The Queen Psycho

The Queen Psycho
09


__ADS_3

Hari ini Amoora akan memutuskan untuk memberikan surat pengunduran diri pada kepala direkturnya, setelah beberapa bulan dia bimbang akhirnya dia bisa meyakinkan dirinya untuk melakukan itu.


Sebenarnya dia masih sangat ingin bekerja disana, tapi dia tahu tidak mungkin dia tetap bekerja disana sementara sekarang dia akan lebih fokus pada dunia bawahnya.


Dengan pasti Amoora berjalan menuju ruang direktur yang ada di lantai paling atas.


"Pagi Inggrid."Sapa Amoora.


"Pagi juga, tumben sekali pagi-pagi sudah sampai disini."


"Aku ada urusan dengan pak bos."


"Oh, masuklah kalau begitu. Kebetulan beliau ada didalam."


"Oke."


Amoora berjalan menuju ruangan Ricard. Dia berdiri didepan pintu sejenak lalu setelah menarik nafas dia mengetuk pintu ruangan itu.


Setelah mendengar suara dari dalam, Amoora masuk kedalam ruangan Ricard.


"Selamat pagi pak Ricard."Sapa Amoora dengan sopan dan ramah.


"Selamat pagi Amoora, duduklah."


Amoora tersenyum lalu duduk dikursi tepat didepan Ricard.


"Ada apa Amoora, pagi sekali sudah menemui saya."


"Maaf pak kalau saya sudah menganggu."


"Katakan saja ada apa."


Amoora mengeluarkan surat pengunduran dirinya dan memberikannya pada Ricard dengan hati-hati.


Ricard mengamati surat yang ada diatas meja kerjanya, lalu dia menatap Amoora.


"Kau sudah yakin dengan keputusan mu?"


"Sudah pak. Seperti yang anda tahu saya sudah pernah mengatakan hal ini beberapa bulan yang lalu."


Ricard menganggukan kepalanya.


"Memang sangat disayangkan, kamu adalah wanita yang sangat berbakat, pintar dan juga ambisius."


Ricard mengambil surat pengunduran diri dari Amoora.


"Maafkan saya pak."


"Tidak perlu minta maaf. Kita dulu memang pernah sepakat, jika kamu ingin pergi dari perusahaan saya,kamu bisa melakukannya. Karena bagi saya, kamu sudah banyak membantu dan tentu saya tidak bisa menekan kamu lebih lama dengan melarang kamu keluar dari perusahaan ini."


"Anda jangan berkata seperti itu pak, saya adalah karyawan di perusahaan ini. Jadi sudah sewajarnya saya membuat perusahaan ini maju."


"Ya, apa yang kau katakan memang benar. Baiklah aku akan menerima surat ini dan mengabulkan permintaanmu. Tapi ingat satu hal, jika kau ingin kembali kau hanya perlu menghubungiku atau Inggrid."


"Tentu bos. Saya tidak akan pernah melupakan semua kebaikan bos pada saya."


"Iya, aku mengerti. Ambillah gaji terakhirmu dan jika kau mau membereskan barang-barang mu, aku akan meminta Inggrid untuk membantumu."


"Terima kasih pak, tapi saya akan membereskannya sendiri. Saya tahu Inggrid pasti sangat sibuk."


"Hmm baiklah kalau begitu."


"Terima kasih banyak pak, dan juga saya minta maaf karena tidak bisa membantu anda lebih lama lagi disini."


"Tidak apa-apa."


"Jika anda memerlukan bantuan saya, anda bisa langsung menghubungi saya."


"Tentu."


"Kalau begitu saya permisi pak. Jaga diri anda baik-baik."


"Ya kau juga Amoora."

__ADS_1


Amoora tersenyum lalu keluar dari ruang kerja Ricard.


Bagi Ricard, Amoora bukan hanya seorang karyawan baginya. Tapi Amoora juga sudah seperti sahabatnya sendiri.


Mereka akan mencari waktu luang untuk menghilangkan rasa penat akibat pekerjaan yang tidak ada hentinya. Jadi jika hanya berdua, mereka akan berbicara lebih santai.


"Apa sudah selesai?"Tanya Inggrid menatap Amoora dengan heran.


"Sudah, aku hanya menyerahkan surat pengunduran diri dan berpamitan dengan bos."


Mata Inggrid terbuka lebar "Are you sure?"


