The Queen Psycho

The Queen Psycho
38


__ADS_3

Diluar kota, tepatnya dipasar gelap. Amoora dan Lexi sudah duduk dikursi sesuai dengan tiket masuk yang dipesan oleh Lucas (tiket VIP).


Acara lelang akan dimulai 10 menit lagi, dan semua kursi yang ada didalam ruangan sudah terisi penuh.


"Selamat sore nona Amoora dan Lexi."


Lexi dan Amoora menoleh.


"Kau sudah datang?"Tanya Lexi.


"Tentu acara sebentar lagi akan dimulai."


Orang yang menyapa tadi adalah Alvaro, dia menatap Amoora yang memilih untuk diam tanpa membalas sapaan dari Alvaro.


Lexi yang tidak ingin terlibat hanya mengangkat kedua bahunya, dia tahu kenapa Amoora tidak bereaksi pada Alvaro tadi tapi dia lebih memilih untuk diam.


Merasa jika ada seseorang yang mengabaikannya, Alvaro menatap Lexi dan bertanya melalui pandangan matanya.


Lexi menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu apa yang terjadi pada Amoora.


"Nona Amoora, apakah ada benda yang anda inginkan?"Tanya Alvaro mencoba mencairkan kecanggungannya.


"Anda pasti sudah tahu apa yang saya inginkan."Ucap Amoora datar.


Alvaro terdiam, dia langsung tidak bisa berbicara lagi seperti orang yang kalah dalam bermain catur.


Dari tempatnya duduk, Lexi melihat sosok wanita yang saat ini Amoora tidak sukai. Siapa lagi kalau bukan cucu dari Gabriel, Anasya Gabriel tengah melihat kearah mereka dengan tatapan tidak suka.


"Lebih baik kau kembali ke tempatmu, sebelum seseorang kembali berulah pada adikku."Ucap Lexi.


Alvaro tidak tahu maksud dari ucapan Lexi, tapi karena dia tidak ingin menyulitkan Amoora. Alvaro pun kembali ke kursinya.


Sementara seseorang yang tadi melihat interaksi mereka berpura-pura tidak melihat, karena tidak ingin dicurigai oleh Lexi yang baru dia sadari sedang melihat kearahnya.


"Tidak bisakah dia tidak kesini dan memancing emosi orang lain? Menyebalkan!"Gerutu Amoora.


"Sudahlah, dia tidak akan berani berbuat apa-apa."


Amoora yang menahan kesal melipat kedua tangannya di depan dada.


Lexi hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah lucu adiknya itu.


"Selamat sore semuanya, terima kasih karena sudah berpartisipasi pada acara lelang kali ini. Hari ini ada lebih dari 5 barang berharga yang akan di lelangkan, dan salah satunya adalah satu set perhiasan langka dari salah satu keluarga kaya dinegara ini. Yang di desain sendiri oleh desainer terkenal dan hanya satu-satunya didunia!"Ucap pembawa acara lelang hari itu.


Semua orang tidak sabar melihat barang-barang yang akan dilelangkan nanti.


Alvaro Fernandez tidak begitu tertarik dengan barang yang lainnya, dia hanya tertarik dengan barang yang membuat Amoora pergi ke pelelangan kali ini.


"Aku akan membuat yang lainnya tidak bisa memiliki itu selain dirimu Amoora."


"Baiklah tidak menunggu lebih lama lagi, saya akan mulai membuka acara lelang hari ini dengan barang pertama..."


Lebih dari 30 menit beberapa barang berharga sudah dikeluarkan dan dilelang oleh orang lain, ssmentara Amoora dan Alvaro sama sekali belum menawar satu barang pun.


"Baiklah, kini tiba saat yang dinantikan. Barang lelang yang paling berharga pada hari ini satu set perhiasan langka milik salah satu keluarga kaya!"


Seorang wanita keluar dari belakang sambil membawa sebuah kotak kaca yang berisi satu set perhiasan mewah dengan rubi berwarna merah.


