
Setelah Amoora mengembalikan barang-barang dari Alvaro, dia terus mendapatkan lebih banyak lagi barang-barang yang berbeda dari Alvaro dihari berikutnya.
Seperti hari ini Amoora mendapatkan lebih banyak tas dan juga sandal cantik dari Alvaro.
Ya semakin Amoora ingin mengembalikan apa yang Alvaro berikan, maka semakin banyak Alvaro akan mengirimkan barang-barang pada Amoora.
"Ya Tuhan, apa dia sudah benar-benar gila! Apa dia tidak ada pekerjaan dan menganggap dirinya paling kaya jadi bisa seperti ini?"
Amoora benar-benar sudah dibuat kesal oleh Alvaro.
Sekarang Amoora sedang berdiri didepan sepatu dan tas yang baru saja Alvaro kirimkan untuknya.
...Sandal dan sepatu heel dari Alvaro ...
...Sepatu olahraga dan sepatu bahan beludru terbaik dari Alvaro ...
...Tas cantik Berbranded dari Alvaro ...
...Tas Kulit Asli dari Alvaro...
Melihat semua tas dan sepatu yang Alvaro kirimkan, dia yakin jika dia mengembalikannya lagi pasti besok dia akan mendapatkan dua kali bahkan 5 kali lipat lebih banyak dari jumlah yang sekarang ada didepannya.
Amoora tidak ingin memikirkannya, dia sudah dibuat pusing oleh kelakuan Alvaro yang semakin hari semakin aneh dan membuatnya kesal.
Setelah mengetahui siapa dirinya, Amoora pikir Alvaro akan menjauh darinya karena takut. Tapi itu semua jauh dari apa yang dia pikirkan.
"Apakah semua CEO dominan yang terkenal dingin dan arogan seperti ini? Mempunyai kebiasaan yang sangat aneh."
Amoora berjalan menuju kamarnya setelah meminta para pelayannya membereskan dan meletakkan semua tas dan sepatu kedalam close in closet nya.
Sudah cukup dia dibuat pusing oleh Alvaro.
Sekarang waktunya untuk menghancurkan Imanuel dan Hanna dengan memberikan sedikit bumbu pada mereka berdua.
Amoora menyalahkan laptopnya lalu jari lentiknya bergerak dengan lincah diatas keyboard.
"Kita lihat setelah kamu tahu kalau wanita yang selama ini kamu cinta dan kamu hidupi ternyata mengkhianati mu, kau akan melakukan apa padanya."Gumam Amoora.
Aura kebencin seolah memenuhi seluruh kamar Amoora, tatapan penuh dendam dengan semua rencana Amoora seperti sudah mendarah daging didalam tubuhnya.
Dia telah kehilangan sosok ibu yang sangat dia sayangi ketika usinya masih sangat muda, dan dia mendapatkan perlakuan yang tidak baik didalam rumahnya sendiri. Bahkan ayahnya dengan kejam bersekongkol dengan wanita simpanannya untuk membunuh ibunya dan mengambil semua kekayaan milik ibunya yang seharusnya menjadi miliknya saat ini.
Semua perasaan yang selama ini Amoora tahan, akan dia keluarkan. Amoora tidak akan peduli jika namanya akan terseret karena hal ini, selama itu bisa membuat Imanuel dan Hanna menderita dan hancur, Amoora akan melakukan apapun dengan tangannya sendiri.
__ADS_1
Setelah selesai melakukan permainannya, Amoora menyunggingkan senyum devilnya sambil menatap layar laptop.
"Besok akan ada berita yang sangat heboh disetiap sudut kota, itu akan membuat reputasi Imanuel dan Hanna menjadi rusak dan dengan sendirinya perusahaan akan hancur."
Amoora memejamkan matanya, dia mengingat sosok ibunya dalam setiap tindakan yang dia lakukan untuk membalas keluarga Steve padanya dan juga pada ibunya dulu.
"Ibu, maaf kalau aku melakukan semuanya melewati batas. Aku benar-benar sudah tidak ingin melihat mereka hidup tenang didunia ini."
Air mata Amoora mengalir dengan sendirinya, dadanya terasa begitu sesak saat mengingat Imanuel membawa Hanna didepan makam ibunya yang baru saja disemayamkan.
Tanpa rasa bersalah dan sedih Imanuel berkata jika mulai saat itu Hanna yang akan menggantikan posisi ibunya didalam rumah.
Amoora yang saat itu tidak mempunyai kekuatan untuk memberontak hanya bisa diam sambil meremas gundukan tanah makam ibunya dan berjanji akan membalas semua perbuatan mereka, juga akan mengambil semua yang seharusnya menjadi miliknya.
'ting'
Notifikasi berbunyi, Amoora melihat ponselnya. Dia mendapatkan satu pesan singkat.
