![The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]](https://asset.asean.biz.id/the-indigo---breathing-in-two-realms-2--.webp)
Pagi pukul 07:00 adalah waktu keberangkatan Key dan Eyang Darmo ke bandara. Semua teman-teman berkumpul di kamarku untuk perpisahan mereka dengan Key, ada yang memberikan kenangan dan ada juga yang hanya datang untuk mengucapkan selamat jalan.
Keramahan teman-teman yayasan Rumah Batin ini dengan Key membuatku tersentuh, aku senang melihat keramahan mereka kepada Keyla karena mereka semua memperlakukan seperti seorang teman yang sudah di kenal cukup lama.
Tok tok tok.
“Airin, apakah temanmu sudah siap? Kalau sudah, segeralah turun ke bawah karena Eyang Darmo sudah menunggunya di bawah,”
Kak Marlina mengetuk pintu kamarku dan kemudian dia pun menyuruh agar Keyla segera turun karena Eyang Darmo sudah menunggunya.
“Baik Kak,” jawabku dengan singkat dan kemudian kami pun langsung membantu Keyla untuk membawakan barang-barang bawaannya ke bawah.
“Airin, Friska, biar kami saja yang membawa barang-barang si Keyla ke bawah,” Bagas menghentikan aku dan Friska ketika kami sudah keluar dari dalam kamar, dia menawarkan jasa untuk membawa barang-barang Key ke bawah.
“Baiklah kalau begitu, ini barangnya, kami izin menemani Keyla untuk berpamitan dengan Riana dulu ya,” ucapku sambil menyuguhkan barang yang kubawa kepada Bagas.
Begitu juga dengan Friska, dia menyuguhkan barang yang di bawanya kepada Alex, kemudian Alex dan Bagas pun langsung mengambil barang yang kami suguhkan dan mereka membawanya ke bawah. Sedangkan aku dan teman-teman lainnya menemani Keyla untuk berpamitan dengan Riana.
Krek.
Friska membuka pintu kamar Riana dan kemudian dia mempersilakan Keyla untuk masuk dengan disusul kami di belakangnya. Kemudian kami pun duduk di karpet dan Key menghampiri Riana, dia pun duduk di samping Riana.
“Hey Riana, terima kasih karena kamu sudah mau menerimaku dengan baik sebagai tamu dan juga teman di yayasan ini,” Keyla berbicara sambil memegang tangan Riana yang belum sadarkan diri sampai saat ini.
“Aku sangat senang karena bisa mengenal kamu dan teman-temanmu di yayasan ini, berat rasanya bagiku untuk pergi dari sini semenjak aku datang ke yayasan ini, aku tidak merasa sendiri lagi karena sikap ramahmu dan teman-temanmu yang membuatku sangat senang berada di sini. Aku belum pernah bertemu dengan orang sebaik kalian! Dan aku berharap aku bisa mengunjungi kalian lagi dilain waktu, Riana aku pamit pulang ya sampai jumpa lagi,” Keyla berbicara kepada Riana, dia mengungkapkan seluruh isi hatinya selama dia tinggal di yayasan ini dengan sangat tulus sehingga membuat aku dan teman-teman lainnya tersentuh.
“Sampai jumpa,” tiba-tiba Riana menjawab Keyla dengan keadaan yang masih tidak sadarkan diri.
Kami sedikit terkejut dengan suara yang di keluarkan oleh Riana walaupun hanya dua patah kata yang penting dia sudah mulai membaik.
“Sampai jumpa Riana,” Keyla kembali mengucapkannya sembari memeluk Riana sebagai pelukan perpisahan.
“Semoga kamu cepat membaik ya,” ucap Keyla setelah dia melepaskan pelukan perpisahan dan kemudian kami pun turun ke bawah untuk menemani Keyla berpamitan dengan para pengasuh perempuan di bawah.
__ADS_1
Dia kembali meminta maaf kepada Bu Sofia atas ajakannya kepada teman-teman untuk bermain dengan alam gaib kemarin. Ibu Sofia pun tersenyum dan kembali memaafkan Key dengan tulus dan setelah itu kami langsung mengantarkannya ke teras yayasan.
“Sampai jumpa Keyla,” ucap teman-teman laki-laki dengan bersamaan sambil melambaikan tangannya kepada Keyla.
“Terima kasih semuanya,” jawab Key dengan tersipu malu.
“Jaga dirimu baik-baik ya Rin!” seru Keyla kepadaku dalam pelukan perpisahan.
