![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
Genangan air terus naik sehingga akhirnya Varel pun emosi karena dia bingung harus berbuat apa. Varel marah dan meninju langit-langit sehingga langit-langit pun jebol.
“Apa yang kamu lakukan Varel?” tanyaku dengan sedikit marah, aku juga ikut terbawa amarah karenanya.
“Kita gagal Rin!” jawabnya dengan singkat sambil tetap meninju langit-langit.
Aku pun terdiam mendengar jawaban darinya, sejenak aku berpikir bahwa apa yang dikatakan oleh Varel itu benar.
Aku dan Varel mungkin akan berakhir di sini karena tanpa bimbingan dari Belia aku tidak mengerti apa apa. Aku menundukkan pandanganku, aku menyalakan diriku karena aku adalah sebab dari semua kejadian buruk ini.
“Aku salah! Aku yang salah!” aku menangis sambil memeluk kedua lututku sedangkan Varel tetap melupakan emosinya dengan meninju langit-langit.
Byuur!
Akhirnya pelapon langit langit pun roboh dan Varel memelukku untuk melindungiku dari puing-puing reruntuhan pelapon.
“kamu tidak apa apa kan Rin?” tanya Varel setelah reruntuhan pelapon sudah jatuh ke dalam air. Varel menatapku dengan khawatir dan memastikan bahwa aku baik-baik saja.
“Aku baik-baik saja, seharusnya aku yang bertanya seperti itu kepadamu! Apakah kamu baik-baik saja?” aku kembali bertanya sambil menepis debu-debu pelapon yang hinggap di bajunya.
“Aku tidak apa apa,” jawab Varel dengan singkat dan juga menepis debu yang hinggap di bajunya.
“Haaaa ha Haaaa,” tiba-tiba suara merdu dari sosok yang tadi menempati ranjang terdengar kembali tetapi kini suara mereka berasal dari dalam air.
Kemudian aku pun tidak sengaja melihat ke arah langit-langit yang ternyata ada lubang yang berbentuk persegi panjang.
__ADS_1
Puk puk puk.
Aku menepuk-nepuk pundak Varel dengan tetap memandang ke arah lubang persegi panjang yang cukup besar di atap.
“Ada apa Rin?” tanya Varel sambil melihat-lihat ke arah air, dia berusaha untuk mengetahui sumber suara nyanyian tadi.
“Coba lihat itu!” seruku kepadanya.
“Apa?” dia kembali bertanya dan kemudian aku pun meletakkan kedua telapak tanganku di pipinya lalu ku arahkan pandangannya ke arah lobang tadi.
“Waaah!” ucap Varel dengan takjub dan kemudian dia pun langsung terlihat bahagia karena kami mendapatkan jalan keluar.
Lubang itu besar dan cukup untuk dilewati oleh boneka kayu ini. Varel pun kemudian membenahi posisi boneka kayu agar bisa keluar lewat lubang persegi panjang ini.
“Yes!” ucap Varel dengan penuh semangat setelah dia berhasil membenahi posisi boneka kayu.
“Aaaaaa!” aku teriak histeris ketika tangan tangan pucat itu keluar dari dalam air dan kini para sosok itu menggoyang-goyangkan boneka kayu ini seolah mereka berniat untuk menjatuhkan kami ke dalam air merah pekat yang beracun dan kini air itu semakin naik.
Varel mencoba untuk melepaskan tangan mereka dari boneka kayu tetapi tampaknya sangat susah dan membuatnya berhenti.
“Bang-bang wus rahina, bang-bang wus rahina,
Srengengene muncul, muncul, muncul,
Sunar sumamburat,
__ADS_1
Bang-bang wus rahina, bang-bang wus rahina,
Srengengene muncul, muncul, muncul,
Sunar sumamburat.
Cit-cit cuwit-cuwit, cit-cit cuwit-cuwit,
Cit cuwit rame swara ceh-ocehan.
Krengket gerat-geret, krengket gerat-geret,
Nimba aneng sumur, adus gebyar-gebyur.
Segere kepati, segere kepati, kepati bingah,
Bagas kuwarasan.
Lingsir wengi tan kendat, beboyo memolo tan kinoyo ngopo.
Bebendu pepeteng tan keno ati niro, bangbang wetan semburato,”
Aku bernyanyi tanpaku sadari dan lagu itu berhasil membuat para sosok yang memegang boneka kayu ini pergi dengan perlahan dan juga membuat air menjadi seperti mendidih.
Setelah aku selesai bernyanyi. Aku, Varel dan boneka kayu pun terlempar keluar dari melalui lubang persegi panjang tadi karena air naik dengan kecepatan yang sangat tinggi.
__ADS_1
“Aduh!” rintihku ketika aku terbanting di darat dan kemudian aku merasakan susah untuk bernapas, lalu mataku gelap dan akhirnya aku tidak sadarkan diri.
Bersambung.........