![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
“Bangun kamu pembawa petaka..! Bangun cepat..!” Kak Haura membangunkanku.
“Kakak...! Syukuran Kakak sudah sadar!” kataku setelah bangun dari pingsan. Aku sangat senang melihatnya sadar dalam keadaan sehat-sehat saja. Aku bahkan memeluknya dengan penuh rasa syukur.
“Syukurlah Kakak tidak apa-apa, aku sangat menghawatirkan Kakak,” kataku sambil memeluknya.
“Idih dasar lebay...! Lepaskan pelukanmu dari tubuhku sekarang!” dia menggertakku dengan nada yang sangat tinggi.
“Tapi aku kangen Kakak, aku gak mau lepasin pelukan ini,” jawabku dengan manja.
“Lepaskan pelukanmu dariku anak pembawa petaka!” Dia mendorongku sampai aku terjatuh dari atas ranjangku.
“Aduh,” ringisku ketika jatuh dari ranjang.
“Ka... Kakak kenapa?”
Aku bertanya kepadanya dengan tatapan mata yang mulai berkaca-kaca. Aku bingung atas perlakuan keras Kak Haura kepadaku. Aku mulai berpikir bahwa gertakannya tadi adalah gertakan serius. Tetapi aku masih bingung mengapa dia memanggilku dengan sebutan anak pembawa petaka.
“Kak? Salah apa yang sudah aku perbuat?” Aku kembali bertanya padanya karena dia tidak menjawab pertanyaanku tadi. “Kakak sedang bercanda, kan?”
Aku terus bertanya kepadanya sambil tersenyum dan air mata yang mengalir di pipiku. “Kak jawab Kak!” kataku memintanya untuk menjawab pertanyaanku.
Dia tidak menatap wajahku, sepertinya dia benar-benar marah. Aku berada di ruangan yang tidak terlalu luas bersama dengannya.
Aku melihat ke sekelilingku dan berniat untuk bertanya kepada Kak Adit dan teman-teman tentang hal yang membuat Kak Haura marah kepadaku, tetapi jika mereka ada di sini.
Namun sayangnya hanya aku dan Kak Haura saja yang ada di ruangan ini. Karena mereka tidak ada di sini untuk menjawab pertanyaanku, aku memutuskan untuk bangun dan bertanya sendiri tentang hal yang menyebabkan Kak Haura marah kepadaku.
“Au…” aku sedikit merintih kesakitan ketika berjalan mendekati Kak Haura. Sepertinya kakiku keseleo pada saat aku jatuh dari ranjang tadi.
“Kak? Kakak kenapa Kak? Kenapa Kakak memarahiku? Boleh aku mengetahui apa kesalahan yang telah aku perbuat?” Aku bertanya kepadanya setelah aku berada dekat dengannya.
“Kak Ayo jawab!” kataku memintanya agar dia mau menjawab pertanyaanku. Aku pun melangkah lebih dekat lagi dan hendak menyentuh pundaknya.
“Stop! Jangan pernah kamu sentuh aku lagi! Mulai dari sekarang! Jangan panggil aku Kakak lagi! Aku sangat membencimu,” dia memukul tanganku yang hendak menyentuh pundaknya. Dia membenakku dan memaki-makiku sehingga membuatku sedih.
__ADS_1
“Kamu pergi dari sini! Dan jangan pernah kamu lewat di hadapanku!” dia membentakku dan tangannya menunjuk ke arah pintu, dia mengusirku.
“Aku gak bakalan pergi sebelum aku tahu alasan kenapa Kakak marah kepadaku!!” aku membentaknya dan menantangnya untuk menjawab pertanyaan dariku tadi dan aku berjanji akan pergi setelah mengetahui jawaban dari semua pertanyaanku yang kutanyakan kepadanya.
“Oke! Tetapi kamu harus benar-benar musnah dari pandanganku setelah aku menjawab semua pertanyaanmu!” dia meminta kesepakatan kepadaku.
“Baiklah, aku akan menepati perkataanku tadi!” jawabku dengan tegar.
“Kamu pingin tahu kenapa aku marah-marah ke kamu?” tanyanya sambil memegang pundakku dengan kuat. Aku tidak menjawabnya, aku hanya mengangguk di setiap pertanyaannya.
“Kamu adalah penyebab dari semua bencana yang terjadi di keluarga kita! Kamu yang membuat kami repot dengan kemampuan aneh yang kamu miliki! Seandainya kamu tidak memiliki kemampuan aneh itu kita gak bakalan kejadian kayak gini! Ini semua karena kamu! Kamu pembawa sial!”
Dia meluapkan seluruh amarahnya tentangku. Dia menceritakan isi hatinya tentangku. Dia memaki-makiku sehingga aku merasa semua yang dikatakan olehnya itu adalah sebuah fakta.
Ya! Memang benar itu semua adalah salahku, seharusnya aku tidak di selamatkan dari gangguan-gangguan iblis yang hendak mengambil jiwaku. Seharusnya mereka memberikan diriku tiada, aku rela pergi demi keutuhan keluargaku.
“Aduh!” ucapku kesakitan.