Alvaro Fernandez : "Apa kau suka dengan hadiahnya? Aku harap kau tidak lagi mengembalikan itu, karena aku akan mengirimkan lebih banyak lagi."
Amoora melemparkan ponselnya setelah membaca pesan singkat dari Alvaro. Saat ini dia sama sekali tidak ingin berhubungan dengan Alvaro atau laki-laki lain.
Semua hanya akan membuat Amoora kesulitan, karena jika orang-orang tahu dia menjalin hubungan dengan Alvaro maka orang-orang akan mendapatkan satu kelemahan Amoora. Walaupun itu tidak berpengaruh bagi dirinya.
Saat ini tujuannya belum tercapai dengan sempurna, jadi Amoora tidak punya waktu untuk menjalin hubungan dengan orang lain.
Amoora membawa laptopnya keluar dari dalam kamar, dia berjalan menuruni tangga dan melihat jika Alvaro berada diruang tamu bersama dengan kakaknya, Lexi.
Melihat Amoora turun Alvaro tersenyum.
"Aku masih ada urusan dan harus kembali ke mansion."
"Apa sudah dimulai?"
Amoora mengangguk "Iya, mungkin besok akan terjadi hal yang besar di negara ini."
"Apa kau yakin akan puas dengan rencana mu ini?"
"Tentu, jika tidak maka aku masih bisa menggunakan anak tersayangnya."
Lexi mengangguk mengerti.
Sementara Alvaro diam, mencoba memahami apa yang sedang mereka bicarakan.
"Aku harus mencari tahu apa yang sedang Amoora rencanakan. Ini pasti berkaitan dengan keluarga Steve."
Amoora menatap Alvaro dengan datar.
"Sepertinya tuan muda Fernandez sangat santai, bisa melakukan banyak hal hanya dalam satu hari."
"Sebenarnya aku sangat sibuk. Tapi semuanya tidak penting jika dibandingkan dengan memilih hadiah yang bagus untuk nona Amoora."
__ADS_1
Amoora mencibir, dia tidak ingin memberikan respon yang baik didepan Alvaro.
"Baiklah kak, aku akan kembali besok."
"Hei, malam ini kau tidak pulang lagi?"
"Iya, setelah semuanya selesai. Aku akan sering tinggal dirumah untuk menemani laki-laki tua disini."Ucap Amoora sambik berjalan keluar rumah.
"Kau!"
Lexi tidak bisa berkata apa-apa lagi menghadapi ucapan Amoora yang tajam namun tepat sasaran itu.
Alvaro mencoba menahan tawa saat mendengar ucapan Amoora yang berkata jika Lexi adalah laki-laki tua yang dimaksud oleh Amoora tadi.
"Diam, kau ini sama saja."Ucap Lexi pada Alvaro.
"Apa yang dia katakan benar. Coba saja ingat berapa umurmu sekarang."
"Ck, usiaku baru kepala 3. Belum tua."
"Ya memang kepala tiga, tapi tidak lama lagi juga akan kepala 4."
"Alvaro!"
"Hahahaha maaf maaf."
Alvaro tertawa dengan bebas mengingat ucapan Amoora sebelum pergi.
"Sudahlah, bagaimana rencana mu dengan perusahaan milik Imanuel Steve? Karena melihat keyakinan Amoora tadi, sebentar lagi perusahaan itu pasti akan hancur olehnya."
"Aku tidak terlalu memikirkan itu. Lagipula aku hanya mempunyai saham 10% disana, jumlah yang sangat sedikit. Jadi tidak apa-apa kalau Amoora akan menghancurkan perusahaan itu, selagi dia senang."
"Cih, apa kau kira dengan melakukan itu adikku akan tertarik padamu?"
"Hahaha kau tidak mengerti, saat ini dia sudah tertarik padaku. Hanya saja aku tidak tahu kenapa dia bersikap dingin seperti itu denganku."
"Tidak perlu terlalu tinggi menilai diri sendiri tuan Alvaro Fernandez."
"Oh benarkah? Aku rasa kau juga tahu tentang itu. Tapi aku akan menunggu, aku tidak ingin dia jadi membenciku kalau aku memaksanya."
"Kau sudah memaksanya bung. Memaksa dia menerima semua barang-barang yang kau kirimkan untuknya."
"Itu hanya sebagian kecil saja. Aku bahkan rela memberikan satu perusahaan milikku padanya jika dia mau."
"Ck, keluarga Alexander tidak semiskin itu sampai harus menerima perusahaan dari mu."
"Ya..anggap saja sebagai mas kawin?"
"Tidak, jangan terlalu tinggi dalam berkhayal."
"Hahaha aku bisa membedakan mana hayalan dan mana tujuan Lexi."
__ADS_1
"Sudahlah, aku malas berdebat masalah ini dengan mu, aku mau keluar. Ayo."
Lexi berdiri dan berjalan keluar dari rumah disusul oleh Alvaro dibelakangnya sambil tertawa senang.