The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]

The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]
Chapter.34 Seperti mimpi buruk


__ADS_3

Kring... Kring...


Alarm Jam beker berbunyi, aku menyetelnya tepat pada pukul delapan pagi.


Aku pun bangun dari tidurku dan segera mematikan alarm tersebut, kemudian aku membangunkan Riana. Setelah itu kami pergi ke kamar sebelah untuk membangunkan Varel dan Bagas.


Kemudian kami turun untuk memeriksa kembali apakah para pengasuh sudah berada di kamar mereka masing-masing.


Namun, ternyata kamar mereka kosong. Begitu juga kamar adik-adik yang tidak ikut bermain, mereka juga tidak ada di kamar.


Pada awalnya kami berpikir untuk meminta pertolongan kepada warga desa Damar. Namun betapa kagetnya kami ketika hendak keluar untuk meminta bantuan kepada warga desa.


Kami melihat gelapnya malam yang abadi padahal jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh pagi, kejadian ini terasa seperti mimpi buruk.


“Sekarang kita harus apa?” tanyaku dengan khawatir melihat kegelapan malam yang abadi.


“Tenang! Sekarang kita coba untuk menghubungi Eyang Darmo, kita akan meminta pertolongan kepadanya,” ucap Varel dengan tenang dan kemudian dia mengajak kami untuk pergi menuju kamar Bu Sofia untuk menghubungi Eyang Darmo.


Tut.. tut.. tut..


Varel pun menghubungi Eyang Darmo.


“Halo Eyang,” ucap Varel ketika telponnya di angkat. “Eyang! Tolong kami Eyang! Kami sedang berada di dalam masalah besar!” ucap Varel dengan panik.


“Hi Hi Hi Hi!” suara tawa menakutkan terdengar dari telpon tersebut.


“Halo! Ini siapa?” tanya Varel kebingungan.

__ADS_1


“Di dalam permainan ini kalian tidak bisa meminta pertolongan kepada siapapun. Kalian harus memecahkan semua rintangan yang telah kalian mulai sendiri! Hihihi!” ucap suara menyeramkan itu dan kemudian dia menutup telepon.


Wajah Varel terlihat tegang dan setelah mendengar ucapan suara menyeramkan dari telpon tadi.


“Bagaimana sekarang?” tanya Bagas dengan panik.


“Bagaimana kalau kita tetap meminta pertolongan kepada warga desa damar,” ujar Riana memberikan saran.


“Tapi kamu sudah melihat bagaimana keadaan di luar sana!” kataku dengan khawatir.


“Tenanglah! Semuanya akan baik-baik saja,” ucap Varel sambil meraih tanganku dan kemudian dia pun menggenggam tanganku. Rasa takut yang tadi kurasakan hilang ketika Varel menggenggam tanganku.


Aku pun menatap matanya yang cukup meyakinkan. Aku tersenyum dan kemudian aku mengangguk menyetujui pendapat Riana.


“Baiklah kalau begitu apa yang harus kita kendarai untuk pergi meminta pertolongan kepada warga desa?” tanya Riana melanjutkan topik pembicaraan.


“Bagaimana kalau kita pergi dengan mengendarai sepeda saja?” ucap Varel memberi saran.


“Tunggu, apakah kita semua harus pergi? Apakah tidak ada yang tinggal menjaga yayasan?” Tanya Bagas dengan raut wajah yang tidak enak. Kami pun berbalik badan dan kemudian kami melihat ke arahnya.


“Kenapa Gas? Kamu mau tinggal di sini untuk menjaga yayasan?” tanya Riana dengan kesal.


Bagas pun terdiam, dia tidak merespon pertanyaan dari Riana. Kemudian Riana pun mengambil sepeda dan membawanya kepada Bagas.


“Nih sepedanya! Aku naik bersama kamu,” ucap Riana dengan nada jutek dan kemudian dia pun membuka garasi.


Bagas mendorong sepeda tersebut keluar dari garasi dengan raut wajah yang kurang ikhlas. Kemudian Riana pun naik ke jok belakang sepeda yang di bawa oleh Bagas.

__ADS_1


“Varel, Airin, Tunggu apa lagi?” Riana menyadarkan kami yang tadinya asik melihat sikap juteknya Bagas. Aku dan Varel tercengang karena kami heran melihat sikap Riana yang tiba-tiba berubah drastis.


Kemudian aku pun naik di jok belakang sepeda dan Varel yang mengendarai sepeda. Kemudian kami pun langsung keluar dari yayasan untuk menuju pusat desa Damar yang ramai akan penduduk.


Suara jangkrik berbunyi meramaikan kegelapan pagi yang gelap, membuat kita merasa ini benar-benar malam hari.


“Peluk aku dengan erat kalau kamu merasa kedinginan,” ucap Varel dengan suara yang terdengar samar-samar.


“Terima kasih atas tawarannya,” jawabku berbisik di telinganya dan kemudian aku pun memeluknya.


Dan setelah lima menit kemudian Varel pun menghentikan sepedanya secara mendadak sehingga hampir membuat kami terjatuh.


“Ada apa Rel?” tanyaku dengan panik.


“Aku hanya berhenti mengikuti mereka,” jawab Varel dan mengarahkan telunjuknya ke arah Riana dan Bagas yang berdiri di samping jembatan.


“Ngapain mereka?” tanyaku dengan bingung dan kemudian menarik Varel untuk menghampiri Riana dan Bagas .


“Riana, kok berhenti?” tanyaku setelah berada dekat dengannya.


“Lihat itu Rin!” ucap Riana sambil menunjuk ke arah sungai. Aku pun heran dan langsung saja aku melihat ke arah yang di tunjukkan olehnya.


Aku kaget dan hampir saja aku teriak melihat banyaknya bathtub yang berada di atas aliran sungai yang dangkal. Di dalam bathtub-bathtub tersebut ada para pengasuh yayasan yang terbaring pingsan di dalamnya.


Bathtub-bathtub tersebut dijaga oleh beberapa sosok yang melayang-melayang dengan mengenakan pakaian putih berlumuran darah.


Mungkin jika Riana tidak menutup mulutku ketika aku hendak berteriak tadi, pasti sosok-sosok menyeramkan itu akan melihat ke arah kami dan akan mengejar kami.

__ADS_1


Kami pun sepakat untuk diam dan senyap, kami memutuskan untuk mengendap menjauhi sungai tersebut. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju ke desa Damar untuk meminta pertolongan. Kami tidak mau gegabah menghadapi sosok-sosok di sungai itu.


Bersambung


__ADS_2