The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]

The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]
Chapter.64 Villa Merah


__ADS_3

Kami sudah sampai di villa merah nomor dua kosong empat yang berada di tengah hutan yang bernama Alas Sirno, yaitu tempat tujuan kami untuk berlibur sembari melatih kemampuan kami.


“Baik Anak-anak, silahkan turun secara berurutan ya,” ucap Eyang Darmo setelah Kak Aditya membukakan pintu bus untuk kami.


“Baik Eyang,” jawab kami dengan kompak dan kemudian kami pun turun secara berurutan. Anak perempuan beserta pengasuh perempuan turun lewat pintu depan, sedangkan anak laki beserta pengasuh laki-laki turun lewat pintu belakang.


Kak Amara menjaga pintu depan bus untuk mengarahkan kami untuk mengambil barang kami terlebih dahulu, kemudian Kak Amara pun menyuruh kami untuk berbaris dengan rapi karena akan ada pembagian kamar. Sedangkan pintu belakang dijaga oleh Kak Marlina untuk mengarahkan anak laki-laki untuk mengambil barang mereka masing-masing kemudian berbaris untuk pembagian kamar, sama seperti pengarahan Kak Amara kepada kami tadi.


“Itu punyaku Kak,”


“Ambilkan punyaku yang itu Kak,”


Suara teman-teman yang gaduh terdengar ketika mereka meminta bantuan Kak Aditya untuk mengambil barang mereka.


“Iya, iya, satu persatu ya!” ucap Kak Aditya yang linglung menghadapi teman-teman yang saling berebut, agar bisa mendapatkan barang mereka lebih dulu.


Sedangkan aku tercengang melihat mereka yang rusuh. Kemudian setelah mereka semua sudah mengambil barang masing-masing aku pun datang kepada Kak Aditya untuk mengambil barangku.


“Kenapa kamu gak ikutan rusuh Rin?” tanya Kak Aditya sambil tersenyum dan kemudian dia pun mengambil barangku dan memberikannya kepadaku.


“Males ah Kak,” jawabku dengan singkat dan kemudian aku tertawa kecil.


“Makasih ya Kak,” ucapku ketika aku menerima barangku darinya.

__ADS_1


“Wokkey!” jawab Kak Aditya sambil mengedipkan mata kirinya sehingga membuatku tersenyum bahkan tersipu malu, dan kemudian aku pun bergabung dengan teman-teman untuk berbaris karena akan ada pembagian kamar.


“Selamat datang di villa merah Anak-anak, senang saya sangat senang bisa berjumpa dengan kalian,” seorang wanita paruh baya yang mengenakan pakaian kebaya putih dengan rambut yang disanggul menyambut kedatangan kami dengan ramah. Dia memperkenalkan dirinya beserta villa merah miliknya ini.


Namanya adalah Martina Sukati, dia sudah lama membangun villa merah ini untuk di sewakan kepada para pengunjung Bukit Kura-Kura yang lokasinya tidak jauh dari sini, villa ini pernah ramai di sewa pada tahun sembilan puluhan karena pada dasarnya villa ini sangat bagus dan pelayanannya pun sangat memuaskan.


Villa ini mulai sepi dan bahkan tidak pernah lagi menerima sewaan setelah ada tragedi hilangnya beberapa pengunjung Bukit Kura-Kura yang hilang tanpa jejak. Tak hanya itu, karyawan villa merah sering mendapatkan laporan tentang kehadiran makhluk gaib yang sangat menggangu para penyewa dari para penyewa villa itu sendiri.


Pada awalnya nama hutan di sekitar villa merah ini adalah hutan Isak tetapi karena tragedi hilangnya beberapa pengunjung pada waktu itu hutan di sekitaran villa merah ini pun di ubah namanya menjadi Alas Sirno. Alas yang dalam bahasa Jawa berarti hutan dan Sirno berarti sirna atau musnah.


Nama Alas Sirno di ambil Ayah Ibu Sukati dari tragedi hilangnya beberapa pengunjung pada waktu itu dan pada saat hutan itu berubah nama villa merah pun seolah sirna, tak terkenal lagi dan tak pernah di kunjungi oleh orang lagi.