"Iya, jadi kamu harus menjaga pak bos lebih ketat lagi."


"Oh God, Amoora kamu sedang tidak bercanda kan? Bagaimana bisa?"


Amoora hanya tersenyum melihat Inggrid yang masih kaget karena kabar dia akan keluar dari perusahaan itu.


"Projek terakhir yang aku tangani sudah selesai dengan baik, dan aku yakin tidak akan ada masalah. Lagi pula aku sudah merencanakan juga sudah membahas hal ini dengan bos. Jadi ini bukan hal yang tiba-tiba."


Inggrid yang begitu dekat dengan Amoora diperusahaan itu seolah kehilangan teman baik dan juga saudara disana.


Amoora memeluk Inggrid dan mencoba menenangkannya yang sepertinya akan mulai menangis.


"Kita masih bisa bertemu diluar perusahaan. Kau juga bisa menghubungiku kalau kau sedang bosan."


Inggrid hanya mengangguk, dia tidak tahu harus berkata apa. Saat ini dia hanya merasa kalau dia benar-benar kehilangan orang yang baik baginya.


Amoora melepaskan pelukannya dan menyeka air mata Inggrid yang sudah meluncur ke pipi putihnya.


"Berhenti menangis, kalau tidak riasanmu akan rusak. Bos akan tertawa melihat wajahmu yang belepotan."


"Kau ini."Rengek Inggrid.


"Baiklah aku masih harus membereskan barang-barangku. Jaga dirimu dan ingat untuk mengurangi makan mie, kau akan menjadi sapi bulat kalau terus makan mie."


"Amoora!"


Amoora hanya terkekeh, dia lalu memeluk Inggrid lagi sebelum akhirnya dia pergi ke ruang kerjanya sendiri untuk membereskan barang-barangnya.


"Terima kasih karena sudah memberikanku kenyamanan selama aku disini."


Amoora melangkah keluar dari ruang kerjanya membawa sebuah kardus berukuran sedang berisi semua barang-barang yang harus dia bawa.


Beberapa karyawan dibawah kendalinya menatap Amoora, mereka tentu akan kehilangan sosok yang sangat tegas namun ceria itu.


Dimata mereka Amoora adalah seorang manajer yang adil, tegas, judes tapi sangat baik hati dan ramah.


"Kenapa kalian tidak bekerja? Semua pekerjaan tidak akan selesai jika kalian hanya berdiri disana." Ucap Amoora pada para karyawannya.


"Manajer, apa anda benar-benar akan keluar dari perusahaan?"Tanya salah seorang karyawan.


"Ini sudah hal biasa, kalian akan mendapatkan manajer baru yang lebih baik dari saya."


"Tapi manajer..."


"Kalian...Suatu saat kalian juga pasti akan melakukan apa yang saya lakukan jika memang sudah waktunya. Jadi jaga diri kalian baik-baik dan bekerjalah dengan giat disini."


Para karyawan yang selama beberapa tahun mengikutinya hanya bisa terdiam, walaupun berat tapi mereka memang harus merelakan manajernya pergi dari perusahaan.


Melewati para karyawan setianya, Amoora akhirnya sampai di tempat parkir.


Setelah mengambil gaji terakhirnya, Amoora benar-benar pergi meninggalkan perusahaan yang sudah banyak membantunya itu.


Sekarang dia akan lebih fokus pada dunia barunya di dunia bawah bersama dengan anak buah yang sudah dia anggap sebagai keluarga sendiri.


Walaupun baru pertama kali, tapi Amoora sudah banyak belajar dari Lexi cara mendapatkan uang untuk orang-orang yang hidup di dunia bawah (mafia).


Amoora yang memiliki kecerdasan dalam berbisnis juga bisa berbagai bahasa, sangat mudah bergaul dengan orang lain.


Sekarang tujuan Amoora adalah supermarket, dia berniat untuk membeli banyak bahan makanan untuk perayaan mansion barunya nanti malam.


Selain Lexi dan anak buahnya, Amoora juga mengundang teman-teman baiknya.

__ADS_1


Selesai membeli semua kebutuhan Amoora langsung pergi ke sebuah kafe untuk menemui teman-temannya yang mungkin sudah menunggunya disana.


Dan benar saja, ketika dia sampai disana teman-temannya sudah duduk manis dengan pesanan mereka yang sudah ada diatas meja.


"Maaf aku terlambat."Ucap Amoora.


