![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
Kring....
Dua jam perjalanan sudah berlalu, Bel berbunyi menandakan bahwa waktu istirahat telah tiba.
“Rin ke kantin yuk!” ajak Klara.
“Yuk!” jawabku dengan singkat lalu berdiri dari tempat duduk dan ikut bersama Klara dan Friska.
“Kamu mau pesan apa Riana?” tanya Friska kepada Riana yang tetap duduk di bangkunya, dia tidak ikut bersama kami.
“Kenapa Riana tidak ikut bersama kita saja?” tanyaku kepada Friska memotong pembicaraannya dengan Riana.
“Dia takut di bully Kakak kelas karena dia memiliki sifat yang tidak biasa,” jawab Friska menjelaskan alasan mengapa Riana tidak ikut ke kantin sekolah bersama dengan kami.
“Aku tidak memesan apa-apa untuk saat ini karena aku membawa bekal dari yayasan,” jawab Riana.
Aku syok mendengarnya berbicara. Pada awalnya aku berpikir kalau Riana adalah anak yang bisu, karena sejak awal aku bertemu dengannya tidak sedikitpun aku mendengar suaranya. Ini adalah kali pertama aku mendengar suaranya.
“Ya sudah, kalau begitu pergi ke kantin sebentar ya,” kata Friska kepadanya.
“Baiklah,” jawab Riana dengan tetap menundukkan pandangannya.
“Tunggu!” kataku menghentikan langkah kami bertiga yang hendak pergi menuju kantin, kami sudah melangkah cukup jauh dari ruang kelas X A.
“Ada apa Rin?” anya Klara kepadaku.
“Apakah aku boleh tinggal di kelas bersama Riana?” tanyaku kepada mereka berdua.
“Boleh kok!” jawab Friska sambil tersenyum manis.
“Kalau begitu aku kembali ke kelas dulu ya!”
Aku berbalik badan dan berjalan menuju ruang kelas X A karena aku tiba-tiba merasa ingin mengenal Riana lebih dekat lagi, setelah aku mendengar dia berbicara untuk pertama kalinya.
“Airin!” Klara dan Friska dengan kompak memanggilku yang baru saja berjalan lima langkah menuju ke ruang kelas. Aku berbalik badan dan melihat ke arah mereka.
“Kamu mau titip apa?” tanya Friska dari kejauhan.
“Aku titip minuman aja deh,” jawabku kepadanya.
“Kalian tunggu di kelas ya!” pesan Klara kepadaku untuk tetap berada di kelas bersama Riana.
“Oke,” jawabku dengan singkat dan kemudian aku dan mereka berbalik badan untuk melanjutkan berjalan menuju tujuan masing-masing.
“Hai Riana,” aku menyapanya tetapi dia tetap menunduk dan tidak melihat ke arahku. “Apakah aku boleh duduk di sampingmu sekarang?” aku berusaha untuk mendakatinya.
“Silahkan,” jawabnya dengan tetap menundukkan pandangan.
“Riana, apakah aku boleh mengenalmu lebih dekat lagi?” tanyaku kapadanya.
“Untuk apa?” dia kembali bertanya kepadaku.
“Tidak ada salahnya, kan! Mungkin kita bisa menjadi sahabat karib,” jawabku dengan antusias.
“Baiklah kalau begitu,” jawabnya sambil menyodorkan sebuah liontin perak yang berbentuk hati.
“Apa ini?” tanyaku padanya.
__ADS_1
“Tempelkan liontin itu di jidatmu!” kali ini dia mengangkat pandangannya dan melihat ke arahku.
“Untuk apa?” tanyaku lagi kepadanya.
“Bukannya kamu ingin mengenal ku lebih dekat lagi?” jawabnya kepadaku dan dia kembali bertanya kepadaku.
“Baiklah,” jawabku dengan singkat dan langsung menempelkan liontin tadi ke jidatku.
“pejamkan mata mu!” pinta Riana kepadaku.
“Baiklah,” jawabku dengan singkat lalu mengikuti apa yang dia minta.
“Sekarang bukalah matamu,” sekarang dia menyuruhku untuk membuka mata.
“Di mana aku?” aku kaget kerena pada saat aku membuka mataku, aku sudah berada di tempat yang asing.
“Tenang lah! Kamu sedang menjelajahi waktu dan sekarang kamu sedang berada di dalam kisah hidupku,” jawab Riana, dia juga ikut bersamaku di dalam penjelajahan waktu dan katanya sekarang kami sedang berada di dalam cerita hidupnya.
Lir ilir, lir ilir,
Tandure wis sumilir,
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar,
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi,
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro,
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir,
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore,
Mumpung jembar kalangane,
Yo surako,
Surak iyo…
Aku melihat anak kecil yang sedang dinyanyikan lagu pengantar tidur oleh Ayahnya.
“Saya tidak tahu makna lagu ini selama masa-masa kecil saya. Mungkin Bapak menceritakan maknanya. Tapi saya tidak ingat. Saya hanya suka saja lagu ini karena iramanya meneduhkan. Setelah dewasa, saya baru tahu bahwa lagu ini diciptaKan oleh Sunan Kalijaga,” Riana menceritakan kisahnya dan ternyata gadis kecil yang sedang dinyanyikan lagu pengantar tidur itu adalah dia.
