
Hari berikutnya Amoora bersiap membuat perusahaan Imanuel benar-benar hancur.
Kemarin dia mendapatkan perhiasan milik ibunya itu dengan harga 3 miliar yang harusnya dibayar 8 miliar oleh Lexi.
Amoora mengancam Imanuel akan memasukkan dia ke penjara karena mencuri perhiasan milik ibunya yang dia lelangkan, dan itu berhasil membuat Imanuel takut dan akhirnya mau jika perhiasan itu dihargai 3 miliar asalkan dia tidak dipenjara.
Dengan hati-hati Amoora meletakkan dan menyimpan perhiasan peninggalan ibunya didalam lemari besi diruang kerjanya.
Mata Amoora berkaca-kaca karena akhirnya dia mempunyai barang peninggalan ibunya yang selama ini dia cari dirumah keluarga Imanuel.
'tok tok tok'
Amoora membuka pintu ruang kerjanya.
"Ada apa?"
"Bos, bos Lexi memberitahu jika dirumah ada beberapa orang datang membawa barang untuk bos."
"Barang untuk ku?"
"Benar bos."
"Iya aku mengerti."
Anak buah Amoora pergi meninggalkan Amoora.
"Barang apa?"
Amoora masuk kedalam ruang kerjanya lagi dan tidak lama dia kembali keluar lalu mengunci ruang kerjanya.
"Lucas, Albert. Aku akan pulang dulu, sore nanti aku baru kembali."
"Baik bos."Ucap Lucas dan Albert.
Amoora berjalan keluar lalu membuka pintu mobil dan masuk kedalamnya.
Dengan cepat Amoora melajukan mobilnya menjauh dari halaman mansion yang cukup luas.
Hanya dalam waktu kurang dari 1 jam, Amoora sampai didepan rumah keluarga Alexander.
Amoora turun dari mobil dan masuk kedalam rumah.
"Ada apa ini kak?"Tanya Amoora.
Didepan ruang tamu Amoora melihat beberapa orang yang masing-masing membawa perhiasan yang mewah dan dengan desain yang indah.
"Itu adalah orang-orang yang disuruh Alvaro membawa perhiasan untukmu. Dia bilang dia sangat menyesal atas kejadian kemarin karena dia tidak tahu seberapa pentingnya perhiasan yang ada di pelelangan kemarin."
Amoora melihat perhiasan-perhiasan itu.
"Apakah dia pikir aku mau membuka toko perhiasan mewah? Memberikan semua perhiasan ini tanpa memikirkan harganya, sunggu orang kaya yang dermawan."
"Pilih saja salah satu, dan yang lainnya kembalikan."
"Untuk apa memilih, aku sudah punya satu set perhiasan yang aku inginkan. Aku tidak butuh."
"Maaf nona, tolong anda harus menerima perhiasan ini. Jika tidak tuan muda akan marah dan memecat kami semua."Ucap salah seorang yang membawa perhiasan itu.
Amoora diam, dia tidak tahu jalan pikiran Alvaro.
"Apakah semua orang kaya sangat arogan seperti itu?"
"Kau pilih saja agar tidak membuat mereka kesulitan."
Amoora menghela nafas, dia berjalan mendekati perhiasan-perhiasan itu.
__ADS_1
"Baiklah aku pilih yang ketiga ini saja."Ucap Amoora setelah melihat beberapa perhiasan itu.
"Baik nona, kalau begitu untuk barang-barang yang lain kami akan tinggalkan disini untuk anda."Ucap seorang utusan dari Alvaro.
"Apa, masih ada barang-barang yang lain?"
"Benar, semua ada disana nona muda."
Amoora melihat sebuah mobil yang dipenuhi oleh box dan paper bag.
"Dia benar-benar gila."
"Kak Lexi...."
Amoora tidak melihat Lexi disana, ternyata kakaknya sudah pergi saat Amoora memilih perhiasan tadi.
"Kalian akan menerima akibatnya."Gumam Amoora dengan kesal.
"Baik nona, kalau begitu kami akan pergi sekarang. Permisi."
Beberapa orang utusan Alvaro langsung pergi meninggalkan rumah keluarga Alexander karena mereka takut jika Amoora akan berubah pikiran. Tidak lupa mereka meletakkan perhiasan yang Amoora pilih diatas meja.
Beberapa pelayan membawa barang-barang dari mobil kedalam rumah.
"Nona muda, semuanya diletakan dimana?"Tanya kepala pelayan.
"Bawa saja keruang tas dan sepatu ku."
Amoora melihat para pelayan itu membawa kotak dan paper bag masuk kedalam.
"Benar-benar sudah gila."Gerutu Amoora.
