
Esok harinya Amoora sedang berdiri menatap dirinya pada pantulan cermin didalam kamarnya.
Hari ini dia harus menemani Alvaro pergi keacara perayaan pembukaan cabang perusahaan milik pamannya, dan saat ini Alvaro sudah berada dibawah menunggunya sejak jam 1 siang.
"Huh, kenapa aku juga harus pergi?"Gerutu Amoora sambil melihat dirinya di cermin.
Dengan malas Amoora menyambar tas pestanya lalu berjalan keluar dari kamar.
Dengan pelan dia turun kelantai bawah karena dia mengenakan high heels.
Alvaro menatap Amoora yang tengah menuruni tangga, dia terpesona dengan kecantikan Amoora. Tapi sedetik kemudian dia terdiam.
Amoora kini sudah berdiri didepan Alvaro yang masih diam melihat Amoora.
"Ada apa, apa ada yang salah denganku?"
"Ini tidak benar dan tidak baik."Gumam Alvaro.
"Hah?"
Amoora mengerutkan keningnya karena tidak mengerti apa yang Alvaro katakan.
"Apa yang kau katakan?"
"Ganti bajumu."
Amoora terkejut "Ini gaun yang kau minta untuk aku pakai tuan Alvaro Fernandez."
Alvaro menggelengkan kepalanya beberapa kali melihat tubuh Amoora yang berbalut gaun berwarna hitam itu.
...Amoora dengan gaun pesta pilihan Alvaro...
"Cepat ganti."
"Aku tidak mau, kau sendiri yang ingin aku memakai gaun ini agar terlihat lebih mempesona dari yang lain."
"Tidak, tidak, tidak. Itu tidak benar."
Amoora menatap Alvaro dengan penuh rasa emosi yang tertahan. Sebenarnya apa yang ada dalam pikiran laki-laki aneh itu, itulah yang Amoora pikirkan.
"Cepat ganti yang lain, yang lebih tertutup."
"Ck, menyebalkan sekali. Kau sendiri yang minta kemarin padaku untuk memakai ini karena sudah satu set dengan tuxedo yang kamu pakai."
"Aku berubah pikiran. Tuxedo yang aku pakai warna hitam, jadi apapun yang kau pakai akan pas. Cepat ganti sekarang."
"Atas dasar apa kau memerintahku harus memakai ini atau itu! Lagipula ini acara pamanmu tidak ada hubungannya denganku."
Amoora berbalik dan melangkah dengan kesal.
Melihat Amoora yang pergi karena kesal, Alvaro menyusul dan memeluknya dari belakang.
"Maaf, aku tidak tahu jika gaun itu akan lebih memperlihatkan bagian tubuhmu yang seharusnya tidak orang lain lihat. Aku tidak mau para laki-laki disana menatapmu dan menggila."
"Kau juga laki-laki tuan Alvaro Fernandez."
"Karena itu kau harus mengganti pakaianmu. Jika tidak, aku juga tidak bisa menahannya."
"Dasar mesum!"
__ADS_1
Amoora melepaskan pelukan Alvaro, dia lalu berbalik dan menatap Alvaro dengan tajam.
"Pergi saja sendiri ke pesta pamanmu, aku tidak mau pergi."
"Amoora, aku mohon. Disana akan ada banyak wanita yang mendekatiku."
"Bukankah itu bagus, kau hanya tinggal memilih diantara mereka."
Alvaro menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Aku sudah berkata padamu jika aku tidak menginginkan wanita lain selain dirimu, aku hanya tertarik padamu Amoora Alexander."
Amoora mematung, saat ini didepannya berdiri laki-laki yang sudah berulang kali memgatakan jika dia hanya menginginkan satu wanita yakni dirinya.
"Alvaro..."
"Jika kau tidak mau pergi maka tidak perlu bicara lagi. Aku akan pergi sendirian."
Alvaro pergi meninggalkan Amoora yang masih mematung sendirian dengan perasaan campur aduk.
Sore harinya ditempat pesta Alvaro tengah menikmati wine nya sendirian, beberapa tamu undangan datang untuk menyapanya, termasuk Lexi dan kekasihnya.
"Kau sudah datang?"Tanya Alvaro.
"Iya, berkat seseorang aku hampir datang terlambat."Ucap Lexi.
"Hahaha apa karena nona ini?"Alvaro melihat kearah Anggie.
"Tentu saja bukan, semua karena orang yang sedang berdiri disana."
Alvaro melihat kemana jari Lexi menunjuk, dan dia tertegun melihat Amoora datang mengenakan pakaian yang lebih tertutup, bahkan terlihat jauh lebih cantik dari pada ketika memakai gaun yang dia berikan.
Lexi melihat Alvaro yang terus menatap Amoora.
"Cepat kesana, sebelum orang lain mendekatinya."Ucap Lexi memprovokasi.
