The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]

The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]
Chapter.66 Manusia berjiwa iblis


__ADS_3

Aku menenggelamkan diriku dan seketika itu aku kembali melihat keramaian dari dalam kolam renang ini. Kemudian aku kembali keluar untuk melihat dan memastikan keramaian yang kulihat dari bawah air.


Aku terkejut setengah aku keluar ke permukaan karena tiba-tiba saja teman-teman dan pengasuh pun menghilang dalam sekejap mata.


Aku Kembali menenggelamkan diriku untuk melihat kembali keramaian dari dalam kolam renang. Tetapi kali ini keramaian itu tidak terlihat lagi, keramaian itu berubah menjadi kesunyian, aku melihat keramik yang sekarang sudah terlihat menjadi tanah berlumut. Kemudian aku pun kembali keluar ke permukaan.


“Selamat datang!”


Tiba-tiba aku dikerumuni oleh banyak sosok menyeramkan yang mirip seperti kuntilanak. Mereka menyambutku di permukaan dan kemudian mereka pun merangkulku dan menenggelamkanku, mereka juga mengeluarkanku dari dalam air dan memasukkanku lagi ke dalam air, dan begitu seterusnya.


Semakin banyak aku keluar masuk air dunia pun semakin berubah menjadi lebih menyeramkan. Aku mencoba untuk berteriak karena napasku terasa seperti napas terakhir. Bagiku, apa yang telah mereka lakukan itu adalah sebuah siksaan.


“Tolong!!” aku berhasil teriak walaupun aku sudah berada jauh dari alam nyata.


Mereka melepaskanku ketika aku sudah berada di dalam alam yang merah. Semua terlihat merah seolah lensa mataku berubah menjadi warna merah.


Aku mengendus-endus aroma yang tak sengaja tercium olehku, baunya sangat anyir dan setelah aku melihat lihat ke sekitarku ternyata bau anyir itu berasal dari air kolam ini. Setelah menyadarinya, aku pun bersegera keluar dari dalam kolam tersebut. Kemudian aku memperhatikan suasana sekitar yang terlihat sangat kuno.


Aku berada di dalam suatu bangunan kuno yang mana banyak sekali tengkorak manusia berserakan di lantai sekeliling kolam. Tak hanya itu… ada sebuah patung manusia berkepala domba, patung itu sangat besar, dan patung itu mengeluarkan cairan kental berwarna merah dan kurasa cairan itu adalah darah. Di kepalanya ada sebatang bambu yang menempel sampai ke atap, sepertinya bambu itu adalah sumber cairan merah yang keluar dari patung itu.


Di belakang patung itu ada sebuah dinding dan di samping patung itu ada pintu yang terbuka. Karena aku penasaran, aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam pintu yang terbuka itu. Setelah aku berada di dalamnya, aku melihat sebuah loteng yang diterangi oleh cahaya obor api.

__ADS_1


Aku memiliki firasat buruk mengenai loteng ini dan aku memutuskan untuk tidak menaiki loteng ini.


“Aaaaaaaa!!! Tolong!!” tiba-tiba saja terdengar teriakan-teriakan histeris dari atas loteng.


“Ha Ha Ha,” tawa gila nan kejam menyambut teriakkan menyeramkan tadi.


Itu membuat ku merasa takut dan kemudian aku pun langsung bergegas keluar dari dalam sini.


Bruk.


Aku tak sengaja menabrak pintu yang tiba-tiba saja tertutup dengan sendirinya.


“Ayolah jangan seperti ini lagi,” ucapku dengan panik sembari mendobrak pintu tersebut.


Akhirnya pintu pun terbuka dan suara menyeramkan yang berasal dari atas loteng tadi pun menghilang. Aku merasa lebih lega dan kemudian aku memikirkan bagaimana cara untuk kembali ke alam nyata.


Tak tak tak.


