iblis jahat Den! Kenapa kamu sangat bodoh?” Bu Sofia memarahinya kemudian langsung berlari ke dalam kamar untuk memakai jaket dan mengambil beberapa alat yang berkaitan dengan spiritual.


“Kalau begitu ayo kita menjemputnya!” ajak Bu Sofia kepada Kak Aditya.


“Baiklah Bu! Tapi sebelum itu saya harus memanggil Amara,” kata Kak Aditya dengan panik, dia minta izin untuk memanggil Kak Amara lebih dulu sebelum mereka datang menjemputku di taman.


“Buat apa kamu memanggilnya? Jangan membuang buang waktu Den!” tanya Ibu Sofia dengan panik.


“Tetapi Anak itu sangat dekat dengan Amara Bu! Pasti anak itu membutuhkannya!” jawab Kak Aditya dengan polos dan panik.


“Ya sudah cepat kamu panggil Amara! Tetapi jangan lama-lama karena saya merasakan firasat buruk,” Bu Sofia pun mengizinkan Kak Aditya untuk memanggil Kak Amara.


“Baiklah Bu!” jawab Kak Aditya dengan singkat lalu bergegas pergi menuju kamar Kak Amara.


Tok tok tok.


“Amara! Amara! Bangun lah!” Kak Aditya mengetuk pintu kamar Kak Amara dan memanggil-manggil Kak Amara.


Krek.

__ADS_1


“Ada apa Den?” tanya Kak Amara kepadanya.


“Sulit di jelaskan, ayo ikut denganku!” jawab Kak Aditya lalu menarik tangan Kak Amara dan membawa Kak Amara turun.


“Mari Bu!” Kak Aditya mengajak Bu Sofia untuk berlari menuju taman. Mereka berlari dengan tergesa-gesa dan panik, sedangkan Kak Amara masih bingung kemana Kak Aditya akan membawanya.


“Kita mau ke mana sih?” tanya Kak Amara dengan bingung.


“Ini tentang Airin!” jawab Kak Aditya dengan singkat sambil berlari.


Jedar.


Tiba-tiba langit mengeluarkan suara petir, angin bertiup kencang, dan hujan pun turun. Mereka sempat berhenti ketika mendengar suara petir, mereka lanjut berlari setelah hujan turun.


“Airin!!” Kak Amara syok melihatku. Mereka melihat sosok iblis perempuan yang berada di belakangku. Iblis itu mengendalikan tubuhku untuk menari dan bernyanyi.


“Firasat saya benar! Firasat saya mengatakan bahwa gadis itu sudah dirasuki oleh iblis jahat!” Bu Sofia menyatakan firasatnya kepada Kak Amara dan Kak Aditya.


“Kenapa dia bisa ada di luar? Bukannya Yayasan sudah di pagari dengan doa?” tanya Kak Amara kepada Kak Aditya.


“Sa.. saya yang mengizinkannya keluar,” jawab Kak Aditya dengan perasaan bersalah.


“Sudah jangan bertengkar! Saya akan menghadapi iblis ini,” Bu Sofia menghentikan mereka yang hendak berdebat.


“Neng! Sekarang saya perintahkan kamu untuk keluar dari tubuh anak itu!”


Iblis yang merasukiku berhenti menari dan hujan beserta angin pun ikut berhenti ketika Bu Sofia mengajak iblis jahat yang merasuki tubuhku untuk berinteraksi.


“Tidak akan! Pergilah dari sini! Jangan ganggu kami! Kami sedang menari bersama!” jawab iblis itu dengan lantang.


“Apakah kamu mau merasakan air kelor ini?” tanya Bu Sofia dengan maksud mengancam iblis jahat itu karena semua makhluk gaib sangat membenci daun kelor.


“Berikan saja padaku! Aku tidak takut!” jawab iblis jahat itu dengan lantang.


“Dasar iblis bandel!” kata Bu Sofia sambil menyiramkan air kelor tadi ke tubuhku yang sedang dirasuki oleh iblis jahat.


“Hahaha Itu masih kurang!” kata iblis jahat itu dengan maksud menantang Bu Sofia. Iblis itu merasa sombong karena air kelor tadi tidak bereaksi.


“Amara, Deni, sepertinya dia adalah iblis yang kuat! Aku tahu nama iblis jahat itu! Namnya adalah Na’ Enek! Iblis yang satu ini adalah iblis yang suka menari dan bernyanyi! Iblis ini hanya bisa dikalahkan dengan lagu Tolak Bala,”

__ADS_1


Bu Sofia memberitahu Kak Aditya dan Kak Amara bahwa iblis yang sedang merasukiku adalah iblis yang kuat dan iblis ini hanya bisa ditaklukkan dengan lagu Tolak Bala. Sedangkan aku kembali menari dengan kendali iblis


“Lagu apa yang harus kita nyanyikan Bu?” tanya Kak Amara kepada Bu Sofia.


“Lingsir wengi saja,” jawab Bu Sofia kepada Kak Amara.


“Baiklah tunggu apa lagi? Ayo kita menyanyikan lagu itu!” kata Kak Aditya dengan panik.


“Baiklah 1 2 3,” Bu Sofia pun memberi aba-aba untuk menyanyikan lagu itu dengan hitungan satu sampai tiga. Kemudian mereka pun mulai bernyanyi.


Lingsir wengi sliramu tumeking sirno,


Ojo Tangi nggonmu guling,


Awas jo ngetoro,


Aku lagi bang wingo wingo,


Jin setan kang tak utusi,


Dadyo sebarang,


Wojo lelayu sebet ...


Benar saja, setelah mereka selesai bernyanyi iblis jahat itu pun pergi dari tubuhku dan di sepanjang lagu itu dimainkan iblis menjerit jerit kepanasan.


“Airin kamu gk papa, kan?” Kak Amara menghampiriku dan menanyakan apakah aku baik-baik saja.


“Syukur, aku baik-baik saja Kak kalau boleh tahu, aku tadi kenapa Kak?” tanyaku kepadanya.


“Tadi kamu dirasuki oleh iblis yang bernama Nak Enek,” jawab Kak Amara dengan singkat lalu mengajakku untuk kembali ke kamar.


“Sebaiknya kamu mandi dan setelah itu kamu langsung tidur ya Rin!” kata Kak Amara setelah mengantarkanku ke kamar.


“Baiklah terima kasih ya Kak!” jawabku dengan singkat sambil tersenyum.


Aku masuk kedalam kamar dan langsung mengganti bajuku yang basah terkena hujan. Kemudian aku langsung tidur dan menyelimuti diriku sendiri, aku merasa sangat kedinginan dan rasa itu membuatku mengantuk dan tertidur pulas.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2