"Ck, dia tidak akan mudah untuk didapatkan. Dan lagi, dia hanya untukku bukan untuk yang lain."
"Baiklah tuan muda Fernandez, lakukan yang terbaik dan jangan membuatkannya kesal lagi."
Alvaro tidak menanggapi ucapan Lexi, dia berjalan mendekati Amoora.
"Kau terlihat lebih cantik mengenakan itu."Ucap Alvaro.
Amoora diam, dia hanya menyesap wine yang ada ditangannya.
"Maaf karena meninggalkanmu dan membuatmu marah."
"Anda tidak perlu minta maaf tuan muda Fernandez, lagipula memang sudah seharusnya."
"Amoora..."
"Permisi tuan muda Fernandez, bisakah saya berbicara berdua dengan anda."Seorang wanita berbicara dari belakang Alvaro.
Alvaro menoleh, dia memberikan tatapan dingin pada wanita yang berbicara itu.
"Tidak bisakah kau melihat aku sedang bicara dengan kekasihku?"Ucap Alvaro pada wanita itu.
Amoora membulatkan kedua matanya, bahkan bukan hanya dia. Orang-orang yang ada disekitar mereka juga.
__ADS_1
"Ta... tapi yang saya tahu... anda.."
"Pergilah, jangan membuat kekasihku semakin kesal dan marah padaku karena cemburu."
Tatapan tajam Alvaro membuat wanita itu pergi dengan takut.
Tapi tatapan itu tidak berlangsung lama, kedua mata Alvaro menghangat saat kembali menatap wajah Amoora yang ada didepannya.
"Sangat bagus tuan muda kita ini, kekasih? Memang siapa kekasih mu?"
"Amoora, aku..."
"Apa kau ingin karena ucapanmu yang seperti itu membuatku kembali tidak bisa berjalan atau bahkan kehilangan nyawa?"
"Amoora, aku hanya ingin..."
Alvaro terdiam saat dia melihat Clara berjalan mendekat dengan tunangannya.
"Selamat sore nona muda Alexander, selamat sore tuan Alvaro."Sapa Clara.
"Selamat sore nona Clara dan tuan Louis?"Ucap Amoora.
"Wah anda ternyata masih ingat dengan kami, sangat menyenangkan."Ucap Louis.
Alvaro hanya diam melihat interaksi Amoora dengan Clara dan Louis.
"Moora."Ucap Alvaro.
Amoora yang sudah terbiasa dengan panggilan itu karena Lexi juga memangilnya demikian secara reflek menoleh dan menatap Alvaro.
Melihat Amoora menoleh, Alvaro tersenyum.
"Kau sudah banyak minum, aku akan mengambilkanmu jus."
Alvaro mengambil gelas berisi wine milik Amoora lalu meneguknya sampai habis.
Clara melihatnya dengan seksama, dulu bahkan Alvaro tidak pernah mau minum satu gelas dengannya walaupun itu menggunakan sedotan. Tapi hari ini dia melihat sendiri Alvaro minum dari gelas Amoora, ditambah panggilan Alvaro kepada Amoora yang terdengar begitu dekat.
Sementara itu Amoora hanya diam melihat gelasnya diambil dan diminum oleh Alvaro didepan orang lain.
"Tunggu disini."Ucap Alvaro sambil menyentuh pipi Amoora.
Alvaro pergi meninggalkan Amoora untuk mengambil jus yang berada dimeja ujung.
"Sepertinya tuan muda Fernandez sangat menyukai anda."Ucap Louis.
Amoora hanya tersenyum menanggapi ucapan dari Louis.
"Oh tuan Louis, jika kau sadar dan melihat wajah tunanganmu saat ini. Mungkin kau juga akan berfikir jika tunanganmu juga masih sangat menyukainya dan tidak rela dengan orang lain."
Tak lama Alvaro datang dengan membawa jus ditangannya lalu memberikan jus itu pada Amoora sambil terus tersenyum manis, senyuman yang tidak pernah dia berikan pada orang lain.
Malam ini Alvaro yang bersikap sangat lembut terhadap Amoora menjadi perbincangan banyak orang, bahkan tidak sedikit dari para wanita yang datang terpesona dan juga iri pada Amoora yanh sudah membuat Alvaro seperti itu.
"Kau sangat cantik dengan baju itu, aku menyukainya."Bisik Alvaro.
"Jika saja seseorang tidak akan seperti anak kecil, aku pasti akan lebih menjadi perhatian banyak orang sore ini dengan gaun itu."Gerutu Amoora pada Alvaro.
Alvaro yang mendengar itu hanya terkekeh.
Kebersamaan mereka dipesta sore ini akan menjadi berita top besok pagi, Dan tentu saja Alvaro sangat menantikannya.
__ADS_1