The Queen Psycho

The Queen Psycho
42


__ADS_3

Ini adalah hari ke lima setelah Amoora bertemu dengan Imanuel terakhir kali, tapi dia sama sekali belum mendengar keputusan dari Imanuel. Sementara Amoora terus membuat Imanuel kesulitan dalam menghadapi para investor dan pemegang saham.


"Bos, bos Lexi meminta bos untuk pulang kerumah."Ucap Lucas.


"Ada apa?"


"Tidak tahu bos."


"Kenapa dia selalu menghubungi mu jika memintaku untuk pulang, jadi apa gunanya dia punya nomor ponselku!"


Amoora sangat kesal pada kakaknya yang tidak pernah menghubunginya jika memintanya pulang atau melakukan sesuatu.


Lucas diam, dia sendiri juga tidak tahu kenapa Lexi lebih memilih menghubunginya atau Albert jika meminta Amoora untuk pulang kerumah keluarga Alexander.


"Siapkan mobil untuk ku."


"Baik bos."


Amoora berdiri dan berjalan keluar mansion. Dia membuka ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Halo, kenapa?"Ucap orang diseberang sana.


"Jika kakak menghubungi anak buahku lagi hanya untuk meminta ku pulang, lebih baik aku memblokir nomor mu!"


"Kau ini seperti sedang bicara dengan siapa."


"Jika kau tidak percaya maka lakukan saja, apa kakak pikir nomor ku hanya untuk memenuhi daftar kontak di ponsel kakak?"


Amoora langsung memutuskan sambungan telefonnya dengan kesal.


"Bos, mobil sudah siap."Ucap Lucas.


Amoora berjalan kearah mobil, dia masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya dengan cepat.


Dengan kecepatan 120/jam Amoora melewati jalan pegunungan yang sejuk.


Setelah keluar dari jalan utama menuju mansionnya, Amoora melihat ada dua mobil yang mengukutinya dibelakang.


"Ck, dasar para orang-orang bodoh."


Amoora mengoper gigi dan menekan pedal gas, mobil Amoora melesat dengan cepat menyusuri jalanan meninggalkan dua mobil yang mengikutinya.


Walaupun Amoora berhasil menghindar dari dua mobil yang mengikutinya, tapi tidak lama ada sebuah mobil box yang datang dari arah kanannya, dan...


'Braaaaakk!'


Mobil itu langsung menabrak mobil Amoora dengan cukup kencang. Mobil Amoora terseret hampir 10 meter dari jalanan. Bagian depan mobil milik Amoora penyok dan bagian yang lain menghantam sebuah bangunan.


Amoora berusaha keluar dari dalam mobil,tapi tidak bisa karena kakinya terjepit dibawah.


"Aaagh, siapa mereka sebenarnya?"


Amoora melihat mobil box itu pergi menjauh setelah menabrak mobilnya dengan keras.


***


Dirumah keluarga Alexander, Lexi sedang menunggu Amoora yang sampai sekarang belum datang juga.


'ddrrrrrrttttttt ddrrrrrtttt'


Ponsel Lexi bergetar berkali-kali. Lexi melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Ada apa Albert?"


"Bos Lexi, bos... bos..."


"Ada apa, bicara dengan jelas!"


"Bos mengalami kecelakaan waktu akan pulang kerumah."


"Apa!!"


"Mobil bos ditabrak oleh mobil lain ketika dijalan."


"Sekarang dimana dia?"


"Dirumah sakit pusat kota bos."

__ADS_1


"Kau tetap disana, aku kesana sekarang."


"Baik bos."


Lexi langsung bergegas untuk pergi kerumah sakit kota.


Sebelum Lexi masuk kedalam mobil, dia meminta pada anak buahnya untuk menyelidiki siapa orang yang sudah berani membuat adiknya terluka.


Lexi naik kedalam mobil, dan dengan cepat melesat menuju rumah sakit di pusat kota.


Hanya dalam waktu 15 menit Lexi sudah sampai dirumah sakit, dia langsung berlari dan bertanya kepada petugas rumah sakit.


"Bos."


"Bagaimana Amoora?"Tanya Lexi dengan cemas.


"Bos masih berada didalam."


"Kau tahu siapa yang melakukannya?"


"Tidak bos, bos hanya menghubungi ku sebelum dia tidak sadarkan diri."


Lexi menatap pintu ruang UGD yang ada didepannya, dia berharap Amoora tidak terjadi apa-apa. Jika tidak, dia akan membuat pelakunya mati dengan mengenaskan.


30 menit kemudian seorang dokter keluar dari ruang UGD.


"Keluarga pasien?"Tanya dokter.


"Saya kakaknya."


"Kaki kirinya mengalami retak dan harus memakai gips selama dua bulan. Untuk tubuh bagian lain hanya mengalami luka ringan."


"Terima kasih dokter."


"Perawat akan membawanya keruang rawat inap, karena untuk beberapa hari dia harus dirawat."


"Baik dokter, saya mengerti."


Dokter mengangguk lalu kembali masuk kedalam ruang UGD.


Tak lama seorang perawat keluar.


"Keluarga pasien?"


"Silahkan ikut dengan saya untuk melakukan registrasi rawat inap pasien."


"Baik."


Lexi mengikuti perawat itu ke tempat administrasi rumah sakit.