Amoora lalu berjalan keruang dimana semua sepatu dan tas dia letakkan.
Sudah banyak tas dan sepatu yang Amoora punya di close in closet, dan sekarang dia mendapatkan banyak tas dan sepatu lagi.
Amoora terkejut saat membuka pintu, dia melihat ada satu rak baru didalam yang sudah terisi dengan tas yang tidak pernah Amoora beli sebelumnya.
...Lemari tas dari kaca yang dibuat oleh Alvaro tanpa sepengatahuan Amoora dan atas seizin Lexi....
Melihat lemari tas baru didalam close in closet miliknya, Amoora mengepalkan tangan.
"Kak Lexi!!"Amoora berteriak sangat keras.
Semua orang yang mendengar teriakan Amoora menjadi takut, karena mereka tidak pernah mendengar Amoora berteriak sebelumnya.
Lexi yang mendengar teriakan Amoora langsung datang menghampiri Amoora didalam close in closet.
"Ada apa?"Tanya Lexi tanpa rasa bersalah.
"Apa ini? Kenapa ada lemari baru yang penuh dengan tas disini?"
"Oh, itu... itu juga dari Alvaro."
"Kakak! Kau dan di sangat menyebalkan. Bawa semua barang-barang itu dari sini. Kembalikan padanya, aku tidak mau."
__ADS_1
"Tapi Amoora.."
Amoora menatap Lexi dengan kesal, dia lalu berjalan keluar tanpa menghiraukan Lexi yang belum selesai bicara.
"Ck, anak ini."
Lexi melihat semua barang-barang yang Alvaro berikan untuk Amoora.
"Kalian bereskan tas yang ada dilemari itu dan juga barang-barang yang baru saja kalian bawa ini. Letakkan semuanya didalan mobilku."Ucap Lexi pada pelayan.
"Baik tuan."
Lexi mengangguk lalu keluar dari ruangan itu.
"Haih, sulit sekali mengerti apa yang anak ini pikirkan."
Lexi berjalan ke kamar Amoora.
'ceklek'
Lexi membuka pintu kamar Amoora dan dia melihat Amoora sedang berdiri diatas balkon kamarnya.
"Sebenarnya kenapa kamu membenci Alvaro?"Tanya Lexi.
Amoora menoleh, dia bersender pada pagar balkon.
"Aku hanya tidak ingin menyulut api lebih besar lagi dan akhirnya membuat hidup ku sulit."
"Apa karena cucu dari tuan Gabriel itu?"
Amoora menggelengkan kepalanya, dia berjalan mendekati kakaknya dan duduk disampingnya.
"Bukan hanya itu, aku juga tidak mau dia terlibat dengan hal-hal yang tidak dia ketahui. Aku tidak mau orang-orang melukai dia di kemudian hari karena aku."
Lexi merangkul bahu Amoora.
"Kalau memang kamu menyukai dia, maka kamu tidak perlu memikirkan hal yang lainnya. Untuk cucu tuan Gabriel, dia tidak akan bisa menyentuh sehelai rambutpun dari tubuhmu. Dan untuk yang lainnya, aku yakin dia bisa menjaga dirinya sendiri."
"Hah entahlah, aku sedang tidak ingin memikirkannya."
"Ayolah Amoora."
"Diam, lebih baik kakak urus semua barang-barang yang Alvaro bawa kesini. Apa dia kira rumah ini adalah tempat penampungan barang-barang?"
Lexi menarik hidung Amoora karena gemas. Dia tahu jika Amoora sebenarnya sudah menyukai Alvaro tapi dia belum yakin dan siap untuk segala resikonya, jadi itu kenapa dia bersikap seperti itu pada Alvaro.
"Kalau kau marah-marah terus seperti ini, wajahmu akan cepat keriputan."
"Kak Lexi!"
"Hahaha baiklah baiklah, kakak tidak menggodamu lagi. Kakak masih ada urusan, dan harus keluar."
"Iya. Oh iya kak, malam ini aku tidur di mansion."
"Hmm?"
"Ya masih ada urusan yang harus aku selesaikan."
"Baiklah, hati-hati."
"Iya, terima kasih kak."
Lexi mengangguk lalu keluar dari kamar Amoora.
Malam ini Amoora akan membuat Imanuel dan Hanna kehilangan semuanya. Dia yakin sekarang ini Hanna sedang marah pada Imanuel karena perhiasan yang dia dapatkan sudah Imanuel lelangkan dan orang yang berhasil mendapatkan perhiasan itu adalah Amoora.
__ADS_1
Jadi untuk lebih bagus lagi, Amoora akan menaburkan bumbu didalam perselisihan Imanuel dan Hanna yang pastinya akan membuat mereka hancur bersama-sama.