![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
Sekitar pukul 00:00 malam atau yang lebih tepatnya pada pukul dua belas malam.
Dor…
Dor...
Suara senapan angin terdengar begitu keras hingga membangunkan kami dari tidur. Kami saling melirik satu sama lain dan kemudian kami pun saling berpelukan erat.
“Itu apa?” tanya Riana dengan ketakutan.
“Entahlah,” jawab Friska dengan nada datar.
Kami pun melihat kanan kiri mencari Ibu-ibu pemilik rumah ini tetapi dia sudah tidak berada di dalam kamar sempit ini lagi.
“Ke mana Ibu itu pergi?” hembus kesalku bercampur dengan perasaan takut.
“Sebaiknya kita lihat ada apa di luar sana,” ajak Friska dengan yakinnya.
“Tapi aku takut,” ucap Riana yang terlihat sangat ketakutan.
Friska pun berpikir sejenak dan kemudian dia mendapat ide. Dia memutuskan untuk mengintip prisatwa apakah yang sedang terjadi di depan rumah dan membiarkan aku berdiam di tempat untuk menemani Riana yang sangat ketakutan.
Friska pun melangkah dengan sangat perlahan untuk berjaga-jaga karena dia berpikir mungkin saja di depan sedang ada penyandera warga desa yang dilakukan oleh orang berkulit putih—Belanda. Friska terus mengendap keluar dari kamar dan kemudian dia melihat seisi rumah yang sangat berantakan seperti telah di acak-acak oleh perampok. Friska pun terus melangkah mendekati pintu depan rumah yang sedikit terbuka, dia pun mengintip dari bolong kecil yang terdapat di dinding anyaman bambu rumah tersebut.
Gleg.
Friska menelan ludahnya, dia kaget setelah melihat ke depan rumah tersebut lewat bolongan kecil. Dia melihat para warga yang terdiri dari anak-anak hingga orang dewasa yang di sandra oleh para pasukan orang kulit putih—Belanda. Mereka duduk berjajar dengan posisi kepala yang menunduk.
__ADS_1
Setelah mengetahui peristiwa penyandera tersebut Friska berlari tanpa suara, dia kembali menuju kamar untuk memberikan informasi yang ada di depan rumah.
“Di depan sedang ada penyandera warga, setiap rumah di periksa satu persatu,” kata Friska dengan nada berbisik, dia mengatakannya dengan sangat perlahan.
“Aku takut,” Riana menangis memelukku dengan erat.
“Jadi sekarang kita harus apa?” tanyaku pada Friska.
“Setelah kulihat-lihat, rumah ini terletak di paling belakang dan masih ada waktu bagi kita untuk kabur sini sebelum pasukan orang kulit putih itu memeriksa rumah ini,” jelas Friska memberikan arahan.
“Baiklah kalau begitu kami akan ikut bersamamu,” kataku setelah mendengar arahnya. Kami pun langsung berjalan dengan perlahan memastikan suara langkah kaki kami tidak terdengar. Kami keluar dari kamar dan berjalan ke ruang belakang rumah, kami berharap ada pintu belakang untuk jalan kabur kami dari Rumah ini.
“Syukurlah!” ucap Friska bersyukur setelah melihat bahwa ada pintu keluar di ruang belakang.
Kami pun bergegas membuka pintu itu untuk keluar dari rumah ini tetapi kami tetap melangkah dengan perlahan.
Friska membuka pintu tersebut sedangkan aku dan Riana saling berpelukan di belakangnya.
“Mau ke mana lagi kalian?”
Tiba-tiba ada tiga orang berbadan besar menunggu dibalik pintu tersebut, kami kaget melihat mereka yang beraura jahat.
“Siapa kalian? Bukankah kalian warga? Ayo kita kabur bersama-sama! Ada penyanderaan di depan,” seruku dengan perasaan panik.
“Ya! Benar! Kami adalah warga yang tertindas karena kalian bertiga!” jawab tiga lelaki itu dan hendak menangkap kami. Beruntungnya kami berhasil mengelak dan berbalik arah dengan maksud kabur dari pintu depan rumah saja.
“Aa…” kami kembali terkejut karena ada beberapa pasukan orang kulit putih yang juga menghadang dari arah yang berlawanan.
__ADS_1
“Jangan bergerak,” ucap tiga warga tadi kepada pasukan orang kulit putih tadi.
Ketiga warga tadi berhasil mendapatkan kami satu persatu. Mereka meletakkan pisau mereka di leher kami masing-masing seolah akan memenggal leher kami.
“Lepaskan para Noni-Noni Belanda itu!” ujar salah satu pasukan orang kulit putih yang kemudian meletakkan senjatanya.
“Lepaskan masyarakat terlebih dahulu! Baru kami akan melepaskan Noni-Noni Belanda kalian ini,” jawab seorang warga yang memegangku. Aku pun berpikir mungkin saja kami bertiga sedang menjadi tokoh Noni-Noni Belanda yang ada di dalam buku harian Kak Amara.
“Baiklah! Ikutlah bersama kami,” ajak pasukan orang kulit putih tersebut dan kemudian ketiga warga itu pun mengangguk dan ikut bersama pasukan tersebut.
Mereka melangkah mengikuti pasukan tersebut dengan tetap menodongkan senjata api mereka ke leher kami. “Aaaaa…” teriak tiga orang tersebut setelah melihat semua warga mati dengan tali di lehernya. Para warga mati dibunuh dengan cara di gantung dengan sebab para pasukan menduga bahwa warga sini menyandra tiga Noni-Noni Belanda, yaitu kami bertiga.
Dor.
Dor.
Pasukan orang kulit putih itu menembak salah satu warga yang menodongkan pisaunya ke leher Friska berharap warga itu mati dan Friska bisa mereka selamatkan.
Namu takdir berkata lain, mereka dengan kompak memenggal leher kami sebelum mereka ditembak mati satu persatu.
Pasukan sangat marah karena tiga warga itu berani membunuh kami bertiga, para pasukan itu pun menembak mati ketiga warga tersebut tanpa ampun.
Aku sempat melihatnya sebelum nyawaku benarbenar pergi dari ragaku.
Aku menghembuskan napas terakhir dengan melihat pemandangan mayat yang bergelantungan. Aku juga sempat berusaha menggapai tangan kedua temanku tetapi aku terlanjur pergi meninggalkan jasadku.
Bersambung
__ADS_1