The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]

The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]
Chapter.42 Salah sangka


__ADS_3

“Uhuk! Uhuk!” aku batuk dan memuntahkan cukup banyak air dari dalam perutku.


“Syukurlah kami selamat!” ucap Riana dengan khawatir dan kemudian dia pun memelukku dan membantu aku untuk berpindah ke dekat tembok untuk menyandarkan tubuhku agar aku bisa merasa sedikit tenang.


“Aku pikir hidupku sudah berakhir,” ucapku tersenyum kepada Varel dan Riana yang menatapku dengan penuh kekhawatiran.


“Aku juga sempat berpikir seperti itu,” jawab Riana dan dia pun mulai mengeluarkan air mata.


“Sudahlah jangan nangis Riana,” ucapku dengan tersenyum. Aku menenangkannya dengan cara memeluknya.


“Bagaimana aku tidak menangis Rin! Aku dan Varel membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencarimu di dalam air yang tidak jernih itu dan air keruh itu sempat membuat kami putus asa,” jawab Riana sambil menangis terisak-isak.


“Airin!” tiba-tiba sosok Belia muncul dari balik badan Varel dan membuat kami melihat ke arahnya.

__ADS_1


“Siapa kamu!” ucap Varel dengan nada tinggi dan menghadang Belia seolah dia melindungi aku dan Riana dari Belia. Mungkin dia pikir Belia adalah sosok hantu yang jahat. Riana juga memelukku dengan erat dan mungkin dia juga memiliki pikiran yang sama seperti Varel, mungkin dia juga berpikir kalau Belia adalah sosok hantu yang jahat.


“Varel, Riana, jangan takut dengannya! Karena dia adalah hantu yang baik. Dia juga yang sudah memberikan arahan untuk menyelesaikan permainan ini,” ucapku mengambil alih agar Riana dan Varel merasa sedikit tenang.


Varel yang tadinya menghadang Belia dengan badan yang tegak dan kaku pun langsung layu. Mungkin dia merasa bersalah dan malu.


“Benarkah itu?” tanya Varel sambil melihat ke arahku.


“Ya, itu benar!” jawabku dengan singkat.


“Maaf sebelumnya karena saya tidak memperkenalkan diri dan juga tidak menampakkan diri saya kepada kalian berdua selama kalian ada di alam ini, karena ada suatu alasan yang tidak dapat di jelaskan!”


Dengan cepat Belia mengambil alih untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Riana dan setelah itu Belia memejamkan matanya untuk membisikkan sesuatu ke telingaku.

__ADS_1


“Ikutlah bersama ku sebentar,” bisiknya di telingaku. Kemudian aku pun meminta agar Riana dan Varel untuk tetap di tempat dan dan saling menjaga.


Mereka sempat sempat bertanya ke mana aku akan pergi dan aku menjawab kepada mereka bahwa ada suatu hal yang ingin di bicarakan Belia kepadaku dan kemudian mereka pun membiarkan aku pergi ikut bersama Belia sejenak.


“Mari Belia!” ucapku sambil menggenggam tangannya dan kemudian pergi bersamanya. Dia membawaku berjalan menuju suatu lorong yang gelap dan jauh dari Riana dan Varel.


“Tunggu!” ucap Varel menghentikan langkah kami dan aku pun menoleh ke arahnya. “Hai gadis bule, jangan bawa Riana pergi jauh-jauh ya! Aku khawatir karena dia baru saja pingsan!” Varel meminta agar Belia tidak membawaku pergi jauh-jauh, karena aku baru saja sadar dari pingsanku. Belia tidak menoleh ke arah Varel dan dia pun tetap memandang lurus ke depan.


“Aku tidak akan membawanya pergi jauh, dan ada satu hal yang kamu ketahui!” jawab Belia dengan nada kesal.


“Apa itu?” tanya Varel dengan singkat.


“Jangan kau panggil aku bule! Panggil aku Belia Sarah!” Belia kembali menjawab dengan nada kesal dan melanjutkan perjalanan bersamaku menuju tempat yang ingin dituju olehnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2