Semua mata tertuju pada perhiasan mewah itu tidak terkecuali cucu dari Gabriel yang sudah mendapatkan dua barang sebelumnya dari pelelangan itu.


"Untuk satu set perhiasan mewah dengan rubi merah ini, saya membukanya dengan harga 2 miliar dan kenaikan haga dalam satu tawaran adalah 30 juta!"


Semua orang dibuat terkejut dengan harga awal dan kenaikan harga dalam sekali penawaran.


"1 miliar 30 juta!"Seseorang mulai menawar.

__ADS_1


"1 miliar 70 juta!"Ucap orang lainnya.


Beberapa orang sudah menawar perhiasan itu, dan...


"3 miliar!" ucap Amoora.


Beberapa orang menoleh kearah Amoora, dan Lexi. Mereka mengira jika keluarga Alexander juga akan tertarik dengan acara lelang seperti ini.


"3 miliar 30 juta."


Amoora menoleh ke sumber suara dan dia melihat Alvaro sedang mengangkat gelas wine miliknya dan menatap Amoora sambil tersenyum.


Tangan Amoora mengepal, dia tahu jika Alvaro pasti tidak akan membuatnya mudah mendapatkan perhiasan milik ibunya itu.


Lexi sendiri tidak mengerti maksud dari Alvaro yang ikut menawar perhiasan yang Amoora inginkan.


"3 miliar 70 juta."Amoora mengangkat nomor mejanya keatas.


"4,5 miliar."


Amoora dan Alvaro menoleh kearah sumber suara lainnya yang ikut menawar perhiasan itu.


"Wanita manja itu."


"4 miliar 80 juta."Ucap Alvaro.


"5,5 miliar."Ucap Anasya Gabriel.


Orang-orang yang datang kesana tentu tidak berani ikut menawar,karena ketiga orang yang bersaing perhiasan itu adalah tiga orang terkaya di negara Z dan tidak akan bisa diusik oleh siapapun.


"8 miliar!"


Semua orang tercengang mendengar suara yang cukup keras. Ternyata itu adalah Lexi yang menatap Anasya Gabriel dan Alvaro dengan tatapan mematikannya.


Alvaro dan Anasya tidak lagi menawar. Alvaro tidak ingin ribut dengan temannya sendiri dan Anasya Gabriel tidak dibolehkan oleh ayahnya untuk ikut menawar karena keluarga Gabriel tentu tidak akan bisa menghadapi keluarga Alexander.


Semua diam.


"Baik,8 miliar satu... 8 miliar dua... 8 miliar tiga. Selamat kepada tuan Alexander yang sudah memenagkan satu set perhiasan mewah yang hanya ada satu-satunya di dunia."Ucap pembawa acara setelah mengetuk palu sebanyak 3 kali.


Setelah acara lelang selesai, Amoora dan Lexi bergegas keluar untuk menemui dan melakukan transaksi diruangan lainnya.


"Nona Amoora tunggu."Alvaro menarik tangan Amoora.


Amoora menatap tajam Alvaro, dia tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Alvaro sampai dia juga ikut menawar perhiasan itu.


Mendapat tatapan itu Alvaro tidak takut sama sekali, justru dia semakin ingin dekat bahkan memeluk Amoora.


"Apakah tuan Alvaro Fernandez belum puas membuat kakak saya mnegeluarkan uang 8 miliar untuk perhiasan yang hanya seharga 2 miliar itu?"


"Kenapa kau..."


Lexi menepuk bahu Alvaro dan menganggukan kepalanya agar Alvaro melepaskan tangan Amoora.


Alvaro yang mengerti pun melepaskan tangan Amoora yang tadi dia tarik.


Amoora langsung pergi meninggalkan Alvaro dan Lexi dengan langkah lebarnya.


"Lexi, katakan padaku yang sebenarnya."


"Alvaro, perhiasan itu adalah peninggalan ibu kandung Amoora yang Imanuel Steve ambil dan memberikannya pada istri Imanuel Steve yang sekarang tanpa sepengatahuan Amoora dan ibunya sebelum ibunya meninggal. Karena itu setelah dia tahu jika Imanuel Steve akan melelangkan perhiasan itu, Amoora ikut acara pelelangan ini. Tapi kamu malah...."


