![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
Kegiatan sore telah berlalu dan kini aku sedang duduk di taman bersama dengan Riana. Kami menikmati hembusan angin sore.
“Hi Rin, Riana,” sapa Bagas kepadaku dan Riana, dia menghampiri kami yang sedang duduk di bawah pohon.
“Hai juga,” aku menyapa balik kepadanya.
Dia pun duduk di atas rumput lapangan yang hijaunya seperti karpet.
“Gimana? Kamu udah dapet kabar terbaru tentang kedua orang tuamu?” Bagas bertanya kepadaku.
“Oh iya aku lupa untuk menghubungi mereka,” jawabku dengan ekspresi tegang karena aku baru ingat kalau aku harus menghubungi Kak Adit di rumah sakit.
“Terima kasih kasih ya Gas kamu udah ngingetin,” ucapku padanya. “Aku balik ke kamar dulu ya! Soalnya aku mau menghubungi Kakakku yang ada di rumah sakit,” kataku lalu meninggalkan Bagas.
“Oh iya,” aku berhenti setelah berjalan beberapa langkah.
Aku menyadari kalau aku meninggalkan Riana bersama Bagas.
“Ada apa Rin?” tanya Bagas kepadaku.
Aku berbalik badan dan bertanya kepada Riana. “Riana mau ikut?”
Dan seperti biasanya Riana hanya menganggukkan atau menggelengkan kepalanya untuk merespon pertanyaan dari seseorang. Dia mengangguk.
“Ya udah ayo,” jawabku lalu menjemputnya dan membawanya pergi bersamaku.
“Niat hati gombalin si Airin, eh malah di tinggal pergi. Au ah!” Bagas kesal lalu pergi meninggalkan taman. Sedangkan aku dan Riana sudah sampai di kamar.
Krek.
Aku membuka pintu kamarku.
“Ayo masuk Riana!”
Ajakku kepadanya, dia pun masuk bersamaku dan dia pun duduk di atas kasurku sedangkan aku membuka lemari pakaian untuk mengambil handphone dan setelah itu aku duduk di kasur bersama Riana.
“Rin itu apa?” tanya Riana, dia menunjuk ke arah koleksi novelku yang terlihat tersusun rapi di dalam lemari pakaian yang lupa aku tutup.
“Oh itu koleksi novelku! Kamu mau baca?” tanyaku kepadanya yang dari raut wajah terlihat seperti tertarik dengan koleksi novelku.
“Boleh!” jawabnya sambil tetap menatap kumpulan koleksi novelku.
__ADS_1
“Aku ambilkan ya,” aku berdiri dari tempat dudukku lalu berjalan menuju lemari untuk mengambil semua koleksi novelku kemudian aku kembali duduk di sampingnya.
“Nih novel-novelnya!” kataku seraya memberikan setumpuk koleksi novelku kepadanya. Raut wajah Riana tampak sangat kagum.
“Ya sudah kamu pilih-pilih aja, aku mau nelpon Kakak aku dulu ya!” kataku lalu meninggalkannya dan aku pindah ke kursi yang ada di depan cermin. Aku mencari nomor telepon rumah sakit yang di berikan oleh Kak Adit kepadaku.
“Nah ini dia,” kataku setelah mendapatkan nomor yang tadi ku cari, aku pun langsung menghubungi nomer tersebut.
“Selamat sore, kami dari rumah sakit Kasih Sayang, Apakah ada yang bisa di bantu?” suara wanita terdengar menjawab panggilan telepon.
“Saya ingin berbicara dengan Kakak saya! Pasien korban kecelakaan pesawat! Namanya Azka Pradita Julian,” aku menjawabnya.
“Baiklah mbak tunggu sebentar ya!” jawab wanita itu lalu memintaku untuk menunggu.
“Halo Dek! Bagaimana kabarmu!” suara Kak Adit pun terdengar setelah satu menit aku menunggu.
“Kakak kok gak pernah nelpon aku sih?” tanyaku dengan manja.
“Kan kamu tahu Kakak gak punya handphone lagi,” jawab Kak Adit dengan sedikit tertawa.