Akhirnya villa merah ini pun ditutup pada tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan tepatnya pada tanggal tiga belas Januari.


Ibu Martina ingin Alas Sirno ini berubah nama dan seluruh teror yang pernah terjadi di Alas Sirno maupun di villa merah ini segera berhenti agar bisa kembali seperti sediakala.


Setelah mendengar cerita dari Ibu Martina, Eyang Darmo pun berjanji untuk membebaskan Villa merah dari teror yang mengganggu dan akan mengubah nama hutan ini menjadi nama yang lebih baik lagi nanti ketika teror berhasil di hapuskan.


“Baiklah kalau begitu bagilah kelompok yang berisikan empat orang di setiap kelompok!” perintah Ibu Martina kepada kami dan kemudian kami pun berkumpul dan kelompokku terdiri dari aku, Friska, Riana, dan Dara. Sedangkan Gita ikut bersama Kak Amara, Kak Marlina dan Ibu Sofia.


“Semuanya sudah mendapatkan kelompok masing-masing, kan?” tanya Ibu Martina kepada kami.


“Sudah!” jawab kami dengan kompak dan kemudian Bu Martina pun menyuruh beberapa karyawannya untuk memberikan kunci kamar ke masing-masing ketua kelompok dan di dalam kelompokku yang menjadi ketua adalah aku sendiri.

__ADS_1


Kelompok perempuan terbagi menjadi dua bagian yaitu kelompokku dan kelompok Bu Sofia.


Sedangkan kelompok laki-laki terbagi menjadi tiga, yaitu kelompok Eyang Darmo yang beranggotakan Eyang Darmo dan Kak Aditya saja. Yang kedua adalah kelompok Varel yang beranggotakan Varel, Bima, Dafi, dan Lucas. Dan kelompok yang terakhir adalah kelompok Bagas yang beranggotakan Bagas, Alex, dan dua anak lainnya yang kurang aku kenal, karena mereka sangat jarang berbaur denganku.


“Selamat menikmati fasilitas yang telah kami sediakan!” ucap Ibu Martina sambil tersenyum ramah kepada kami, Kemudian setiap kelompok masing-masing didampingi oleh karyawan untuk menuju kamar masing-masing kelompok. Tak hanya itu barang bawaan kami juga dibawakan oleh asisten villa.


“Ini sih lebih cocok di sebut dengan hotel,” gumamku ketika aku masuk melangkahkan kakiku bersama teman-teman sekelompokku ke dalam villa.


“Waaah!” kami takjub dengan kemewahan villa merah ini dan sekali lagi aku berpikir tempat ini lebih layak di sebut hotel, karena memang ini seperti hotel dan tidak ada hubungannya dengan villa.


Setahuku villa adalah rumah klasik modern yang disewakan layaknya rumah kontrakan, kurang lebihnya seperti itu, tetapi villa merah ini lebih mirip hotel karena villa merah ini berubah bangunan yang terdapat banyak sekali kamar untuk di sewakan.


“Ah, sudahlah apa pun nama tempat ini aku tidak mau mempedulikannya lagi, sekarang yang lebih penting adalah memikirkan cara menghabiskan waktu berlibur dengan nyaman di sini,” gumamku sambil melihat ke sekeliling ruangan yang kami lewati bersama.


Karyawan villa merah ini melayani kami dengan sepenuh hati dan sangat ramah.


“Nah ini kamar kalian,” ucap karyawan villa itu sambil membukakan pintu kamar kami dan kemudian dia pun langsung mengajak kami untuk masuk dan dia pun menjelaskan beberapa kegunaan fasilitas canggih yang ada di dalam kamar kami.


“Selamat menikmati hari libur kalian!” ucap karyawan itu ketika dia telah selesai menjelaskan apa yang sekiranya masih belum kami mengerti.


“Iya baik, terima kasih Kak,” jawab Friska sambil tersenyum ramah dan kami pun hanya ikut tersenyum kepada karyawan villa itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2