Alvaro benar-benar tidak tahu jika perhiasan itu sangat berarti bagi Amoora. Awalnya dia akan memberikan perhiasan itu pada Amoora jika dia yang mendapatkannya.


Dengan kekuasaannya, dia yakin tidak akan ada orang lain yang akan menawar selain Amoora dan dirinya. Tapi ternyata dia salah, karena cucu dari Gabriel ternyata ikut menawar sebab dia tertarik pada Alvaro.

__ADS_1


"Hah sudahlah, aku harus mengurusnya dulu."Ucap Lexi.


"Aku yang akan membayarnya."


"Tidak perlu, keluargaku tidak akan jatuh miskin hanya untuk membuat adikku bahagia."


Ucapan Lexi sangat menusuk Alvaro, dia merasa seperti dia tidak bisa membuat Amoora bahagia.


"Tuan Alvaro."Sapa seseorang.


Alvaro menoleh dan melihat Anasya Gabriel ada dibelakangnya.


"Halo tuan Alvaro, kau masih ingat denganku?"


"Maaf saya tidak ingat. Dan satu lagi, jangan memanggilku dengan nama depanku seolah kita sudah akrab."Ucap Alvaro dengan dingin.


Anasya diam, dia tidak menyangka jika akan ada laki-laki yang tidak terpesona oleh kelembutan dna kecantikannya.


"Ah... Ma..maaf saya tidak bermaksud."


Alvaro tidak peduli dengan ucapan Anasya dan berbalik.


"Tuan muda Fernandez."


Anasya meraih lengan Alvaro.


Alvaro menatap Anasya dengan tajam, dia sangat tidak suka jika ada orang lain menyentuhnya. Terlebih itu adalah seorang wanita yang tidak dia kenal.


Anasya yang mendapatkan tatapan itu langsung melepaskan tangannya dari lengan Alvaro.


"Ma..maaf tuan."


"Aku tidak mengenalmu, jadi nona lebih baik kau tidak melakukan hal yang memalukan untuk dirimu sendiri."


"Tapi Amoora, dia..."


"Amoora?"


"Benar, Amoora Alexander. Dia bisa berbicara bersama anda dengan santai dan bahkan anda memberikannya minuman. Apakah aku tidak pantas mendapatkan itu juga dari anda?"


"Siapa kamu? Atas dasar apa kamu membandingkan dirimu dengan dia!"


Suara keras Alvaro membuat orang-orang yang berada disekitar mereka terkejut dan melihat kearah Alvaro dan Anasya.


"Aku...Aku..."


Tangan Anasya tiba-tiba ditarik seseorang dari belakang.


"Maafkan saya tuan muda Fernandez, saya tidak mengajari putri saya dengan baik sehingga membuat anda tidak senang."


Orang yang berkata ternyata ayah dari Anasya Gabriel.


"Katakan pada anak anda agar tidak menilai dirinya terlalu tinggi. Dan jangan pernah mengharapkan hal yang tidak akan pernah dia dapatkan."


"Baik, baik tuan muda Fernandez. Saya mengerti, saya pasti akan mengajari putri saya lebih baik lagi. Sekali lagi maaf."


Alvaro tidak mau lagi berurusan dengan keluarga Gabriel, dia pergi meninggalkan sepasang ayah dan anak itu dengan kesal.


"Bukankah ayah sudah berkata untuk tidak berulah dan berbuat hal yang memalukan?"Seru ayah Anasya.


"Tapi ayah, apa salahnya jika aku juga ingin diperlakukan sama seperti..."


"Diam! Apa belum cukup kamu membuat ayah malu didepan umum seperti ini?"


Anasya menundukkan wajahnya, tapi tangannya mengepal.

__ADS_1


"Ini semua karena Amoora, kalau dia tidak ada. Alvaro pasti akan melihat ku dan mau bersama dengan ku."


__ADS_2