“Kak? Apakah Mama dan Papa sudah ditemukan?” aku kembali bertanya dengan nada mellow.
“Belum Rin! Papa dan Mama belum ketemu,” jawabnya dengan tegar.
Tut... tut... tut...
“Halo! Halo!” percakapan kami terputus, aku tahu Kak Haura lah yang menutup teleponnya.
Aku heran kenapa Kak Haura begitu membenciku. Spontan aku langsung bad mood setelah menerima cacian dari Kak Haura, Kakak kandunganku sendiri.
Kemudian aku pun menguatkan diri agar tidak larut dalam kesedihan, aku harus berusaha untuk tegar karena aku tidak mau menambahkan beban Kak Amara dan lainnya.
“Keyla!”
Setelah aku merasa sedikit tenang karena berusaha untuk menyegarkan diri. Aku mencari nomor kontak Keyla. Karena sudah hampir seminggu aku tinggal di sini dan belum sekalipun aku mengabarinya kalau aku sudah sampai di tujuan.
“Hallo! Ini siapa ya?” tanya Keyla setelah mengangkat panggilan dariku.
“Key ini aku! Airin!” jawabku sambil tersenyum senang.
“What!! Ini Airin?” jawabnya dengan syok.
__ADS_1
“Iya Key ini gwe,” jawabku dengan girang.
“Kok lu baru ngabarin sih,” tanya Key dengan jutek.
“Maaf ya Key, soalnya aku baru ada waktu,” jawabku dan kembali bad mood.
“Emangnya lu sibuk apa sih sampek lupain sahabat lu sendiri?” tanyanya lagi dengan nada jutek.
“Gue baru aja kena musibah Key!” aku mulai menangis sambil menjawab pertanyaan darinya.
“Rin, lu nangis? Maaf ya Rin! Gwe gak maksud jutek sama lu kok,” Key menyesali cara berbicaranya kepadaku. “Kalau boleh tahu musibah apa yang menimpamu Rin?” tanya Key dengan nada khawatir.
“Papa, Mama, dan kedua Kakakku mengalami kecelakaan pesawat Key!” aku menjawabnya dengan berusaha tegar.
“Astaga berarti kecelakaan pesawat tiga hari yang lalu itu menimpa kalian?” Key bertanya dengan syok dan khawatir.
“Kecelakaan itu terjadi pada saat perjalanan kembalinya keluarga ke kota, aku tidak ikut bersama mereka dan sampai sekarang kedua orang tuaku tidak ditemukan, hanya kedua Kakakku yang selamat dan sekarang mereka sudah berada di rumah sakit,” jelasku dengan detail.
Kami terus saling bercerita panjang lebar, kami melepaskan kerinduan yang sempat terpendam.
“Rin sebelum aku mengakhiri percakapan kita pada hari ini, aku mau beri kamu kata-kata tentang sahabat,” tawarnya kepadaku.
“Silahkan Key! Aku siap menyimak,” jawabku dengan singkat.
“Aku mulai ya!”
“Iya,” jawabku dengan singkat.
“Sahabat, Kepanjangan dari kata sahabat adalah Samudera Akan Hancur Apabila Aku Dan Kamu Berpisah,“ dia memberikan arti sahabat kepadaku.
“Wah bagus Key!” aku memujinya. “Ngomong-ngomong aku juga punya loh,” kataku tak mau kalah.
“Oh ya? Mana aku gak sabaran pingin dengar,” tantang Key.
“Oke aku mulai,” kataku.
“Iya cepat sudah!” jawab Key.
“Rindu seorang sahabat bagaikan embun yang hadir di setiap pagi. Sedangkan senyum seorang sahabat bagaikan pelangi yang hadir di senja hari dan pada intinya sahabat adalah keindahan yang tak terkalahkan,” aku selesai berkata-kata, aku juga sebenarnya kurang paham dengan apa yang aku ucapkan. Aku hanya ingin berkata-kata sebelum aku berpisah dengan Key.
“Wah keren Rin, good luck ya! Semoga kedua orang tuamu cepat ditemukan,” katanya sebelum menutup telepon.
__ADS_1
Bersambung