![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
“Mau kau apakan dia!” teriakku kepada sosok yang membawa Riana menempel bersamanya di langit-langit.
“Hi Hi Hi Hi…” sosok menyeramkan itu pun menatapku dengan tajam sambil tertawa-tawa. Sosok itu terlihat memiliki niat buruk kepadaku, aku bisa melihat niat itu dari tatapan matanya yang licik.
“Lepaskan Riana dan jangan coba-coba kau mengganggu Airin atau kau akan tahu akibatnya!” ucap Varel dengan lantang menantang sosok wanita menyeramkan itu.
Sambil menantang sosok itu Varel memelukku dengan erat, Aku tahu dia bermaksud untuk melindungiku tetapi entah kenapa aku merasa kehangatan datang dari pelukannya.
“Aaarrrgggghh,” sosok itu pun teriak setelah mendengar tantangan yang diberikan oleh Varel tadi.
Teriakkan sosok itu membuatku terkejut dan menyadarkanku dari kenyamanan pelukan yang diberikan oleh Varel.
Kretek! Kretek!
Tiba-tiba lantai bergetar dan akhirnya retak.
__ADS_1
“Hi Hi Hi…” sosok menyeramkan itu kembali tertawa dan seketika itu juga dengan bersamaan air keluar dari retakkan lantai.
Aku ketakutan dan panik karena air yang keluar dari lantai sangat banyak. Di sini aku juga merasa bingung karena aku tidak tahu apakah ini sebuah rintangan atau bukan aku tidak tahu.
“Haaaaa ha Haaaa,” sosok-sosok yang duduk di setiap ranjang yang ada di ruangan ini kembali bernyanyi dengan seirama, sedangkan sosok yang menempel bersama Riana di langit-langit terus melilit Riana dengan kukunya yang menjalar dan kini hampir semua tubuh Riana terlilit habis dan kini Riana terlihat seperti boneka yang terbuat dari akar pohon.
Aku dan Varel hanya bisa memandangi Riana dengan putus asa karena kami merasa bingung dengan apa sebenarnya yang terjadi sekarang ini.
“Pergilah bersama temanmu ini!” ucap sosok itu setelah dia selesai melilitkan kuku akarnya ke seluruh tubuh Riana dan kemudian dia pun berubah menjadi butiran debu yang kemudian jatuh ke air yang kini sudah setinggi lututku.
Byuur!
Jatuhnya boneka kayu itu menghentikan suara nyanyian sosok-sosok yang duduk menempati seluruh ranjang, dan saat aku dan Varel melihat ke arah ranjang-ranjang, para sosok itu pun ikut menghilang.
Aku sempat bingung dengan apa maksud sebenarnya dari kehadiran mereka, tetapi dengan cepat pikiranku beralih menuju Riana yang kini sudah menjadi boneka kayu.
__ADS_1
“Riana!” seruku histeris dan kemudian aku pun berlari menghampirinya.
Riana mengambang mungkin karena dia sudah ditutupi oleh kayu sedangkan debu sosok tadi larut dan merubah genangan air menjadi merah pekat seperti darah dan membuat kakiku dan kaki Varel terasa perih.
“Aduh!” rintihku karena merasakan perih yang amat sangat.
“Ayo kita naik saja ke boneka akar ini!” ucap Varel mengajakku sambil menahan rasa perih di kakinya.
“Rel, itu bukan boneka! Itu Riana Rel! Teman kita!” tegasku menolak ajakan Varel.
“Jangan kamu pikirkan soal itu dulu! Airnya semakin tinggi ayo naik!” tegas Varel dan dengan paksa dia menaikkan aku ke atas boneka akar yang mengambang dan kemudian dia juga menyusul naik boneka akar yang cukup besar ini.
Sedangkan air terus naik sehingga menenggelamkan ranjang-ranjang dan kini kepala kami sudah tersentuh dengan langit langit.
“Aduh! Apa yang harus kita lakukan?” ucapku mengeluh dan putus asa, sedangkan Varel tetap diam karena mungkin dia juga merasa bingung dan putus asa.
__ADS_1
Bersambung
Pengumuman untuk teman teman yang suka novel ini: