
Amoora terbangun dari tidurnya karena merasa tubuhnya sedang ditimbun benda berat.
Ketika Amoora membuka matanya, dia terkejut melihat Alice sedang memeluk tubuhnya dengan erat.
Amoora mencubit pipi chubby Alice yang masih memejamkan mata itu.
"Alice bangun, sejak kapan kau dikamar kakak?"
Alice tidak menanggapi perkataan Amoora, dia malah memper-erat pelukannya seperti sedang memeluk sebuah guling yang besar.
Amoora yang merasa sesak mulai menggelitiki tubuh Alice.
"Aaa.... Hahahaha ampun kak Amoora, hahaha hahaha ampuuuuunnn geli."
Amoora terus menggelitiki Alice sampai akhirnya Alice duduk dari tidurnya.
"Oh astaga kak Amoora, kakak benar-benar ingin membuatku mati karena geli."
"Omong kosong, mana ada mati karena geli."
"Ada."
"Sudahlah, sekarang kakak tanya. Sejak kapan kamu ada dikamar kakak?"
"Emmm.... Sejak pagi tadi."
Amoora melihat jam diatas nakas, jam menunjukkan pukul 8 pagi.
"Ayo bangun, hari ini kak Lexi akan membawa kita jalan-jalan sebelum aku kembali ke asrama besok."
"Iya, iya. Kau keluar dulu kakak mau mandi dan bersiap-siap."
"Oke, ingat tidak boleh lama-lama."
"Iya Alice yang cantik."
Alice tersenyum lebar mendengar pujian dari Amoora.
Alice keluar dari kamar Amoora dan berjalan menuju kamarnya sendiri untuk bersiap-siap seperti Amoora.
"Dasar anak ini."
Amoora bangun lalu berjalan ke kamar mandi.
Sementara diruang makan, Lexi sudah duduk dan menikmati kopi paginya bersama dengan beberapa anak buah Amoora yang sedang sarapan.
Mereka sudah terbiasa dengan kedatangan Lexi juga Alice, dan Lexi pun bersikap seperti biasa kepada anak buah Amoora seperti kepada anak buahnya sendiri, sehingga mereka tidak mendapatkan tekanan dari Lexi, meski mereka tahu siapa Lexi.
"Lucas."
"Iya bos?"
"Besok kau bawa beberapa orang ke tempatku."
"Untuk apa bos?"
"Aku sudah bilang pada Amoora akan mengajari kalian cara bersembunyi dari para musuh didalam hutan, dan juga bagaimana cara bertahan hidup dihutan."
"Oh, baik bos."
Ya, anak buah Amoora juga memanggil bos pada Lexi. Itu karena Lexi adalah kakak Amoora, jadi sebagai anak buah Amoora mereka juga harus memanggil Lexi dengan panggilan bos. Walaupun Lexi atau Amoora tidak pernah meminta mereka memanggil seperti itu.
"Selamat pagi kak Lexi."Ucap Alice dengan semangat.
"Pagi Alice. Dimana Amoora?"
__ADS_1
"Kak Amoora belum turun?"
"Belum."
"Aku kira dia sudah turun lebih dulu."
"Sudah nanti dia juga..."
"Pagi semua."Sapa Amoora.
"Pagi."
"Aku kira kakak sudah turun dari tadi."
"Tadi ada urusan sedikit dikamar, jadi baru turun."
"Sudah, ayo kalian sarapan. Kalau ngobrol terus kita akan kesiangan nanti."
"Iya kak."Ucap Alice.
Mereka lalu menikmati sarapan mereka bersama dengan tenang.
"Memang hari ini kita akan kemana kak?"Tanya Amoora setelah selesai sarapan.
"Ke Aquarium."
"Aquarium?"
"Iya kak, aku ingin kesana sebelum kembali ke asrama."Ucap Alice.
Amoora mengangguk.
"Tapi bukankah aquarium sedang ada perbaikan?"
"Itukan yang ada di pusat kota, hari ini kita akan pergi ke aquarium yang ada di kota M."
"Baik, kalian sudah selesai bukan? Ayo kita berangkat sekarang."Ucap Lexi.
Amoora dan Alice mengangguk.
Lexi berdiri dan berjalan ke pintu utama mansion diikuti oleh kedua adiknya dibelakang.
"Kita hanya akan pergi bertiga?"Tanya Amoora.
"Iya."
Kali ini Lexi sendiri yang akan membawa mobilnya, sementara Amoora duduk di kursi depan dengan Lexi, Alice duduk sendirian di kursi belakang.
Hari ini Lexi sengaja mengajak kedua adiknya berlibur ke aquarium karena dia ingin mengalihkan perhatian Amoora dari urusannya dengan keluarga Steve.
Lexi tahu Amoora sudah banyak membuat rencana dan semua berjalan dengan baik, tapi dia tidak mau Amoora terus bermandikan rasa dendam pada keluarga itu, sehingga lupa bagaimana dirinya yang sesungguhnya.
Selain itu Lexi juga meminta orang kepercayaannya untuk terus memantau keadaan keluarga Steve. Lexi yakin setelah semuanya, keluarga Steve akan mencari cara lain untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar.