Setelah beberapa saat Lexi kembali dan tidak lama beberapa orang keluar sambil mendorong bangkar yang diatasnya terbaring Amoora dengan kaki dibalut gips yang di perban.


Melihat kondisi adiknya, tangan Lexi mengepal dengan kuat.


Beberapa perawat membawa Amoora menuju ruang rawat inap VIP yang diinginkan oleh Lexi.


Sampai dikamar, dua orang mengangkat tubuh Amoora dan memindahkannya keatas ranjang yang lain.


Salah seorang perawat memeriksa selang infus yang melilit tangan Amoora.


"Baik, jika terjadi sesuatu anda bisa menekan tombol berwarna hijau yang ada disamping ranjang."Ucap perawat itu pada Lexi.


"Iya, terima kasih."Ucap Lexi.


Perawat itu mengangguk sambil tersenyum, kemudian perawat itu keluar bersama dengan perawat yang lainnya.


"Albert, apa kau membawa laptop?"


"Iya bos, ada didalam mobil."


"Kau retas semua cctv yang ada dijalan yang dilewati oleh Amoora tadi. Aku tidak akan membiarkan mereka lolos."


"Baik bos."


Albert segera keluar untuk melakukan tugas yang Lexi berikan.


"Aku tidak akan melepaskan mereka. Setelah aku menangkapnya, kau bisa menghukum mereka dengan baik."

__ADS_1


Lexi meraih dan menggenggam tangan Amoora yang belum sadarkan diri.


***


"Apa kau bilang!"


Alvaro yang baru saja menerima berita tentang Amoora dari sekertarisnya menjadi marah karena telah terjadi hal yang tidak dia duga pada Amoora.


Dengan cepat Alvaro keluar dari ruang kerjanya, dia tidak peduli dengan semua file yang tengah dia teliti disana.


Pikirannya tidak tenang, dia takut terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan pada Amoora. Dia akan sangat menyesal jika harus kehilangan wanita yang begitu berarti baginya.


Dengan cepat Alvaro pergi kerumah sakit dimana Amoora dirawat.


Sampai dirumah sakit, Alvaro menghubungi Lexi untuk bertanya dimana Amoora dirawat.


Setelah tahu, Alvaro berlari mencari lift yang akan membawanya kelantai paling atas rumah sakit itu.


'Brak'


Pintu terbuka dengan cukup keras.


Lexi dan Albert yang ada didalam ruangan terkejut, mereka melihat Alvaro yang baru saja datang dengan nafas terengah-engah.


"Apa kau ingin membuat pintu itu rusak?"Tanya Lexi.


Alvaro tidak peduli dengan pertanyaan Lexi, tatapannya mengunci sosok wanita yang sedang terbaring lemah diatas ranjang.


Dengan pelan Alvaro berjalan mendekati wanita yang terbaring itu, dia melihat kakinya yang dibungkus oleh perban dan ditahan oleh bantal dibawahnya.


"Apa kau sudah tahu siapa yang melakukannya?" Tanya Alvaro tanpa memalingkan pandangannya dari Amoora.


"Coba tebak, siapa yang belakangan ini menginginkan dirimu?"


Alvaro menoleh dengan bingung, dia tidak mengerti apa yang Lexi katakan.


"Maksud mu ini berhubungan dengan orang yang menyukai ku?"


"Lalu?"


"Katakan saja siapa dia?"


Lexi menatap Alvaro.


"Lexi.."


"Anasya Gabriel, cucu perempuan dari keluarga Gabriel."


Mata Alvaro membulat, dia tidak menyangka jika wanita yang sudah membuatnya kesal beberapa hari yang lalu adalah orang yang sudah membuat wanitanya terluka.


(Wait, sejak kapan Amoora itu wanitamu??)


"Sepertinya peringatan dariku tidak membuat mereka jera."


"Mereka?"


"Siapa lagi jika bukan keluarga Gabriel."


"Sepertinya keluarga itu tidak tahu jika satu-satunya cucu perempuannya melakukan hal ini."


"Jika begitu, harus membuatnya tidak lagi diingat oleh keluarga Gabriel."


Mendengar itu, Alvaro mempunyai sebuah ide yang akan membuat Anasya merasa sangat menyesal dan merasa lebih baik mati dari pada hidup dengan hinaan.


"Kau pulanglah, biar aku yang menunggunya disini."


"Apa kau sedang bermimpi?"


"Lexi..."


"Ini semua terjadi karena wanita yang menyukaimu, dan kau ingin hanya berdua saja dengan Amoora?"


"Lexi, kondisi Amoora saat ini sedang tidak baik. Jadi untuk saat ini..."


"Tidak, lebih baik kau pergi untuk mengurus mereka. Aku akan menjaganya disini."


Lexi yang tidak mempunyai alasan lain akhirnya harus rela pergi dari sisi Amoora saat itu.

__ADS_1


Didalam ruang rawat, Lexi masih melihat rekaman cctv dimana Amoora ditabrak oleh mobil box yang diperintahkan oleh Anasya Gabriel.


Tangannya mengepal dan rahangnya mengeras, Lexi bersumpah pada dirinya sendiri jika dia akan membuat perhitungan yang tidak akan bisa dihadapi oleh keluarga Gabriel, jika mereka melindungi wanita jahat itu darinya.


__ADS_2