"Kau sudah biasa terlambat, jadi kami tidak heran."Celetuk Cecil.


"Oh ayolah, aku baru saja mengundurkan diri dari perusahaan dan juga berbelanja di supermarket."


"Apa? Kau mengundurkan diri?"Tanya Sam dengan sedikit keras.


Beberapa orang pengunjung menoleh kearah meja mereka, dan tentu dengan senyum tidak enak mereka meminta maaf pada para pengunjung kafe itu.


"Tidak bisakah kau mengecilkan suaramu Sam?"Ucap Cecil geram.


"Maaf, aku hanya terkejut karena ucapan Amoora."


"Katakan sayang, kenapa kau keluar dari perusahaan?"Tanya Cecil.


"Aku akan fokus dengan dunia baruku. Aku tidak mungkin terus bekerja disana sementara kalian tahu hidupku kedepan bagaimana?"


"Tapi Amoora, kau sudah sangat lama bekerja disana. Apa kau benar-benar akan menukarnya dengan kehidupan barumu yang...Yang penuh bahaya itu?"


"Sam, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Ini sudah aku pikirkan beberapa bulan yang lalu, dan aku sudah yakin mengambil jalan ini."


Sam, Cecil dan Kevin diam, mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing tentang keputusan yang sudah Amoora ambil.


"Apa kalian masih ingin ikut barbeque di mansion?"Amoora mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Amoora kau sungguh-sungguh mengambil langkah ini?"


"Iya Kevin. Aku bersungguh-sungguh."


"Baiklah, kalau begitu aku akan memberitahu sesuatu padamu."


Semua mata menatap Kevin.


"Ada apa? Apa kalian sibuk malam ini?"


Kevin menggelengkan kepalanya.


"Amoora, sebenarnya sudah lama orang tua kami melarang kami untuk berteman denganmu, kami sendiri tidak tahu kenapa mereka seperti itu. Tapi setelah Sam dan Boy mencari tahu, ternyata ibu tirimu sudah menfitnahmu dan mengarang cerita jelek tentangmu pada orang tua kami, dan mereka dengan keras melarang kami untuk bertemu denganmu lagi."


Amoora terdiam sesaat, dia lalu tersenyum.


"Aku bisa mengerti."


"Amoora, kami sudah sangat berusaha agar kita tetap bisa berteman denganmu lebih lama. Dan tidak mendengarkan orang tua kami, karena kami tahu bagaimana kamu. Tapi jika kamu seperti ini...Kami juga tidak tahu harus bagaimana."


Amoora sangat mengerti bahwa dia tidak mungkin akan hidup nyaman selama keluarga dari ibu tirinya masih ada.


"Amoora, saat ini setiap kali kami keluar ruamh, orang-orang yang di perintahkan oleh orang tua kami selalu mengawasi. Kami tidak mungkin mengekspos tempat mu pada mereka."


Amoora menatap Sam, Kevin dan Cecil bergantian. Dia sangat tahu kesulitan teman-temannya selama ini karena berteman dengan dirinya.


"Tidak apa-apa, aku bisa mengerti. Kalian adalah teman yang paling baik yang pernah aku miliki."


'ddrrrrrrrrrrrrrrtt'


Ponsel Amoora bergetar didalam tas, Amoora melihat nama Lexi pada layar ponselnya.


"Baiklah aku harus segera pergi, mereka pasti sudah menunggu ku di mansion. Kalian, jaga diri kalian baik-baik."


Amoora tersenyum pada ketiga temannya, walaupun senyuman itu begitu manis tapi senyuman itu menyimpan rasa sakit dan kecewa yang Amoora rasakan saat ini.


"Amoora."Cecil meraih tangan Amoora.


"Aku akan baik-baik saja, kalian harus menjaga kesehatan kalian."


Setelah mengatakan hal itu, Amoora keluar dari kafe dengan langkah lebarnya. Dia tidak mau teman-temannya melihat air matanya mengalir.


Bagaimana pun mereka sudah berteman selama bertahun-tahun, tapi karena keluarganya sendiri dia harus kehilangan teman-teman baiknya.

__ADS_1


"Hana, Bella. Aku akan memberi kalian hadiah kecil karena sudah membuat aku kehilangan teman-teman ku."


Amoora menatap tajam jalanan yang ada didepannya, dan dengan cepat dia melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang sepi.


__ADS_2