“Iya Key aku bakalan baik-baik aja kok selama aku tinggal di yayasan ini,” jawabku sambil tersenyum.
“Teman-teman aku pamit ya,” Keyla berpamitan kepada Friska dan yang lainnya, dia melambaikan tangannya sebelum akhirnya dia pun pergi masuk ke dalam mobil Eyang Darmo.
“Airin, Eyang pamit ya,” Eyang Darmo menghampiriku untuk berpamitan dan kemudian dia juga melambaikan tangannya kepada para pengasuh begitu juga dengan teman-teman yayasan Rumah Batin.
Kemudian Eyang Darmo langsung masuk ke dalam mobilnya dan mereka mulai meninggalkan yayasan Rumah Batin.
“Hati-hati di jalan Kak Keyla,” ucap Gita dengan manis sambil melambaikan tangannya.
“Terima kasih sayang,” jawab Keyla sambil tersenyum dari jendela mobil yang terbuka.
“Siip bosku,” jawab Keyla dengan ramah dan mengedipkan mata kirinya.
“Dada Key!” aku pun melambaikan tangan kepadanya.
“Da… Airin!” jawab Keyla yang juga melambaikan tangannya kepadaku dengan suara yang mulai mengecil karena jaraknya semakin jauh dari yayasan.
Sedih pasti kurasakan karena akhirnya aku harus kembali berpisah dengan sahabatku yang sangat baik.
“Kak Airin kita masuk yuk,” ajak Dara yang kemudian dia pun masuk bersama yang lainnya.
Mungkin karena rasa sedih yang menyelimutiku, aku jadi tidak mendengar ajakan dari Dara. Entah kenapa rasa ingin sendiri kembali datang berbisik di telingaku, rasanya aku belum siap untuk berpisah dengan Keyla.
Kemudian untuk mengurangi rasa sedih aku pun berjalan menuju ke taman yang ada di belakang yayasan.
__ADS_1
Aku berjalan dan di setiap langkahku terbayang wajah sahabatku yang sangat penuh dengan canda dan tawa, sepertinya aku benar-benar belum siap untuk berpisah dengan Keyla tapi bagaimanapun Keyla sudah berjanji kepada orang tuanya dan ujung-ujungnya aku harus siap untuk berpisah dengannya.
“Ada yang sedang galau nih!” tiba-tiba saja Tom si hantu muncul di sampingku dan mengangguku yang sedang asyik melamun.
“Apaan sih Tom datang gak kasih-kasih kode, bikin aku kaget aja,” ucapku dengan sedikit jutek.
“Kode? Emangnya aku apa sampai harus kasih kamu Kode?” Tom balik bertanya sambil tertawa dengan ekspresi yang usil.
“Kok kamu nanya? Emangnya kamu gak sadar kalau kamu itu hantu?” ucapku dengan jutek karena moodku sedang tidak bagus.
“Yah, pedes amat tu mulut, tapi bener juga sih apa yang kamu bilang,” ujar Tom sambil memasang ekspresi cupu sehingga membuatku sedikit tersenyum.
“Rin itu apa?” ucap Tom dengan histeris sambil menunjuk ke arah wajahku.
“Mana?” aku ikut histeris ketika bertanya kepadanya, aku khawatir kalau ada apa-apa di wajahku.
“Yah udah hilang,” jawab Tom dengan ekspresi yang kembali santai.
“Emangnya tadi ada apa Tom?” aku kembali bertanya kepada dengan serius.
“Mau tahu nih?” Tom bertanya dengan maksud membuatku pemasaran.
“Iya,” jawabku dengan singkat.
“Mau tahu aja atau mau tahu banget?” Tom kembali bertanya dengan nada usil.
“Ih!! Kalau gak mau jawab ya udah!” seruku yang kemudian merajuk dan sedikit merasa kesal.
“Tadi di mukamu ada senyuman, tapi sekarang sudah hilang,” ucap Tom menjawab kepenasaranku.
Aku tersenyum dan salah tingkah dibuatnya, rasa sedih yang kurasakan karena harus berpisah dengan Keyla pun tiba-tiba hilang terbawa waktu bercandaku bersama Tom. Dia memang yang terbaik karena dia selalu hadir ketika aku sedang berada di dalam kesedihan dan kesepian.
“Terima kasih Tom karena kali ini kamu telah menghiburku,” aku tersenyum dan bergumam dalam hati.
__ADS_1
Bersambung