The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]

The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]
Chapter.24 Buku harian kak Amara


__ADS_3

Aku, Friska dan Riana duduk satu kursi di ruang tamu. Kami tidak memiliki kegiatan malam, makanya kami bertiga memutuskan untuk berkumpul bersama di ruang tamu. Dara dan Gita belajar bersama Bu Sofia, dan anak-anak laki sedang bermain basket, dan sebagian ikut bersama pengawas laki-laki untuk berpatroli mengelilingi yayasan untuk berjaga-jaga.


“Ngomong-ngomong, kok nama sekolah kita SMA negeri 2 Gantung? Ada sesuatu gak dibalik nama itu?” aku bertanya kepada mereka berdua atau yang lebih tepatnya lagi aku bertanya kepada siapa yang mau menjawab.


“Ya jelas ada lah!” jawab Friska sambil tersenyum.


“Apa? Ayo ceritakan kepadaku!” pinta dengan penuh ambisi.


“Aku juga kurang tahu sih, intinya SMA kita itu terletak di kampung Gantung. Di mana, kampung itu banyak sekali orang yang mengakhiri hidupnya dengan gantung diri,” Friska menceritakannya dengan singkat dan padat.


“Yah!! Kan aku pingin dengar cerita lengkapnya,” aku merengek meminta cerita yang lebih panjang lagi.


“Kalau kamu mau tahu cerita lengkapnya, kamu bisa tanya ke Kak Amara karena Kak Amara adalah alumni dari sekolah itu, mungkin dia tahu cerita tentang sekolah itu,” kata Friska dengan lembut dan kemudian dia mengambil semangkuk kacang goreng dari atas meja.


Kemudian dia pun memakan kacang goreng itu dengan perlahan. Sedangkan Riana sedang asik membaca novel yang kupinjamkan kepadanya.


“Kak Amara!” aku menghentikan langkahnya yang hendak berjalan menuju anak tangga. Dia menoleh ke arahku.


“Iya?” katanya dengan nada bertanya.

__ADS_1


“Kakak mau ke mana?” tanyaku sambil menghampirinya.


“Kakak mau ke kamar nih! Ngantuk,” jawab Kak Amara dengan mata yang terlihat sangat mengantuk.


Awalnya sih aku ingin meminta Kak Amara untuk bercerita tentang sesuatu dibalik nama SMA negeri 2 Gantung, tetapi karena dia terlihat sangat mengantuk aku memutuskan untuk tidak memintanya bercerita terlebih dahulu.


“Aku anterin yuk Kak!” tawarku padanya.


“Boleh! Kakak juga takut jatuh, soalnya Kakak ngantuk berat,” Kak Amara berbicara dengan pikiran yang melayang-layang entah ke mana. Kemudian aku membantunya untuk berjalan menuju ke kamarnya.


Krek…


“Makasih ya Rin,” ucap Kak Amara setelah aku membantunya berjalan menuju kamarnya.


“Iya Kak sama-sama,” jawabku sambil tersenyum dan kemudian aku pun berjalan meninggalkan Kak Amara, membiarkan dia beristirahat.


“Airin, sepertinya kamu ingin berbicara tentang sesuatu? Katakan saja!” Kak Amara menghentikan langkahku.


“Gak usah Kak! Besok aja,” jawabku dengan singkat.

__ADS_1


“Bilang aja,” pinta Kak Amara dengan bersikeras.


“Aku cuma ingin bertanya tentang misteri dibalik nama SMA Negeri 2 Gantung kepada Kakak,” jawabku dengan lembut.


“Oh soal itu kamu bisa baca di buku harian Kakak! Ambil saja di dalam laci meja,” tawar Kak Amara dalam posisi setengah sadar. Kemudian aku pun langsung membuka laci mejanya, mencari buku hariannya. Setelah menemukannya, aku pun berpamitan dan pergi meninggalkan kamarnya.


Aku berlari menuruni anak tangga dan kembali duduk bersama Riana dan Friska di ruang tamu.


“Kamu kenapa Rin?” tanya Riana dengan penasaran.


“Kak Amara ngasih buku hariannya kepadaku, katanya di dalam buku ini terdapat jawaban dari misteri aneh yang terletak di balik nama SMA Negeri 2 Gantung,” jelasku dengan bersemangat.


“Oh ya! Aku juga mau denger!” kata Riana sambil menutup novel yang sedang di bacanya.


“Aku juga dong,” sambung Friska.


Aku pun tersenyum kepada mereka berdua dan kemudian aku membuka buku harian Kak Amara.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2