Suara langkah menyeramkan terdengar dari balik badanku dan dengan reflek aku pun melihatnya. Seseorang yang memiliki badan bungkuk menuruni anak tangga dengan sangat lincah.


Aku pun langsung berlari ketakutan setengah melihatnya, dan kemudian ketika aku melintasi kolam untuk pergi ke pintu yang lain tiba-tiba saja ada bayangan putih yang mendorongku sehingga aku terjatuh ke dalam kolam.

__ADS_1


Aku merasa seperti lumpuh karena badanku tidak bisa di gerakkan, sehingga napasku tidak bisa kutahan lagi dan akhirnya aku pun terpaksa melepaskan napasku di dalam air. Kemudian air pun masuk ke dalam perutku sampai aku tidak sadarkan diri.


“Uhuk! Uhuk!” aku memuntahkan air dari dalam mulutku. Friska dan Riana memang kedua tanganku, sedangkan Dara dan Gita berada dibalik badan Kak Amara. Di hadapanku ada Bu Sofia yang terlihat sedang membaca doa.


“Ada apa ini?” aku bertanya kepada mereka setelah aku selesai memuntahkan air dari dalam mulutku.


“Bawa dia ke kamar,” perintah Bu Sofia kepada Riana dan Friska tanpa menjawab pertanyaan dari ku.


“Baik Bu,” jawab kedua temanku itu dan kemudian mereka mengajakku untuk mengganti pakaian terlebih dahulu sebelum kami kembali ke kamar.


Sesampainya kami di kamar mereka pun menyuruhku untuk beristirahat sejenak dan kemudian baru mereka akan menceritakan apa yang kualami tadi. Aku setuju dan kemudian aku pun beristirahat sejenak, kemudian aku bangun untuk mendengarkan cerita dari mereka berdua.


“Baiklah, aku akan menceritakan kejadian menyeramkan yang terjadi kepadamu tadi,” ucap Friska setelah aku menanyakannya.


“Ayo ceritakan!” seruku dengan penasaran.


“Setelah pemanasan tadi kamulah yang pertama kali masuk ke dalam kolam renang. Pada awalnya kami takjub melihat caramu berenang maka dari itu kami tidak ikut masuk karena kami keasyikan melihatmu berenang dengan lincah, bagi kami melihat caramu berenang adalah suatu hal yang seru. Keseruan itu berakhir sampai akhirnya kamu keluar masuk permukaan dengan tidak wajar. Ibu Sofia pun akhirnya memerintahkan kami untuk membawamu keluar dari dalam kolam. Lalu Kak Amara lah yang melompat ke dalam kolam karena tidak ada yang berani untuk membawamu keluar dari dalam kolam, setelah itu Bu Sofia pun menghampirimu dan menyuruhku bersama Riana untuk memegang kedua tanganmu karena kamu terus-terusan memberontak ketika Ibu Sofia berusaha menyadarkanmu. “


Mereka menceritakan semua kejadian tadi kepadaku. Aku juga menceritakan tentang apa yang terjadi pada diriku kepada mereka dan mereka pun ketakutan setelah mendengar cerita dariku.


Alasan yang membuat mereka takut adalah ketika mereka tidak merasakan sesuatu yang aku rasakan. Mereka tidak melihat sedikit tanda-tanda dari kehadiran makhluk gaib di villa ini, mereka juga tidak merasakan aura negatif di sini. Mereka takut keganjilan yang terjadi di villa ini memang sengaja memakan korban jiwa satu persatu tanpa sepengetahuan orang yang memiliki kemampuan khusus sekali pun.

__ADS_1


Ibu Sofia bilang kepada mereka bahwa keganjilan di villa ini dan juga di seluruh sekitaran Alas Sirno ini bukanlah ulah makhluk gaib semata. Ada manusia berjiwa iblis yang ikut bertanggung jawab atas keganjilan yang terjadi di sini. Maksud dari manusia berjiwa iblis adalah manusia yang bersekutu dengan iblis.


Bersambung


__ADS_2