Saat ini Bella sudah Imanuel korbankan, dan tidak mungkin jika dia tidak akan bertindak pada Amoora. Walau Imanuel tahu sekarang Amoora bukan lagi anggota keluarganya dan sudah menjadi anggota keluarga Alexander.
Lexi adalah ketua mafia yang terkenal dengan tangan dinginnya yang tidak akan segan membunuh siapa saja yang menyentuh orang-orang nya, tidak terkecuali dengan Imanuel.
"Kak Lexi, aku dengar kakak akan keluar negri. Apa aku bisa ikut?"Tanya Alice.
"Luar negri?"Tanya Amoora heran.
"Kakak keluar negri untuk bekerja bukan untuk liburan."
"Tapi aku ingin ikut."
__ADS_1
"Kamu sedang sekolah Alice. Begini saja, liburan yang akan datang kita kan liburan keluar negri, kamu mau kemana kakak ikuti."
"Kakak serius?"Tanya Alice dengan antusias.
"Iya."
"Oke deal. Kak Amoora, kakak jadi saksinya ya."
"Iya."
Alice sangat bahagia Lexi menjanjikan hal itu, itu karena selama ini dia hanya keliling didalam negri saja saat liburan. Itupun harus bersama anak buah Lexi.
**
Dirumah besar keluarga Steve, hampir semua barang-barang yang ada didalam kamar Bella hancur karena dilempar dan dibanting oleh Bella.
Hampir setiap hari juga Bella berteriak sambil menangis, dia benar-benar merasa marah dan kecewa pada kedua orang tuanya. Bahkan Jack laki-laki yang menyukai Bella dan selalu menemani hari-hari Bella tidak bisa membujuk Bella untuk membuka pintu kamarnya.
Imanuel dan Hanna tidak mengatakan apa yang terjadi dengan Bella pada Jack. Itu karena mereka tidak mau Jack menghindari Bella.
Selama ini Bella mendapatkan barang-barang mewah dari Jack, jika saat ini Jack tahu kalau Bella sudah tidak perawan lagi, Jack pasti meninggalkan Bella. Imanuel dan Hanna yang ikut menikmati barang-barang pemberian Jack tidak mau itu terjadi.
Selama ini Bella selalu mengira jika kedua orang tuanya menyukai hubungan dia dan Jack karena Jack benar-benar bisa membuatnya senang, tapi setelah dia dijadikan pion dan dilemparkan pada laki-laki lain, Bella jadi mengerti siapa dirinya bagi kedua orang tuanya.
"Bella, buka pintunya sayang. Ayo aku bawa kamu jalan-jalan."Ucap Jack mencoba membujuk Bella.
"Pergi, aku tidak butuh!"
"Bella, honey jangan seperti ini. Kalau kamu ada masalah bilang sama aku."
"Aku bilang pergi!! Dan jangan pernah kesini lagi!"Teriak Bella.
"Bella...."
'Praaaaaaaang!'
Jack dan Hanna yang ada diluar pintu kamar Bella terkejut mendengar suara benda yang mungkin dibanting oleh Bella didalam kamar.
Hanna khawatir pada Bella, karena setelah hari dimana Imanuel menjemput Bella dari hotel, Bella sudah seperti ini dan sama sekali tidak mau keluar kamar.
"Jack, mungkin kamu kembali lagi nanti. Tante akan mencoba membujuk Bella lagi."Ucap Hanna.
Jack mengangguk "Baik kalau begitu tante, jika Bella sudah mau keluar dari kamar. Tante tolong hubungi saya."
"Iya tentu."
Jack menatap pintu kamar Bella dengan lekat sebelum dia pergi meninggalkan rumah keluarga Steve.
"Bella, ayo keluar. Kamu sudah beberapa hari tidak makan."
"Pergi! Aku tidak butuh perhatian mama atau papa!! Kalian sangat kejam, aku benci kalian!"Teriak Bella dari dalam kamar.
Hanna tertegun mendengar penolakan Bella.
"Bella, sayang. Semua ini demi keluarga kita sayang. Mama sama papa tidak punya pilihan lain. Perusahaan papa akan hancur dan kita akan hidup sengsara jika papamu tidak melakukannya."
Hanna tidak mendengar suara dari dalam kamar, dia mulai mengetuk pintu kamar Bella.
"Bella, buka pintunya sayang."
'Buuuuuuugh!'
Suara dentuman benda tumpul mengenai pintu kamar dan itu membuat Hanna sangat terkejut. Mungkin jika tidak ada pintu, kepala dialah yang akan kena benda yang Bella lemparkan itu.
Hanna mengepalkan tangannya, dia sudah tidak tahan menghadapi Bella. Sudah beberapa hari ini Bella selalu melemparkan barang-barang kearah pintu seolah melemparkan benda itu padanya.
__ADS_1
Dengan menahan emosi Hanna pergi meninggalkan kamar Bella, membiarkan Bella terus berteriak dan membanting barang-barang yang ada didalam kamarnya.