Kak Haura kembali mendorongku dengan sekuat tenaga sampai-sampai kepalaku membentur tembok.
Krek.
“Ra! Apa yang kamu lakuin ke Adikmu?”
Kak Adit syok melihatku bersandar di tembok dengan kepala yang terluka. Dia membentak Kak Haura dan melepaskan katong plastik yang dibawanya. Dia berlari mendekatiku dan membantuku untuk berdiri.
“Kamu gak papa Dek?” tanya Kak Adit dengan penuh perhatian.
“Ini semua pasti ulah kamu, kan!” Kak Adit kembali membentak Kak Haura.
“Udah Kak! Gak ada yang salah di antara kalian! Di sini yang membawa masalah adalah aku!” aku teriak dan berlari meninggalkan mereka dengan keadaan kaki pincang. Aku keluar dari ruangan itu.
“Airin!” Kak Adit memanggilku.
Aku menyempatkan untuk berbalik badan melihat Kak Adit yang memanggilku. Aku sudah berada di luar ruangan dan membaca tulisan di atas pintu yang bertuliskan ruang keluarga pasien. Pantas saja Kak Haura bebas teriak di dalamnya, ternyata ruangan itu adalah kamar untuk para keluarga pasien.
__ADS_1
“Airin pergi Kak!”
Aku melambaikan tanganku kepada Kak Adit dan kembali berlari. Aku melewati koridor rumah sakit yang di setiap kursinya ada orang-orang yang menatapku dengan pandangan heran.
Aku terus mencoba untuk berlari lebih cepat karena Kak Adit juga mengejarku. Pada saat aku sudah berada di luar rumah sakit, Aku merasa lelah dan tidak sanggup lagi untuk berlari. Aku memutuskan untuk berhenti dan membiarkan Kak Adit mendekatiku.
“Dek kamu kenapa? Coba kamu jujur kepada Kakak!” tanya Kak Adit setelah dia berada dekat denganku. “Jangan nangis Dek! Apa kamu mau buat Kakak ikutan nangis?” katanya dengan penuh perhatian. Dia mengusap air mata yang mengalir membasahi pipiku.
Aku merasa sedih melihat perhatian yang diberikan Kak Adit kepadaku. Aku memeluknya dan menangis di dadanya.
“Kak, aku harus pergi sekarang! Aku minta maaf ya kalau aku pernah ngerepotin Kakak!” jawabku dengan sedih hati. Aku melepaskan pelukanku darinya, dan memegang tangannya lalu menuntunnya untuk ikut mengantarku ke mobil yayasan.
“Kak aku pamit ya! I love Kak! Jaga Kak Haura baik-baik ya! Aku akan menginap di dekat TKP. Aku harap Papa dan Mama segera ditemukan!” aku berpamitan kepada Kak Adit sebelum aku masuk ke dalam mobil.
“Kamu adik yang paling Kakak sayang, kamu jangan pernah sedih ya! Jangan terlalu memikirkan Papa dan Mama ya Dek! Mereka pasti baik-baik saja, kamu gak perlu nginap di dekat TKP kecelakaan pesawat! Kamu pulang saja ke yayasan! Belajar yang bener! Nanti kalau ada kabar mengenai Papa dan Mama, pasti Kakak kabarin ke kamu!”
Kak Adit memberikan pesan kepadaku sebelum aku pergi. Dia tidak bertanya tentang pertengkaranku dan Kak Haura sedikit pun. Bahkan aku berharap dia tidak tahu bahwa aku dan Kak Haura bertengkar.
“Kak tadi aku jatuh makanya kepalaku berdarah! Kakak jangan marah-marah sama Kak Haura ya.” Aku menjelaskan luka yang ada di jidatku dengan kebohongan.
“Iya!” jawab Kak Adit dengan singkat tanpa pikir panjang.
Aku naik ke dalam mobil dan melambaikan tangan kepadanya, ketika mobil mulai berjalan meninggalkan Kak Adit yang berdiri di depan pagar rumah sakit.
“Aku pergi Kak!” aku membuka jendela kaca dan melambaikan tanganku kepadanya.
“I love you, Dek! Jangan diri baik-baik ya!” Kak Adit menjawab lambaian tanganku.
Pada saat mobil sudah meninggalkan Kak Adit dengan jauh, Aku kembali mengingat semua kata-kata pahit yang di ucapkan oleh Kak Haura kepadaku.
“Rin sini aku obati luka di kepalamu,” Friska menawarkan bantuan kepadaku. Aku mengangguk dan dia pun membersihkan luka di kepalaku dan membalutnya dengan perban.
“Makasih ya Kak!” kataku sambil memberikan senyuman kepadanya.
Karena hari sudah sore, semua orang yang ada di dalam mobil ini pun terlelap dalam tidur mereka masing-masing. Mungkin mereka semua lelah.
__ADS_1
Sedangkan aku duduk di dekat kaca pintu mobil meratapi kata-kata pahit yang di ucapkan oleh Kak Haura kepadaku. Aku mengeluarkan air mata agar aku merasa lebih tenang.
Bersambung