The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]

The Indigo [ Breathing In Two Realms 2 ]
Chapter.70 Pengabdi iblis


__ADS_3

“Bangun Neng!” seseorang menggoyangkan badanku dan dengan perlahan aku pun bangun.


“Aku di mana?” ucapku setelah aku sadarkan diri.


“Tenang Neng, kamu ada di rumah Aki. Tadi waktu aku sedang dalam perjalanan pulang dari kebun, aku menemukan kamu bersama Ibu paruh baya yang tak terselamatkan, lalu Aki membawa kalian berdua kemari,” Kakek tua yang menjuluki dirinya sebagai Aki tersebut menjelaskan mengapa sekarang aku ada di rumahnya.


“Apa? Si Mbok tidak terselamatkan?” ucapku dengan histeris.


“Iya Neng, sepertinya si Mbokmu terbentur oleh sesuatu sehingga kepalanya mengeluarkan darah yang sangat banyak,” jelas si Aki kepadaku kembali.


Aku langsung bangkit dan meminta kepada si Aki agar dia menunjukkan keberadaan si Mbok saat ini.


“Baiklah mari ikuti Aki,” ujar si Aki, dan aku pun mengikutinya dengan langkah tertatih kesakitan.


“Apakah kamu masih kuat berjalan Neng?” tanya si Aki kepadaku.


“Masih Ki,” jawabku sambil menahan rasa sakit dan kemudian Aki pun lanjut berjalan dan aku terus mengikutinya keluar dari dalam rumahnya.


“Itu si Mbokmu!” ujar si Aki sambil menunjuk kearah kuburan yang tanahnya masih terlihat sangat subur.


“Mbok!” teriakku dengan penuh emosi yang tercampur aduk. Aku langsung berlari dan menghiraukan rasa sakit di tubuhku.


Aku menghampiri kuburan dan langsung terduduk lemah di sampingnya, aku merasa sangat kehilangan walaupun aku belum lama mengenal si Mbok. Si Mbok sangat baik dan sangat berjasa bagiku, karena membelaku si Mbok kehilangan nyawanya.


“Si Mbok!!!! aku teriak sekuat mungkin untuk melepaskan amarahku serta emosi yang tak terkontrol ini.


“Aku benci penduduk itu!!! Mereka harus merasakan apa yang kami rasakan!!!” teriakku lagi dengan emosi yang semakin memuncak. Aku menangis sejadi-jadinya di samping makam si Mbok Midah yang sangat berjasa walaupun aku baru mengenalnya.

__ADS_1


“Lepaskan semuanya sekarang Neng! Menangislah sejadi-jadinya! Teriaklah sekeras mungkin! Karena kamu akan merasa lebih baik nanti,” ucap Aki kepadaku dan kemudian dia pun masuk ke dalam rumahnya, dia sepertinya tahu bahwa aku sedang ingin menyendiri.


“Maut menanti kalian!!!!! Tunggu saja wahai orang-orang keji!” teriakku dengan amarah dan kemudian aku merasakan sangat lelah lalu penglihatanku pun mulai gelap, badanku terasa sangat lemas dan ketika itu aku pun langsung rebah di atas makam.


Aku pingsan dengan jangka waktu yang cukup lama sehingga ketika aku bangun dari pingsanku langit pun sudah mulai berwarna jingga dan badanku pun terasa sangat ringan. Aku berdiri dan melangkahkan menuju rumah si Aki, aku berjalan hingga akhirnya aku sampai di dalam rumahnya.


“Apa ini?” gumamku ketika aku melihat banyak sekali benda yang asing di mataku, aku rasa itu adalah benda spiritual untuk menjalin hubungan dengan mereka yang tidak terlihat.


“Neng, kamu sudah merasa lebih baik?” tanya si Aki dari balik badanku sehingga membuatku merasa kaget.


“Syukurlah badan saya sudah terasa lebih ringan dan beban yang saya rasakan tidak terlalu berat Ki,” jawabku setelah aku menghadap ke arah si Aki.


“Syukurlah,” saut Aki dengan pandangan dingin.


