![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
“Airin... Kamu di mana?” wanita itu terus memanggilku dan mencari-cariku dari ruangan ke ruangan lainnya. Suara pintu yang di buka dan ditutupnya terdengar olehku. Dia benar-benar mencariku dengan teliti.
“Airin.. carilah tempat persembunyian yang aman! Kalau tidak kamu akan mati di hadapanku!” ucap hantu itu mengancamku.
Aku ketakutan hingga keringat dingin pun membasahi pakaianku. Aku menutup mulut agar tidak mengeluarkan suara.
Tok tok tok.
“Apakah kamu berada di dalam sana?” ucap wanita itu sambil mengetuk pintu ruangan yang kupakai sebagai tempat persembunyianku.
Aku semakin ketakutan ketika dia mengetuk pintu ruangan yang kutempati ini, dan kali ini aku juga menggigil ketakutan.
Krek
Terdengar suara pintu ruangan yang terbuka.
Prok prok.
Suara langkah kaki terdengar memasuki ruangan yang kutempati.
“Airin Kanyasara aku mencium aroma kematian di sini! Bersiap-siaplah untuk abadi di alam ini ya!” ucap wanita itu mengancamku.
Aku ketakutan dan menutup kedua telingaku, aku tidak mau mendengar ancaman yang sangat menyeramkan itu.
Dor dor dor.
Wanita itu mengetuk lemari tempat persembunyianku.
“Tahan napasmu dan keluarlah dari lemari! Dia tidak akan melihatmu,”
Tiba-tiba ada yang berbisik di telingaku, dia menyuruhku untuk tahan napas dan keluar dari lemari ini, katanya aku bisa menghindari wanita ini tanpa kelihatan.
Krek.
Pintu lemari pun di buka olehnya.
__ADS_1
Aku semakin ketakutan dan langsung berpikir untuk mencoba cara yang di berikan oleh bisikan tadi.
Srett.
Wanita itu pun membuka pakaian pakaian bergelantungan yang menutupiku sebelumnya.
Aku sempat ketakutan karena dia melirik-lirik ke sekelilingku, dia juga mengendus-endus seolah mencari sesuatu.
“Aarrrggg! Ternyata aku salah! Di mana kau bersembunyi?” ucap wanita itu dengan kesal karena dia tidak menemukanku. Dia pun membanting barang-barang yang ada di dalam ruangan itu bahkan dia juga masih mencariku di lemari lemari lainnya yang berada di ruangan ini.
Karena cara yang diberikan oleh bisikan tadi tidak sia-sia dan terbukti, aku pun keluar dari lemari sambil menahan napasku.
Krek.
Aku membuka pintu lemari dan dengan perlahan aku keluar dari dalamnya. Aku melihat ke arah wanita tersebut dan dia juga melihat ke arahku karena suara pintu lemari yang terdengar olehnya.
“Aarrgggg,” sosok wanita tersebut mengeluarkan suara menyeramkan dan menghampiriku. Aku tahu kalau dia tidak melihatku, dia hanya ingin mengecek isi lemari tempat persembunyianku tadi karena mendengar suara pintu lemari tersebut terbuka.
Aku melanjutkan langkahku untuk pergi keluar dari ruangan ini, dan pada saat aku membuka pintu ruangan ini sosok wanita itu malah lebih dulu keluar dengan cepat. Mungkin dia mengira bahwa aku sudah keluar untuk kabur darinya.
Aku tidak tahan lagi untuk menahan napas karena ketakutan membuat diriku bernapas dengan tergesa-gesa.
“Hi Hi Hi.”
Tiba-tiba suara tawa menyeramkan terdengar dari belakang ku dan dengan bersamaan aku melihat ke belakang.
“Aaaa...” aku berteriak.
Seketika darahku mendidih dan bulu kudukku berdiri. Aku sangat kaget karena dengan sekejap saja sosok wanita itu bisa berada di belakangku.
Dia langsung mencekik leherku dan membawaku melayang ke suatu tempat.
“Nyanyikanlah lagu tolak bala yang kamu hapal untuk memusnahkannya!”
Tiba-tiba suara bisikan misterius itu terdengar lagi. Kali ini dia menyuruhku untuk menyanyikan lagu tolak bala untuk memusnahkan sosok wanita yang sedang mencekik leherku.
__ADS_1
“Hentikan!” bentaknya kepadaku dan kemudian aku pun melanjutkan nyanyian tolak bala tersebut.
“Bang-bang wus rahina,
Bang-bang wus rahina,
Srengengene muncul, muncul, muncul,
Sunar sumamburat.”
Pada saat aku mulai bernyanyi, sosok wanita itu pun menutup telinganya dan melepaskan cekikan di leherku.
“Bang-bang wus rahina, bang-bang wus rahina,
Srengengene muncul, muncul, muncul,
Sunar sumamburat.
Cit-cit cuwit-cuwit, cit-cit cuwit-cuwit.
Cit cuwit rame swara ceh-ocehan.
Krengket gerat-geret, krengket gerat-geret. Nimba aneng sumur, adus gebyar-gebyur.
Segere kepati, segere kepati, kepati bingah.
Bagas kuwarasan.
Lingsir wengi tan kendat, beboyo memolo tan kinoyo ngopo.
Bebendu pepeteng tan keno ati niro, bangbang wetan semburato.”
“Aaaaaa…”
“Panas...” ucap sosok itu merintih kesakitan di pada saat aku bernyanyi dan ketika aku selesai bernyanyi dia pun langsung menghilang.
__ADS_1
Aku kembali menghembuskan napas lega, dan sangat bersyukur karena bisa selamat dari kejahatan sosok wanita menyeramkan itu. Aku sangat terbantu dengan adanya bisikan penyelamat itu untuk menyelamatkan diri dari kejaran sosok wanita menyeramkan itu.
Bersambung.......