![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
“Huh!” aku lega karena aku sudah bangkit dari mimpi yang menyeramkan itu, mimpi itu sangat menyiksa batinku.
“Ibu,” ucapku dengan reflek.
Aku terbangun pada waktu ayam berkokok dan langit masih berwarna biru gelap. Ingin rasanya aku kembali tidur karena aku merasa cukup lelah, tetapi bajuku basah karena keringat dingin yang keluar akibat mimpi buruk tadi.
Aku duduk dengan pikiran kosong sebagai jiwa si Sri Wahyuni yang meskiku sekarang, tetapi aku sedang berpikir sebagai jiwaku sendiri. Aku mulai mengingat tentang nama Desa Jagat Baru yang di ucapkan oleh sosok itu, Desa Jagat Baru adalah desa yang kini bernama Desa Gantung. Ternyata si sosok itu berasal dari Desa Gantung dan ini berarti aku bisa menyelesaikannya dua petaka sekaligus.
“Uhuk.. Uhuk..” aku batuk karena menghirup asap yang mengepul dari dinding-dinding yang bolong. Aku penasaran dan kemudian aku pun turun dan berjalan menuju sumber asap tersebut.
“Eh Nduk, kok sudah bangun?” ucap si Mbok Midah menyambutku dengan senyuman.
“Iya Mbok, soalnya saya baru saja mimpi buruk,” jawabku dengan dingin.
“Oh, yo pantes kelambine teles, orang kamu mimpi buruk to,” ucap si Mbok Midah sambil memperhatikan bajuku yang basah.
“Iya Mbok,” jawabku dengan singkat.
“Kenapa bisa sampai keringat dingin seperti itu Nduk? Emangnya mimpinya serem banget to? Kalau Mbok boleh tahu kamu mimpi apa ya?” Mbok Midah kembali bertanya kepadaku tentang mimpi yang menyebabkan aku sampai mengeluarkan keringat dingin.
“Aku mimpi buruk Mbok, aku mimpi tentang kejadian buruk yang menimpaku tadi Mbok,” aku kembali menjawabnya dengan reflek dan di sini baru tahu kalau mimpi yang kualami tadi adalah kejadian buruk yang dialami oleh Sri Wahyuni sebelumnya.
__ADS_1
“Apakah kamu sudah siap untuk menceritakannya Nduk? Kalau sudah kamu bisa menceritakannya kepada Mbok tapi kalau belum siap gak usah diceritakan,” ucap si Mbok merayuku.
“Saya siap Mbok,” jawabku dengan singkat.
“Kalau begitu ceritakan saja Nduk! Siapa tahu Mbok bisa bantu atau setidaknya kamu bisa merasa lebih baik,” ucap si Mbok kepadaku dan kemudian aku pun langsung menceritakannya kepadnya. Aku menceritakan semuanya sesuai seperti yang kualami di mimpiku tadi dengan sedikit tambahan ketika aku sadar dari pingsan dan berjalan jauh sehingga dari kejauhan aku mulai setapak jalan dan melihat si Mbok dan ikut dengannya sampai ke sini.
“Nduk kamu aman di desa ini tenang ya!” ucap si Mbok dengan prihatin dan berusaha menenangkan diriku setelah aku menceritakan semuanya.
Dor! Dor!
Suara tembakan terdengar sehingga membuat kami terkejut.
“Itu suara apa Mbok?” tanyaku dengan khawatir dan sangat ketakutan bahkan aku juga sangat trauma.
“Ayo masuk Nduk!” si Mbok menyuruhku masuk ke dalam lubang, begitu juga terhadap kedua anaknya, dia menyuruh anaknya juga ikut bersembunyi bersamaku.
“Nduk jaga anak-anak si Mbok ya!” pesan si Mbok kepadaku dan kemudian dia pun menutup kembali papan-papan itu dan kemudian dia pun pergi.
“Kak, Mbokku ke mana?” tanya salah satu anak si Mbok kepadaku.
“Kakak nggak tahu Le,” jawabku dengan singkat.
__ADS_1
Waktu pun berlalu dan papan kembali dibuka.
“Itu gadisnya!” seru orang desa ketika melihatku, dan kemudian mereka pun mengeluarkan aku dari lubang itu dengan secara paksa.
“Ada apa ini?” dengan bingung aku bertanya kepada mereka.
“Lepaskan gadis itu! Kasian dia!” si Mbok masuk ke dalam rumah dan menyuruh para warga untuk melepaskanku.
“Alah Mbak Midah, iki penyebab Londo teka Mering kampung kulo iki!” bantah salah satu penduduk dan kemudian aku pun diseret oleh mereka untuk keluar dari rumah si Mbok dan si Mbok terus memberontak untuk menghentikan warga.
Para warga berlaku sedemikian, karena mereka tidak mau ada kolonel Belanda yang datang ke kampung ini lagi karena para kolonel itu mencariku.
Para penduduk pun tidak bisa dibujuk oleh si Mbok sampai akhirnya si Mbok juga ikut diseret bersamaku, karena para penduduk berpikir si Mbok sangat keras kepala untuk membelaku.
Mereka membawa kami ke suatu tempat dan melemparkan kami berdua ke dalam sebuah jurang yang sangat curam.
Aku merasa sangat hancur ketika aku terguling jatuh ke jurang. Aku tidak merasakan sakit di fisik karena batinku lebih terasa sangat sakit. Sakit batin ini disebabkan oleh kekejaman mereka kepada aku dan si Mbok, aku tidak mempedulikan diriku tapi aku hanya khawatir dengan si Mbok.
“Mbok Midah!” ucapku sebelum akhirnya aku pingsan dan tidak sadarkan diri.
Kami terus terguling dan akhirnya kami pun pingsan sebelum sampai pada ujung dari jurang tersebut.
__ADS_1
Aku tidak habis pikir dengan apa yang penduduk lakukan kepada si Sri Wahyuni, dia tidak bersalah. Seharusnya mereka membatu si Sri Wahyuni. Jika mereka takut dengan kehadiran para kolonel Belanda tersebut, mereka bisa mencarikan tempat yang aman untuk si Sri Wahyuni agar tidak ada yang tersakiti. Bukan malah membunuh si Sri Wahyuni dan si Mbok dengan cara yang sangat keji seperti ini.
Bersambung