“Oh iya Ki, Aki sedang mengadakan acara apa Ki?” tanyaku dengan penasaran, aku menyindir si Aki soal benda-benda aneh itu.


“Aki tidak mengadakan acara apa-apa Neng, pasti Neng penasaran dengan sesajen itu ya?” jawab si Aki dan kemudian dia pun kembali bertanya kepadaku.


“Tenanglah Neng! Aku tidak akan melukaimu, malahan Aki ingin membantumu untuk membalaskan semua dendammu!” ujar si Aki yang berusaha menenangkanku. Dia berhasil menenangkanku. Tak hanya itu, aku juga kembali tersulut emosi ketika mendengar kata, ‘Balas dendam’.


“Balas dendam Ki? Bagaimana caranya? Aku tidak sabar untuk melampiaskan amarahku ini kepada mereka semua,” ucapku kepadanya. Tiba-tiba, aku bersikap sangat dingin layaknya seekor harimau yang haus akan darah.


“Ikut dengan Aki!” perintah Aki kepadaku dan kemudian aku pun langsung mengikutinya. Dia membawaku ke tempat sajennya dan kemudian dia pun menyuruhku untuk duduk berhadapan dengannya.


“Bawa baju ini bersamamu ke sumur belakang! Lalu gantilah pakaianmu dan mandilah dengan air sumur tersebut!” perintah si Aki kepadaku sembari memberikan kain putih yang terlipat rapih kepadaku.


“Baik Ki,” jawabku dengan singkat dan kemudian aku pun langsung menuju sumur yang terletak di belakang rumahnya, aku menyalin pakaianku dengan baju yang telah diberikan oleh si Aki kepadaku tadi.

__ADS_1


Byuur.


Aku menuangkan segayung air sumur ke tubuh ku, aku mandi dengan air sumur itu dan kemudian langsung kembali ke tempat sesajen tadi.


“Tetaplah berdiri Neng!” perintah Aki setelah aku berada di hadapannya dengan baju basah kuyup berwarna putih yang panjang menjuntai hingga membuat kakiku tak terlihat lagi.


“Dengan ilmu hitam yang akan bersarang di dalam jiwamu ini kamu bisa membalas semua dendam terpendammu kepada mereka yang kamu benci,” ujar si Aki sambil membawa kain putih seperti dengan motif jarring-jaring dan kemudian dia pun menghampiriku dan menutup ujung rambutku hingga ke ujung kakiku tertutup oleh kain jarring-jaring itu.


“Tetapi hal yang sulit akan menimpamu ketika semua hasrat balas dendammu sudah memuaskan, kamu tidak akan bisa mati dengan tenang kecuali kamu dapat membunuh tiga belas manusia berkemampuan khusus. Jika itu sulit bagimu! Kamu wariskan saja ilmu hitam ini kepada orang yang kamu kehendaki! Tentunya kepada orang yang memiliki rasa dengki di dalam hatinya,” si Aki kembali berbicara kepadaku, namun aku hanya mematung menyimak ucapan si Aki dengan sangat dingin.


Aku pun kemudian kembali ke tempatnya dan mengambil keris dan mengangkatnya setinggi wajahnya.


“Kini kau pengabdi iblis!” ucap Aki dan kemudian si Aki pun menusuk perutnya dengan keris tersebut. Si Aki teriak ketika dia akan pergi meninggalkan bumi ini, dia berubah menjadi asap dan kemudian asapnya berubah menjadi tiga iblis yang menyeramkan.


Ketiga iblis itu tertawa ria dan kemudian ketiga iblis itu pun dengan secepat kilat berlari masuk ke dalam tubuhku.


“Aaaa…” aku berteriak ketika mereka masuk ke dalam tubuhku, aku merasa seperti sedang ditembak oleh tiga peluru yang sangat keras.


Bruk!


Aku tertunduk dan berlutut sejenak ketika seluruh sosok sudah masuk ke dalam tubuhku.


“Ha.. Ha.. Ha..” seketika aku pun bangkit dan tertawa lepas dan melayang di udara.


“Maut akan menimpa kalian!” seruku dengan jiwa setengah iblis.


Bersambung

__ADS_1



ilustrasi rumah si aki pada saat malam


__ADS_2