“Pak! Pak!” Tiba-tiba seorang wanita paruh baya datang dengan tergesa-gesa seperti sedang dikejar setan.
“Ada apa Bu? Kenapa?” tanya Ayahnya Riana kepada wanita itu.
“Dia sudah datang PAk! Dia sudah datang!” jawab Ibu itu dengan syok.
“Siapa Buk?” Ayahnya kembali bertanya kepada wanita itu.
“Talita sang iblis jahat,” jawab wanita itu dengan badan yang menggigil ketakutan.
“Jangan panik Bu! Ada Bapak,” jawab Ayahnya kepada wanita itu yang ternyata wanita itu adalah Ibu Riana.
“Wa ha ha ha..”
Jendela pun terbuka dan terlihat sosok wanita menyeramkan dari balik jendela, wanita itu tertawa lepas.
__ADS_1
“Suparman Kembalikan anak itu kepadaku!” sosok wanita menyeramkan itu meminta Riana kecil.
“Tidak akan!” jawab Ibunya lalu mengambil dan menggendong Riana kecil yang sedang tertidur pulas.
“Aku sudah memberikan apa yang kalian inginkan! Sekarang berikan lah apa yang kuminta!” sosok wanita menyeramkan itu marah karena Ibu Riana tidak memberikan Riana kepada sosok itu.
“Cepat pergi Bu! Biar Bapak yang menghadapinya,” perintah Ayahnya kepada Ibunya untuk membawa Riana pergi dan Ayahnya yang akan menghadapi sosok wanita menyeramkan itu.
“Tidak bisa kalian pergi dariku karena apa yang telah kamu janjikan harus kamu bayar Suparman!” bentak sosok itu sehingga membuat pintu dan jendela tertutup dengan sendirinya.
“Bagaimana ini Pak?” Ibunya terlihat sangat khawatir kalau Riana akan diambil oleh sosok itu dan Ibunya memeluk Riana dengan erat.
“Tidak ada pilihan lain Buk! Kita harus menyampaikan lagu tolak bala untuk mengusir iblis jahat itu Buk,” jawab Ayahnya kepada Ibunya.
“Baiklah Pak mari kita nyanyikan lagunya,” ajak Ibunya kepada Ayahnya.
“Bang-bang wus rahina, bang-bang wus rahina,
Srengengene muncul, muncul, muncul, sunar sumamburat,
Bang-bang wus rahina, bang-bang wus rahina,
Srengengene muncul, muncul, muncul, sunar sumamburat.
Cit-cit cuwit-cuwit, cit-cit cuwit-cuwit,
Cit cuwit rame swara ceh-ocehan.
Krengket gerat-geret, krengket gerat-geret,
Nimba aneng sumur, adus gebyar-gebyur.
Segere kepati, segere kepati, kepati bingah,
Bagas kuwarasan.
Lingsir wengi tan kendat, beboyo memolo tan kinoyo ngopo.
Bebendu pepeteng tan keno ati niro, bangbang wetan semburato.”
Ternyata lagu tolak bala yang mereka nyanyikan adalah lagu bang bang wetan, memang lagu itu sangat ampuh untuk mengusir iblis jahat, aku tidak tahu apa makna dari lagu itu.
“Aaaaa,” sosok wanita itu teriak kesakitan.
“Pak!” Ibunya syok melihat sosok wanita menyeramkan itu mencekik Ayahnya hingga tewas.
“Anakmu akan hidup bersama para iblis, hantu, dan setan! Aku mengutuk anakmu karena kamu tidak menepati janjimu! Anakmu akan menjadi anak yang mata batinnya terbuka,” sosok itu pun mengutuk Riana sebelum dia hancur berkeping keping.
“Airin, kita sudah selesai! Sekarang pejamkan lah matamu!” pinta Riana kepadaku. Aku mengangguk untuk meresponnya lalu aku memejamkan mataku.
“Sekarang bukalah matamu!” pintanya lagi dan pada saat aku membuka mataku aku sudah kembali ke tempat duduk di sekolah.
“Kamu mengertikan dengan maksud dari penjelajahan waktu tadi?” tanyanya kepadaku.
“Ya! Aku mengerti!” jawabku dengan singkat.
“Sifatku seperti ini karena batinku sudah tergganggu, Dari kecil aku sudah hidup di dalam terornya dunia lain dan itu semua terjadi karena kedua orang tuaku sangat ingin kaya. Pada awalnya mereka menumbalkan aku untuk jaminan kekayaan yang diberikan oleh iblis jahat Talita. Tetapi setelah mereka mendapatkan semuanya mereka berubah pikiran dan tidak mau menyerahkan aku kepada iblis jahat itu,”
__ADS_1
Riana menambahkan kesimpulan dari kisah hidupnya. Dia menceritakan kenapa dia bisa menjadi The Indigo.
Bersambung